Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf

Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf 

Istilah tasawuf dimasa Nabi SAW tidak ada, demikian pula dimasa para sahabat Nabi SAW dan tabi’in belum ada istilah itu.

Istilah tasawuf itu muncul setelah banyaknya buku-buku pengetahuan yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Dan sebenarnya istilah ini berasal dari kata Sufia (Sophia), dalam istilah bahasa Arab berarti kelompok ahli ibadat untuk menyatukan batinnya hanya kepada Allah semata, sebab tujuan semata untuk mengadakan hubungan dengan yang Maha Benar. (Haqiqatul Haqaiq). 

Dalam masalah ini belum ada seorang pun pengkaji masalah tasawuf yang sampai dalam batasan ilmiah untuk mengetahui tokoh sufi pertama dalam Islam dan siapa yang meletakkan batu pertama bagi pemikiran tasawuf ini.

Tasawuf merupakan sebuah konsep yang tumbuh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, baik dalam segi wacana, perilaku, maupun akidah. 

Tasawuf terjadi pada setiap umat dan agama-agama, khususnya Brahmana Hinduisme, filsafat Iluminasi Yunani, Majusi Persia, dan Nasrani Awal. 

Lalu pemikiran itu menyelinap ke dalam pemikiran Islam melalui zindik Majusi. Kemudian menemukan jalannya dalam realitas umat Islam dan berkembang hingga mencapai tujuan akhirnya, disusun kitab-kitab referensinya, dan telah diletakkan dasar - dasar dan kaidah-kaidahnya pada abad ke-empat dan kelima Hijriyah.

Beberapa faham dan ajaran yang menurut teorinya mempengaruhi munculnya sufisme di kalangan umat Islam, apakah teori ini benar atau salah susah untuk dibuktikan. 

Walaupun begitu, tanpa pengaruh dari luar pun sufisme bisa timbul dalam Islam.

Perlu diketahui, menurut pendapat lain tasawuf itu mulai berkembang sekitar akhir abad ke-2 Hijriyah/ke-8 Masehi.

Tasawuf sebagai sebuah ilmu pengetahuan baru muncul setelah masa sahabat dan tabi’in. 

Nabi SAW dan para sahabat pada hakikatnya sudah sufi. Mereka mempraktekkan selalu terhadap hal-hal yang tidak pernah mengagungkan kehidupan dunia, tapi juga tidak meremehkannya.

Pada masa Rasulullah SAW Islam tidak mengenal aliran tasawuf, demikian juga pada masa sahabat dan tabi’in. 

Kemudian datang setelah masa tabi’in suatu kaum yang mengaku zuhud yang berpakaian shuf (pakaian dari bulu domba), maka karena pakaian inilah mereka mendapat julukan sebagai nama bagi mereka yaitu sufi dengan nama tarekatnya tasawuf. 

Ilmu Tasawuf datang belakangan sebagaimana ilmu yang lain. 

Di masa awalnya, embrio tasawuf ada dalam bentuk perilaku tertentu. 

Ketika kekuasaan Islam makin meluas dan terjadi perubahan sejarah yang fenomenal paska Nabi dan sahabat, ketika itu pula kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi ruhani. 

Budaya hedonisme pun menjadi fenomena umum. Saat itulah timbul gerakan tasawuf sekitar abad ke-2 Hijriyah. 

Gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan tentang hakikat hidup. Menurut pengarang Kasyf al-Dzunnun, orang yang pertama kali diberi julukan al-sufi adalah Abu Hasyim al-sufi (wafat 150 H).

Dalam sejarahnya, bahwa dakwah Nabi di Makkah tidaklah semulus yang diharapkan. Kemudian Nabi melakukan tahannus di gua Hiro sebelum turunnya wahyu pertama. 

Kegiatan ini dalam rangka menenangkan jiwa, menyucikan diri. Dalam proses ini Rasulullah melakukan riyadhah dengan bekal makanan secukupnya, pakaian sederhana yang jauh dari kemewahan dunia. 

Dengan demikian setelah menjalani proses-proses tersebut jiwa Rasulullah SAW telah mencapai tingkatan spiritual tertentu sehingga benar-benar siap menerima wahyu melalui Malaikat Jibril.

Dengan memperhatikan praktek-praktek Nabi SAW di atas menunjukkan Islam merupakan agama yang memiliki akar tradisi spiritual yang tinggi. 

Pada prinsipnya perkembangan tasawuf itu ada tiga tahapan.

Pertama periode pembentukan dengan menonjolkan gerakan-gerakan zuhud sebagai fenomena sosial. 

Periode ini berlangsung selama abad pertama dan kedua hijriyah yang dipelopori oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’i tabi’in. 

Pada masa ini fenomena yang terjadi adalah semangat untuk beribadah dengan prinsip-prinsip yang telah diajarkan oleh Nabi SAW, untuk kemudian mereka  mencoba menjalani hidup zuhud. 

Tokoh-tokoh sufi pada periode ini adalah Hasan Bashri (110 H.) dengan konsep khouf dan Robi’ah al-Adawiyah (185 H.) dengan konsep cinta (al-Hubb).

Kedua, memasuki abad ketiga dan ke-empat hijriyah tasawuf kembali menjalani babak baru. 

Pada abad ini tema-tema yang diangkat para sufi lebih mendalam. 

Berawal dari perbincangan seputar akhlak dan budi pekerti, mereka mulai ramai membahas tentang hakikat Tuhan, esensi manusia serta hubungan antar keduanya. 

Dalam hal ini kemudian muncul tema-tema seperti ma’rifat, fana’, dzauk, dan lain sebagainya.

Tasawuf mulai berkembang dan menjadi suatu disiplin ilmu yang berbeda dengan fikih, tafsir, hadits, dan kalam.

Para tokoh pada masa ini diantaranya Imam al-Qusyairi, Suhrawardi al-Baghdadi, Al-Hallaj, dan Imam Ghazali. 

Ketiga, abad ke-enam dan ketujuh tasawuf kembali menemukan suatu bentuk pengalaman baru. 

Persentuhan tasawuf dengan filsafat berhasil mencetak tasawuf  menjadi lebih filosofis yang kemudian dikenal dengan istilah teosofi. 

Dari sinilah kemudian muncul dua varian tasawuf, Sunni dengan coraknya amali dan Falsafi dengan corak iluminatifnya. 

Adapun tokoh-tokoh teosofi abad ini adalah Surahwardi al-Maqtul (549 H.), Ibnu ’Arabi (638 H.), dan Ibnu Faridh (632 H.)

Jika dilacak secara cermat maka praktek-praktek zuhud yang berkembang di dua abad pertama tersebut adalah hal yang lumrah dan dapat ditemukan pembenarnya.

Meski secara tersurat istilah zuhud tidak terdapat dalam Al-Qur’an (kecuali satu tempat, itupun bukan dalam konteks tasawuf). Namun banyak sekali ayat-ayat yang secara tersirat mengindikasikan hal itu.

Dalam pandangan Islam, zuhud bukanlah upaya untuk memusuhi dunia materi dan harta. Zuhud dalam Islam tidak seperti istilah kependetaan dalam Yahudi dan Kristen. Zuhud bukanlah ’uzlah yang dalam artian menjauh dari hiruk pikuk bumi dan berada dalam kesendirian serta tidak menghiraukan kehidupan sosial.

Melihat pada praktek zuhud yang terjadi pada dua abad pertama, orisinalitas konsep itu benar-benar dapat dirasakan. 

Seperti sahabat Usman bin ’Affan dan Abdurrahman bin ’Auf adalah sebagai teladannya. 

Dengan kekayaan, kedudukan dan kemewahan yang dimilikinya mereka tetap dianggap sebagai zahid dalam pengertian yang sebenarnya menurut Islam. 

Dalam hal ini, Islam benar-benar memiliki konsep zuhud yang murni, tanpa harus dicurigai bahwa konsep zuhud terdapat penyusupan - penyusupan pengaruh dari luar Islam.

Pertumbuhannya tasawuf terus berkembang seiring dengan meluasnya wilayah Islam yang sebelumnya mungkin sudah mempunyai pemikiran-pemikiran mistik, seperti pengaruh filsafat Yunani, Persi, India, atau pun yang lainnya. 

Dalam perkembangannya, ajaran kaum sufi dapat dibedakan dalam beberapa periode, yaitu:

Pertama, perkembangan tasawuf pada abad pertama dan kedua Hijriyah. 

Masa ini menyangkut perkembangan tasawuf pada dekade sahabat yang dipelopori oleh Abu Bakar Shiddiq (w. 13 H.), Umar bin Khaththab (w. 23 H.), Usman bin ’Affan (w.35 H.), Ali bin Abi Thalib (w. 40 H.), Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, Ammar bin Yasir, Huzaidah bin al-Yaman, dan Miqdad bin Aswad. 

Dalam dekade ini juga termasuk pada masa tabi’in; tokoh-tokohnya adalah Hasan Bashri (22– 110 H.), Rabi’ah al-Adawiyah (96– 185 H.), Sufyan ats-Tsauri (97– 161 H.), Daud ath-Thaiy (w. 165 H.), dan Syaqiq al-Bulkhi (w. 194 H.).

Tasawuf yang berkembang pada abad ini pengamalannya mencontoh kehidupan Rasulullah SAW. 

Hidup mencerminkan kesederhanaan, banyak berdzikir, syukur, shalat tahajjud, sabar, ridha, qana’ah, dan zuhud. 

Hidup dengan lebih banyak beramal untuk hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan akhirat, sehingga tasawuf yang muncul pada abad ini disebut fase asketisme (zuhud). 

Lihat Amsal Bakhtiar,Tasawuf dan Gerakan Tarekat, Bandung: Angkasa, 2003), cet. I, h. 9.

Kedua, perkembangan tasawuf pada abad ketiga dan ke-empat Hijriyah. 

Tokoh-tokoh yang terkenal pada abad ketiga adalah Abu Sulaiman ad-Darani (w. 215 H.), Ahmad bin al-Hawary ad-Damasyqi (w. 230 H.), Dzun al-Mishri (155– 245 H.), Abu Yazid al-Butamy (w. 261 H.), Junaid al-Baghdadi (w. 298 H.), dan Al-Hallaj (lahir 244 H.). 

Sedangkan pada abad ke-empat Hijriyah para pengembangnya adalah Musa al-Anshari (w. 320 H.), Abu Hamid bin Muhammad ar-Rubazy (w. 322 H.), Abu Zaid al-Adami (w. 314 H.), dan Abu Ali Muhammad bin Abdil Wahhab as-Saqafi (w. 328 H.). 

Ketiga, perkembangan tasawuf abad kelima Hijriyah ditandai dengan sosok Imam Ghazali yang mengkompromikan para ulama Fiqih dengan ajaran tasawuf yang berpaham syi’ah.

Imam Malik menyatakan bahwa, barang siapa bertasawuf tanpa mempelajari Fiqih sungguh ia berlaku zindik (lahirnya iman, batinnya tidak); dan barang siapa berFiqih dengan tidak bertasawuf, maka ia dapat menjadi Fasiq (bermaksiat); dan barang siapa yang mengamalkan keduanya, itulah yang ahli hakikat. 

Lihat Ahmad bin Muhammad bin Ujaibah al-Hasani,Iqadz al-Himam fi Syarh al-Hikam, (Beirut: Dar al-Fikr, tt.), h. 6-7.

Ke-empat, perkembangan tasawuf pada abad ke-enam, ketujuh, dan kedelapan Hijriyah. 

Pada abad ke-enam Hijriyah sufi yang terkenal adalah Suhrawardi al-Maqtul (w. 587 H.),  dan Al-Ghaznawi (w. 545 H.). 

Pada abad ketujuh yang berpengaruh adaalah Unzar Ibnul Faridh (576– 632 H.), Ibnu Sab’in (613– 667 H.), dan Jalaluddin ar-Rumi (604– 672 H.). 

Pada abad kedelapan Hijriyah yang muncul adalah pengarang kitab Tasawuf, yaitu Al-Kisany (w. 739 H.), dan Abdul Karim al-Jily dengan karyanya Al-Insan al-Kamil. 

Kelima, perkembangan tasawuf pada abad kesembilan dan kesepuluh Hijriyah serta masa berikutnya. 

Pada abad kesembilan dan kesepuluh Hijriyah nasibnya kurang menguntungkan karena dianggap sudah kehilangan kepercayaan masyarakat (penyimpangan ajaran Islam). 

Namun ajaran tasawuf tidak hilang begitu saja. Ini terbukti masih adanya ahli tasawuf yang memunculkan ajarannya dengan mengarang kitab dan mendirikan tarekat yang berisikan ajaran-ajaran tasawuf, antara lain :

1. Abdul Wahhab asy-Sya’rani (898– 973 H.). Karyanya  berjudul Al Lathaa-iful Minan (Ketulusan Hati). 

2. Abul  Abbas Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar at-Tijani (1150-1230 H.). Ia mendirikan tarekat Tijaniyah. 

3. Sidi Muhammad bin Ali as-Sanusy (lahir 1206 H.). beliau adalah pendiri tarekat Sanusiyah. 

4. Syeikh Muhammad Amin al-Kurdi (w. 1322 H.) seorang penulis kitab Tanwirul Qulub fi Mu’amalah ’Allamil Ghuyub dan termasuk pengikut tarekat Naqsabandiyah.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Sumber Akhlak, Moral dan Etika dan Manfaat Mempelajarinya

Sumber Akhlak, Moral dan Etika dan Manfaat Mempelajarinya Akhlak yang mulia merupakan unsur yang sangat utama di dalam risalah Islamiyah.  Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kata akhlak, moral dan etika yang ketiganya merupakan tingkah laku manusia, hampir sama, namun jika dilihat dari sumbernya, ketiga kata tersebut akan berbeda.  Akhlak bersumber dari agama wahyu. Moral bersumber dari adat istiadat masyarakat. Sementara etika bersumber dari filsafat moral dan akal pikiran.  Dalam kajian ini mengarah pada konseptual akhlak Islami dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadits Nabawi dikomparasikan dengan materi-materi yang sudah berkembang.  Sikap dan prilaku akhlak Islami yang sempurna itu harus berpegang pada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Orang yang paling mengerti tentang pengamalan Al-Qur’an adalah Nabi sendiri. Rasulullah SAW adalah prototipe manusia yang berakhlak sempurna. Allah SWT menyebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Qalam ayat ke 4,  "...

Memahami Konsep Muroqobah dan Tingkatannya

Muroqobah Muroqobah. Muroqobah dalam makna harfiah berarti awas mengawasi atau saling mengawasi (dalam Ilmu Shorof dalam kategori bina musyarokah).  Secara bahasa muroqobah mengandung makna  senantiasa mengamat - amati tujuan atau menantikan sesuatu dengan penuh perhatian (mawas diri).  Sedangkan menurut terminologi berarti melestarikan pengamatan kepada Allah SWT dengan hatinya dalam arti terus menerus kesadaran seorang hamba atas pengawasan Allah SWT terhadap semua keadaannya.  Sehingga manusia mengamati pekerjaan dan hukum - hukum-Nya dengan penuh perasaan kepada Allah SWT. Dalam pandangan Imam al-Qusyairy, muroqobah ialah: “ keadaan/kesadaran seseorang meyakini sepenuh hati bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi kita. Tuhan mengetahui seluruh gerak-gerik kita dan bahkan segala yang terlintas dalam hati diketahui Allah .” Artinya, muroqobah ialah keadaan hamba tahu dan sadar dengan sepenuh hati bahwa Tuhan selalu melihatnya. Muroqobah merupakan ilmu untuk meliha...

Memahami Konsep Muqorobah Dalam Ilmu Tasawuf

Muqorobah Muqorobah . Secara bahasa muqorobah berarti saling berdekatan (bina musyarakah) dari kata-kata qooraba-yuqooribu-muqoorobah.  Dalam pengertian ini, maksudnya adalah usaha-usaha seorang hamba untuk selalu berdekatan dengan Allah SWT, yakni saling berdekatan antara hamba dan Tuhannya.  Upaya-upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah ini harus diiringi dengan nilai-nilai keikhlasan dan kesungguhan untuk mencapai ridha-Nya. Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa AS dengan firman-Nya :  " Wahai Musa, jika Anda menginginkan Aku lebih dekat kepadamu dari pembicaraan dengan lidahmu, dan dari bisikan hati menuju hatimu, ruh dengan badanmu, sinar penglihatan dengan matamu, dan pendengaran dengan telingamu maka perbanyaklah membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW.” Orang-orang yang sholih selalu berusaha untuk ber-taqarrub dengan Allah SWT.  Untuk itu cara yang terbaik dalam mencapai martabat kedekatan kepada Allah ialah dengan tafakkur (meditasi).  Amalan ini su...

Membahas Teori Pemikiran Wahdatul Wujud

Membahas Teori Pemikiran Wahdatul Wujud Secara historis, teori wahdatul wujud pada mulanya adalah teori yang disusun Ibnu Arabi . Ia lebih bernuansa sufistik ketimbang filsafat.  Banyak penafsiran telah diberikan tentang teori ini, dari yang sangat ekstrem sampai moderat.  Mungkin yang paling ekstrem adalah Ibnu Sab’in yang menyatakan bahwa hanya Tuhan yang eksis sementara selain Tuhan tak ada yang eksis.  Ada lagi yang ekstrem yang menyatakan bahwa seluruh yang berwujud selain Tuhan hanyalah tajalliyat (manifestasi) dari asma’ dan sifat-sifat tuhan.  Namun Mulla Sadra melihat bahwa Yang Ada Sebagai Yang Ada meskipun Satu, namun ia memiliki intensitas yang membentang dari yang nama Yang Ada.  Sifat Yang Ada-nya Tuhan Mutlak, sementara yang ada lain hanya bersifat Yang Ada Dalam Kemungkinan.  Ia persis seperti matahari dan sinarnya. Matahari tentu berbeda dengan sinarnya. Namun dalam masa yang sama, sinar matahari tiada lain adalah matahari itu sendiri. Y...

Hikmah Perjalanan Tahap Pertama Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as.

Hikmah Perjalanan Tahap Pertama  Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as. Perjalanan tahap pertama ini, yaitu tahap pencarian seorang murid untuk menemukan guru pembimbing ( mursyid ) dalam rangka meningkatkan kualitas ilmu yang sudah dimiliki.  Perjalanan dua karakter tersebut (karakter Musa dan karakter Khidhir ) hendaklah dijadikan sebagai i‘tibar dan muqoddimah dari sebuah perjalanan spiritual yang akan dilakukan.  Perjalanan tersebut sebagai dasar yang harus diketahui, dijadikan kajian dan landasan oleh seorang salik untuk menjadi bekal bagi usaha dan tahapan pencarian yang berikutnya.  Ilmu yang sudah dimiliki adalah ilmu teori, sedangkan ilmu yang dicari adalah penerapan ilmu itu dalam menghadapi kejadian yang aktual secara aplikatif, baik untuk urusan vertikal maupun horizontal.   Tahap pertama ini, seorang murid harus mampu melaksanakan beberapa hal:  1) Niat yang kuat dan bekal secukupnya.  Seorang salik harus meninggalkan dunia yang ada di...

Memahami Konsep Fana dan Baqa Dalam Ilmu Tasawuf

Fana dan Baqa Fana dan Baqa . Dalam kajian tasawuf antara fana dan baqa tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan baqa merupakan sisi lain yang terikat dari fana. Bahkan dalam Sayyid Mahmud Abul Faidh al-Manufi al Husaini menggabungkan tema kajian fana dan baqa (pada satu judul) dalam karyanya Jamharotul Awliya.  Fana diambil dari kata faniya (fana)-yafna-fana ’, secara bahasa berarti menjadi lenyap, hilang, dan tak kekal. Dalam sumber lain berasal dari kata fana-yafni- fana ’ yang mengandung makna hilang hancur. Sedangkan baqa berasal dari kata baqiya-yabqa- baqa ’ yang berarti dawam atau terus menerus, tidak lenyap dan tidak hancur. Fana dalam istilah Ilmu Tasawuf  adalah suatu tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi menjelang ke tingkat ittihad , yakni hilangnya kesadaran tentang dirinya dari seluruh makhluk dan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta yang ada hanya Allah SWT.  Dengan perkataan lain suatu keadaan mental hubungan manusia dan alam...

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia Berbicara tentang sejarah akhlak berarti membicarakan semenjak adanya manusia, yaitu sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS. Sejarah  ilmu akhlak yaitu sejarah yang mempelajari batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan tercela, tentang perkataan dan perbuatan manusia lahir dan batin sejak zaman Nabi Adam AS hingga sekarang.  Sejarah ilmu akhlak ialah sejarah yang menggali tentang tingkah laku baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuannya dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka dari masa ke masa. Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa perkembangan pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku seseorang melalui berbagai macam metode yang disusun secara sistematis dari zaman ke zaman.  Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa yang benar-benar terjadi dari perkembangan ilmu pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku  seseorang me...

Rahmat Sebelum Ilmu ( Sebab Pertama)

Rahmat Sebelum Ilmu ( Sebab Pertama) Ilmu Laduni akan diberikan Allah SWT. hanya kepada seorang hamba yang dikehendaki dan dicintai-Nya. Yaitu seorang hamba pilihan, yang sejak zaman azali telah terpilih untuk menjadi orang pilihan-Nya, itu sebagaimana gambaran yang dipersaksikan oleh sebuah ayat dari firman-Nya:  "Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan (yang terdahulu) yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka".  QS. al-Anbiya : 101.   Oleh karena orang tersebut sejak zaman azali sudah ditetapkan menjadi orang baik, maka sejak dilahirkan di dunia sampai dengan matinya mereka akan dijauhkan dari api neraka.  Mereka dijauhkan dari sebab-sebab yang dapat menyebabkan masuk neraka, baik ilmu , amal maupun karakter .  Oleh karena aspek ilmu pengetahuan adalah bagian terpenting "yang akan menjadikan manusia menjadi baik atau jelek " maka aspek ilmu inilah yang paling mendapatkan penjagaan dan pemeliharaan dari Allah Ta‘ala....

Memahami Konsep Al-Hulul Al-Hallaj

Memahami Konsep Al-Hulul Al-Hallaj Al-Hulul . Hulul berasal dari kata halla -yahillu-hulul, mengandung makna menempati, tinggal di, atau bertempat di. Sedangkan dalam makna istilah hulul adalah paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh - tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat (bersemayam) di dalamnya dengan sifat-sifat ketuhanannya setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan. Paham tentang Allah dapat mengambil tempat pada diri manusia, bertolak dari dasar pemikiran al-Hallaj yang mengatakan bahwa pada diri manusia terdapat dua sifat dasar, yaitu Lahut (ketuhanan) dan Nasut (kemanusiaan).  Al-Hallaj bernama asli Abu al-Mughis al-Husain ibnu Mansur ibnu Muhammad al Baidhawi.  Beliau lahir pada tahun 244 H, atau 858 M, di al-Tur di dekat sebuah desa bernama al-Baida (Persia).  Dia diberi gelar al-Hallaj karena pekerjaannya memang sebagai penenun.  Tuhan pun, menurut al-Hallaj , mempunyai sifat kemanusiaan di samping sifat k...

Hakikat Ilmu Laduni

Hakikat Ilmu Laduni Yang dimaksud Ilmu Laduni adalah "‘ Ilmu Laddunniyyah Robbaniyyah . Ilmu pemberian atau warisan langsung dari pewarisnya yang terlebih dahulu telah mendapatkan warisan dari para pendahulunya, yaitu para Nabi, ash-Shiddiq, asy Syuhada‘ ash-Sholihin Ilmu tersebut diwariskan hanya semata-mata atas kehendak atau urusan ketuhanan. Ilmu Laduni itu terbit dari sumbernya, yaitu hati sanubari orang-orang beriman yang telah lama mengadakan pencarian dengan bersungguh-sungguh.  Berupa Ilham spontan yang memancar dari dalam hati kemudian terpancarkan lagi keluar dalam bentuk perilaku, baik ucapan maupun perbuatan melalui akal dan fikiran. Ilham spontan itu hanya akan terbesit dari hati seorang hamba yang sedang rindu dan menunggu titah Allah, berupa pemahaman konkrit dan logis juga alasan-alasan kuat yang reasonable serta dapat diterima akal sehat.  Bahkan Ilmu Laduni itu terkadang berupa penemuan-penemuan ilmiah yang dinamis dan aplikatif. Allah mengabarkan keberad...