Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf

Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf 

Istilah tasawuf dimasa Nabi SAW tidak ada, demikian pula dimasa para sahabat Nabi SAW dan tabi’in belum ada istilah itu.

Istilah tasawuf itu muncul setelah banyaknya buku-buku pengetahuan yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Dan sebenarnya istilah ini berasal dari kata Sufia (Sophia), dalam istilah bahasa Arab berarti kelompok ahli ibadat untuk menyatukan batinnya hanya kepada Allah semata, sebab tujuan semata untuk mengadakan hubungan dengan yang Maha Benar. (Haqiqatul Haqaiq). 

Dalam masalah ini belum ada seorang pun pengkaji masalah tasawuf yang sampai dalam batasan ilmiah untuk mengetahui tokoh sufi pertama dalam Islam dan siapa yang meletakkan batu pertama bagi pemikiran tasawuf ini.

Tasawuf merupakan sebuah konsep yang tumbuh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, baik dalam segi wacana, perilaku, maupun akidah. 

Tasawuf terjadi pada setiap umat dan agama-agama, khususnya Brahmana Hinduisme, filsafat Iluminasi Yunani, Majusi Persia, dan Nasrani Awal. 

Lalu pemikiran itu menyelinap ke dalam pemikiran Islam melalui zindik Majusi. Kemudian menemukan jalannya dalam realitas umat Islam dan berkembang hingga mencapai tujuan akhirnya, disusun kitab-kitab referensinya, dan telah diletakkan dasar - dasar dan kaidah-kaidahnya pada abad ke-empat dan kelima Hijriyah.

Beberapa faham dan ajaran yang menurut teorinya mempengaruhi munculnya sufisme di kalangan umat Islam, apakah teori ini benar atau salah susah untuk dibuktikan. 

Walaupun begitu, tanpa pengaruh dari luar pun sufisme bisa timbul dalam Islam.

Perlu diketahui, menurut pendapat lain tasawuf itu mulai berkembang sekitar akhir abad ke-2 Hijriyah/ke-8 Masehi.

Tasawuf sebagai sebuah ilmu pengetahuan baru muncul setelah masa sahabat dan tabi’in. 

Nabi SAW dan para sahabat pada hakikatnya sudah sufi. Mereka mempraktekkan selalu terhadap hal-hal yang tidak pernah mengagungkan kehidupan dunia, tapi juga tidak meremehkannya.

Pada masa Rasulullah SAW Islam tidak mengenal aliran tasawuf, demikian juga pada masa sahabat dan tabi’in. 

Kemudian datang setelah masa tabi’in suatu kaum yang mengaku zuhud yang berpakaian shuf (pakaian dari bulu domba), maka karena pakaian inilah mereka mendapat julukan sebagai nama bagi mereka yaitu sufi dengan nama tarekatnya tasawuf. 

Ilmu Tasawuf datang belakangan sebagaimana ilmu yang lain. 

Di masa awalnya, embrio tasawuf ada dalam bentuk perilaku tertentu. 

Ketika kekuasaan Islam makin meluas dan terjadi perubahan sejarah yang fenomenal paska Nabi dan sahabat, ketika itu pula kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi ruhani. 

Budaya hedonisme pun menjadi fenomena umum. Saat itulah timbul gerakan tasawuf sekitar abad ke-2 Hijriyah. 

Gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan tentang hakikat hidup. Menurut pengarang Kasyf al-Dzunnun, orang yang pertama kali diberi julukan al-sufi adalah Abu Hasyim al-sufi (wafat 150 H).

Dalam sejarahnya, bahwa dakwah Nabi di Makkah tidaklah semulus yang diharapkan. Kemudian Nabi melakukan tahannus di gua Hiro sebelum turunnya wahyu pertama. 

Kegiatan ini dalam rangka menenangkan jiwa, menyucikan diri. Dalam proses ini Rasulullah melakukan riyadhah dengan bekal makanan secukupnya, pakaian sederhana yang jauh dari kemewahan dunia. 

Dengan demikian setelah menjalani proses-proses tersebut jiwa Rasulullah SAW telah mencapai tingkatan spiritual tertentu sehingga benar-benar siap menerima wahyu melalui Malaikat Jibril.

Dengan memperhatikan praktek-praktek Nabi SAW di atas menunjukkan Islam merupakan agama yang memiliki akar tradisi spiritual yang tinggi. 

Pada prinsipnya perkembangan tasawuf itu ada tiga tahapan.

Pertama periode pembentukan dengan menonjolkan gerakan-gerakan zuhud sebagai fenomena sosial. 

Periode ini berlangsung selama abad pertama dan kedua hijriyah yang dipelopori oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’i tabi’in. 

Pada masa ini fenomena yang terjadi adalah semangat untuk beribadah dengan prinsip-prinsip yang telah diajarkan oleh Nabi SAW, untuk kemudian mereka  mencoba menjalani hidup zuhud. 

Tokoh-tokoh sufi pada periode ini adalah Hasan Bashri (110 H.) dengan konsep khouf dan Robi’ah al-Adawiyah (185 H.) dengan konsep cinta (al-Hubb).

Kedua, memasuki abad ketiga dan ke-empat hijriyah tasawuf kembali menjalani babak baru. 

Pada abad ini tema-tema yang diangkat para sufi lebih mendalam. 

Berawal dari perbincangan seputar akhlak dan budi pekerti, mereka mulai ramai membahas tentang hakikat Tuhan, esensi manusia serta hubungan antar keduanya. 

Dalam hal ini kemudian muncul tema-tema seperti ma’rifat, fana’, dzauk, dan lain sebagainya.

Tasawuf mulai berkembang dan menjadi suatu disiplin ilmu yang berbeda dengan fikih, tafsir, hadits, dan kalam.

Para tokoh pada masa ini diantaranya Imam al-Qusyairi, Suhrawardi al-Baghdadi, Al-Hallaj, dan Imam Ghazali. 

Ketiga, abad ke-enam dan ketujuh tasawuf kembali menemukan suatu bentuk pengalaman baru. 

Persentuhan tasawuf dengan filsafat berhasil mencetak tasawuf  menjadi lebih filosofis yang kemudian dikenal dengan istilah teosofi. 

Dari sinilah kemudian muncul dua varian tasawuf, Sunni dengan coraknya amali dan Falsafi dengan corak iluminatifnya. 

Adapun tokoh-tokoh teosofi abad ini adalah Surahwardi al-Maqtul (549 H.), Ibnu ’Arabi (638 H.), dan Ibnu Faridh (632 H.)

Jika dilacak secara cermat maka praktek-praktek zuhud yang berkembang di dua abad pertama tersebut adalah hal yang lumrah dan dapat ditemukan pembenarnya.

Meski secara tersurat istilah zuhud tidak terdapat dalam Al-Qur’an (kecuali satu tempat, itupun bukan dalam konteks tasawuf). Namun banyak sekali ayat-ayat yang secara tersirat mengindikasikan hal itu.

Dalam pandangan Islam, zuhud bukanlah upaya untuk memusuhi dunia materi dan harta. Zuhud dalam Islam tidak seperti istilah kependetaan dalam Yahudi dan Kristen. Zuhud bukanlah ’uzlah yang dalam artian menjauh dari hiruk pikuk bumi dan berada dalam kesendirian serta tidak menghiraukan kehidupan sosial.

Melihat pada praktek zuhud yang terjadi pada dua abad pertama, orisinalitas konsep itu benar-benar dapat dirasakan. 

Seperti sahabat Usman bin ’Affan dan Abdurrahman bin ’Auf adalah sebagai teladannya. 

Dengan kekayaan, kedudukan dan kemewahan yang dimilikinya mereka tetap dianggap sebagai zahid dalam pengertian yang sebenarnya menurut Islam. 

Dalam hal ini, Islam benar-benar memiliki konsep zuhud yang murni, tanpa harus dicurigai bahwa konsep zuhud terdapat penyusupan - penyusupan pengaruh dari luar Islam.

Pertumbuhannya tasawuf terus berkembang seiring dengan meluasnya wilayah Islam yang sebelumnya mungkin sudah mempunyai pemikiran-pemikiran mistik, seperti pengaruh filsafat Yunani, Persi, India, atau pun yang lainnya. 

Dalam perkembangannya, ajaran kaum sufi dapat dibedakan dalam beberapa periode, yaitu:

Pertama, perkembangan tasawuf pada abad pertama dan kedua Hijriyah. 

Masa ini menyangkut perkembangan tasawuf pada dekade sahabat yang dipelopori oleh Abu Bakar Shiddiq (w. 13 H.), Umar bin Khaththab (w. 23 H.), Usman bin ’Affan (w.35 H.), Ali bin Abi Thalib (w. 40 H.), Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, Ammar bin Yasir, Huzaidah bin al-Yaman, dan Miqdad bin Aswad. 

Dalam dekade ini juga termasuk pada masa tabi’in; tokoh-tokohnya adalah Hasan Bashri (22– 110 H.), Rabi’ah al-Adawiyah (96– 185 H.), Sufyan ats-Tsauri (97– 161 H.), Daud ath-Thaiy (w. 165 H.), dan Syaqiq al-Bulkhi (w. 194 H.).

Tasawuf yang berkembang pada abad ini pengamalannya mencontoh kehidupan Rasulullah SAW. 

Hidup mencerminkan kesederhanaan, banyak berdzikir, syukur, shalat tahajjud, sabar, ridha, qana’ah, dan zuhud. 

Hidup dengan lebih banyak beramal untuk hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan akhirat, sehingga tasawuf yang muncul pada abad ini disebut fase asketisme (zuhud). 

Lihat Amsal Bakhtiar,Tasawuf dan Gerakan Tarekat, Bandung: Angkasa, 2003), cet. I, h. 9.

Kedua, perkembangan tasawuf pada abad ketiga dan ke-empat Hijriyah. 

Tokoh-tokoh yang terkenal pada abad ketiga adalah Abu Sulaiman ad-Darani (w. 215 H.), Ahmad bin al-Hawary ad-Damasyqi (w. 230 H.), Dzun al-Mishri (155– 245 H.), Abu Yazid al-Butamy (w. 261 H.), Junaid al-Baghdadi (w. 298 H.), dan Al-Hallaj (lahir 244 H.). 

Sedangkan pada abad ke-empat Hijriyah para pengembangnya adalah Musa al-Anshari (w. 320 H.), Abu Hamid bin Muhammad ar-Rubazy (w. 322 H.), Abu Zaid al-Adami (w. 314 H.), dan Abu Ali Muhammad bin Abdil Wahhab as-Saqafi (w. 328 H.). 

Ketiga, perkembangan tasawuf abad kelima Hijriyah ditandai dengan sosok Imam Ghazali yang mengkompromikan para ulama Fiqih dengan ajaran tasawuf yang berpaham syi’ah.

Imam Malik menyatakan bahwa, barang siapa bertasawuf tanpa mempelajari Fiqih sungguh ia berlaku zindik (lahirnya iman, batinnya tidak); dan barang siapa berFiqih dengan tidak bertasawuf, maka ia dapat menjadi Fasiq (bermaksiat); dan barang siapa yang mengamalkan keduanya, itulah yang ahli hakikat. 

Lihat Ahmad bin Muhammad bin Ujaibah al-Hasani,Iqadz al-Himam fi Syarh al-Hikam, (Beirut: Dar al-Fikr, tt.), h. 6-7.

Ke-empat, perkembangan tasawuf pada abad ke-enam, ketujuh, dan kedelapan Hijriyah. 

Pada abad ke-enam Hijriyah sufi yang terkenal adalah Suhrawardi al-Maqtul (w. 587 H.),  dan Al-Ghaznawi (w. 545 H.). 

Pada abad ketujuh yang berpengaruh adaalah Unzar Ibnul Faridh (576– 632 H.), Ibnu Sab’in (613– 667 H.), dan Jalaluddin ar-Rumi (604– 672 H.). 

Pada abad kedelapan Hijriyah yang muncul adalah pengarang kitab Tasawuf, yaitu Al-Kisany (w. 739 H.), dan Abdul Karim al-Jily dengan karyanya Al-Insan al-Kamil. 

Kelima, perkembangan tasawuf pada abad kesembilan dan kesepuluh Hijriyah serta masa berikutnya. 

Pada abad kesembilan dan kesepuluh Hijriyah nasibnya kurang menguntungkan karena dianggap sudah kehilangan kepercayaan masyarakat (penyimpangan ajaran Islam). 

Namun ajaran tasawuf tidak hilang begitu saja. Ini terbukti masih adanya ahli tasawuf yang memunculkan ajarannya dengan mengarang kitab dan mendirikan tarekat yang berisikan ajaran-ajaran tasawuf, antara lain :

1. Abdul Wahhab asy-Sya’rani (898– 973 H.). Karyanya  berjudul Al Lathaa-iful Minan (Ketulusan Hati). 

2. Abul  Abbas Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar at-Tijani (1150-1230 H.). Ia mendirikan tarekat Tijaniyah. 

3. Sidi Muhammad bin Ali as-Sanusy (lahir 1206 H.). beliau adalah pendiri tarekat Sanusiyah. 

4. Syeikh Muhammad Amin al-Kurdi (w. 1322 H.) seorang penulis kitab Tanwirul Qulub fi Mu’amalah ’Allamil Ghuyub dan termasuk pengikut tarekat Naqsabandiyah.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Hikmah Perjalanan Tahap Kedua Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as.

Hikmah Perjalanan Tahap Kedua Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as. Perjalanan tahap kedua adalah usaha seorang murid untuk membangun komitmen (mubaya‘ah) kepada guru mursyidnya .  Seorang murid harus mampu melaksanakan apa-apa yang sudah disepakati dengan guru mursyidnya , itu sebagai hal yang wajib dikerjakan berkaitan dengan janji ( bai‘at ) yang sudah dilaksanakan.  Pelaksanaan bai‘at seperti itu juga dilaksanakan Rasulullah saw. terhadap para sahabat sebagai janji setia untuk bersedia mengikuti beliau:  "Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar'. (QS. al-Fath : 10). Janji seorang murid di hadapan guru mursyidnya hanyalah pelaksanaan syari‘at secara lahir sedangkan secara hak...

Memahami Konsep Fana dan Baqa Dalam Ilmu Tasawuf

Fana dan Baqa Fana dan Baqa . Dalam kajian tasawuf antara fana dan baqa tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan baqa merupakan sisi lain yang terikat dari fana. Bahkan dalam Sayyid Mahmud Abul Faidh al-Manufi al Husaini menggabungkan tema kajian fana dan baqa (pada satu judul) dalam karyanya Jamharotul Awliya.  Fana diambil dari kata faniya (fana)-yafna-fana ’, secara bahasa berarti menjadi lenyap, hilang, dan tak kekal. Dalam sumber lain berasal dari kata fana-yafni- fana ’ yang mengandung makna hilang hancur. Sedangkan baqa berasal dari kata baqiya-yabqa- baqa ’ yang berarti dawam atau terus menerus, tidak lenyap dan tidak hancur. Fana dalam istilah Ilmu Tasawuf  adalah suatu tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi menjelang ke tingkat ittihad , yakni hilangnya kesadaran tentang dirinya dari seluruh makhluk dan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta yang ada hanya Allah SWT.  Dengan perkataan lain suatu keadaan mental hubungan manusia dan alam...

Tentang Insan Kamil

Insan Kamil Insan Kamil . Insan Kamil berasal dari gabungan dua kata bahasa Arab, insan dan kamil . Insan berarti manusia, kamil berarti sempurna. Jadi secara bahasa insan kamil mengandung makna manusia sempurna ( Perfect Man ), yakni manusia yang dekat (qarib dengan Allah) dan terbina potensi ruhaniahnya sehingga dapat berfungsi secara optimal.  Inilah manusia seutuhnya yang mempunyai ketinggian derajat di hadapan Tuhannya, sehingga mencapai tingkat kesempurnaan tauhid dan akhlak mulia.  Manusia sempurna ( insan kamil ) menurut Abdul Karim al-Jilli (wafat 1428 M.) sebagaimana dikutip oleh A. Mustofa, adalah manusia cerminan Tuhan atau manusia kopi Tuhan.  Dengan kata lain manusia yang sudah mengenal eksistensi dirinya sendiri dan memiliki sifat-sifat yang mulia. Secara umum dalam ajaran tasawuf yang dimaksud insan kamil adalah manusia yang telah memiliki dalam dirinya Nur Muhammad yang disebut dengan Al-Haqiqatul Muhammadiyyah .  Dalam pandangan Ibnu ’Arabi ...

Inilah 7 Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang

Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang Menurut Murtadha Muthahhari, ada jenis akhlak yang didasarkan pada ego.Ini merupakan jenis akhlak yang dipengaruhi hawa nafsu.  Pandangan akhlak seperti ini diantaranya dikemukakan oleh Nitsche. Akhlak komunis pun demikian adanya. Yang ideal adalah akhlak yang timbul dari nilai-nilai Ilahiyah dengan kesadaran pribadi mengarah pada ilham taqwa.  Apabila ditinjau dari segi akhlak kejiwaan, seseorang bertindak dan berbuat atas dasar pokok-pokok berikut ini:  1. Insting (gharizah/naluri).  Insting merupakan seperangkat tabi’at yang dibawa manusia sejak lahir.  Para psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku, misalkan naluri makan, senang dengan lawan jenis (seksual instinct), naluri keibubapakan (cinta orang tua kepada anaknya dan sebaliknya), kesadaran dalam ber-Tuhan, dan naluri mempertahankan diri (berjuangan/combative instinct).  2. Adat kebiasaan....

Ilmu Laduni Adalah Buah Cinta Yang Hakiki

Ilmu Laduni Adalah Buah Cinta Yang Hakiki  Firman Allah Ta‘ala:  "Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur'an, Dia menciptakan manusia* Mengajarinya Al-Bayan ". (QS. ar-Rahman : 1-4).  Untuk menafsirkan ayat-ayat di atas ( surat ar Rahman : 1-4 ), marilah kita menggunakan bahasa secara tafsiriyah , yakni cara menafsirkan ayat-ayat al-Qur‘an yang banyak digunakan oleh para Ulama ahli tafsir terdahulu.   Surat ini dibuka dengan lafad " Ar-Rahman ". Artinya : Tuhan yang Maha Pemurah.  Ar-Rahman adalah salah satu nama Allah SWT. dari nama-Nya yang sembilan puluh sembilan.  Nama tersebut adalah satu-satunya nama yang tidak diberikan juga kepada siapapun dari makhluk-Nya.  Tidak seperti nama-nama-Nya yang lain, Ar-Rahim misalnya, ar-Rahim adalah nama-Nya yang juga diberikan-Nya sebagai nama Rasulullah SAW. Allah menyatakan hal itu dengan firman-Nya :  "Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu‘min ". (QS. at-Taubah ...

Ilmu Akhlak pada Agama Islam

Ilmu Akhlak pada Agama Islam Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah - perintah Allah dan larangan - larangan-Nya.  Akhlak harus ada serta nampak pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.  Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.  Semua ini terkandung dalam ajaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.  Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Tokoh-tokoh ini tidak lain adalah Nabi - nabi yang tercatat dan diabadikan dalam kitab suciAl-Qur’an.  1. Nabi Ibrahim AS Nabi Ibrahim AS mempunyai sebutan sebagai Ayahnya semua nabi dan rasul, yang membawa dan menyebarkan ajaran tauhid kepada umat manusia. Ia adalah orang yang berani menanggung resiko dalam m...

Dasar-dasar Akhlak Islami

Dasar-dasar Akhlak Islami Eksistensi manusia sebagai makhluk, tentu harus berhadapan pula dengan realitas lain yaitu Sang Khalik (yang menciptakan manusia).  Dasar-dasar Akhlak Islami Memahami manusia dari apa yang dihasilkannya membawa konsekuensi untuk memahami struktur kehidupannya dalam suatu sistem kebudayaan, sebagai suatu usaha memahami seluruh kegiatan manusia dalam kesatuan yang organis. Mustafa Zahri menukil pendapat Imam Ghazali bahwa tujuan perbaikan akhlak itu ialah dalam rangka membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima Nur Cahaya Tuhan.  Urgensi akhlakul karimah merupakan hal yang sangat berguna dalam mengarahkan dan mewarnai berbagai aktivitas kehidupan manusia di segala bidang.  Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju disertai dengan akhlak yang mulia, niscaya ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang dimilikinya itu akan dimanfaatkan sebaik...

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli Untuk menyingkap tabir yang membatasi diri dengan Tuhan, ada sistem yang dapat digunakan untuk riyadhah al-nafsiyah.  Karakteristik ini tersusun dalam  tiga tingkat yang dinamakan takhalli , tahalli , dan tajalli .  Takhalli ialah membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela, kotor hati, maksiat lahir dan maksiat batin.  Pembersihan ini dalam rangka, melepaskan diri dari perangai yang tidak baik, yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama.  Sifat-sifat tercela ini merupakan pengganggu dan penghalang utama manusia dalam berhubungan dengan Allah. Tahalli merupakan pengisian diri dengan sifat-sifat terpuji, menyinari hati dengan taat lahir dan batin.  Hati yang demikian ini dapat menerima pancaran Nurullah dengan mudah.  Oleh karenanya segala perbuatan dan tindakannya selalu berdasarkan dengan niat yang ikhlas (suci dari riya). Dan amal ibadahnya itu tidak lain kecuali mencari ridha Allah SWT.  Untuk itulah man...

Ilmu Laduni Sebagai Buah Takwa

Ilmu Laduni Sebagai Buah Takwa Allah berfirman:  "Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarimu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS. al-Baqoroh (2); 282)  Kehati-hatian ( al-ihtiyat ) seorang hamba dalam berbuat, menentukan sikap dan memilih jalan hidup yang harus ditempuh, di hadapan Dzat yang ditakuti "yang diyakini setiap saat dapat melihat dan mengetahui dirinya dimanapun berada" serta pengharapannya untuk mendapatkan petunjuk dan hidayah dari-Nya, hal tersebut akan menjadi sumber inspirasi dan ilham yang tiada henti, namun itu manakala ketakutan tersebut hanya disandarkan kepada yang memberi kehidupan, hanya kepada Allah Sang Pemberi Nur kehidupan alam.  Hal tersebut bisa terjadi, karena interaksi dua dzikir telah terkondisikan, sebagai sunnah dan pelaksanaan janji yang tidak teringkari.  "Maka ingatlah kamu kepadaKu, niscaya Aku ingat pula kepadamu ". (QS. 2; 152) Interaksi dua nur walau dipancarkan dari dua sisi yang berbeda,...

Rahmat Sebelum Ilmu ( Sebab Pertama)

Rahmat Sebelum Ilmu ( Sebab Pertama) Ilmu Laduni akan diberikan Allah SWT. hanya kepada seorang hamba yang dikehendaki dan dicintai-Nya. Yaitu seorang hamba pilihan, yang sejak zaman azali telah terpilih untuk menjadi orang pilihan-Nya, itu sebagaimana gambaran yang dipersaksikan oleh sebuah ayat dari firman-Nya:  "Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan (yang terdahulu) yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka".  QS. al-Anbiya : 101.   Oleh karena orang tersebut sejak zaman azali sudah ditetapkan menjadi orang baik, maka sejak dilahirkan di dunia sampai dengan matinya mereka akan dijauhkan dari api neraka.  Mereka dijauhkan dari sebab-sebab yang dapat menyebabkan masuk neraka, baik ilmu , amal maupun karakter .  Oleh karena aspek ilmu pengetahuan adalah bagian terpenting "yang akan menjadikan manusia menjadi baik atau jelek " maka aspek ilmu inilah yang paling mendapatkan penjagaan dan pemeliharaan dari Allah Ta‘ala....