Kaitan antara Tasawuf dan Tarekat

Kaitan antara Tasawuf dan Tarekat

Tarekat adalah jalan atau petunjuk dalam melaksanakan suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dicontohkan oleh Nabi dan sahabatnya.

Guru tarekat disebut mursyid atau syaikh, wakilnya disebut khalifah, dan pengikutnya disebut murid, Tempatnya dikenal dengan ribath/zawiyah/taqiyah. 

Tarekat juga berarti organisasi yang mempunyai syaikh, upacara ritual dan dzikir tertentu.

Pada dasarnya tarekat merupakan bagian dari tasawuf, karena tujuan dzikir adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan pada akhirnya merupakan penyucian jiwa (tazkiyatunnafs). 

Penyucian jiwa adalah inti dari kandungan tasawuf. Kajian tasawuf tidak dapat dipisahkan dengan praktek ‘ubudiyah dan mu’amalah dalam tarekat. 

Walaupun kegiatan tarekat sebagai sebuah institusi lahir sebagai pendekatan terhadap Allah SWT yang telah diberikan oleh Rasul-Nya (Nabi Muhammad SAW), antara lain dengan ber-tahannus di Gua Hiro, qiyamullail, dzikir, dan sebagainya. 

Untuk kemudian diteruskan oleh sebagian sahabat terdekat beliau, tabi’in, tabi’ tabi’in, diteruskan dengan lahirnya para waliyullah abad demi abad hingga masa sekarang ini.

Garis yang menyambung sejak masa nabi SAW hingga syekh, tarekat yang hidup saat ini telah disebutkan silsilah yang saling sambung menyambung sebagai sebuah ciri khas yang terdapat dalam ilmu tasawuf (istilah isnad dalam Ilmu Hadits). 

Tradisi ini memungkinkan ajaran dan praktek keagamaannya hidup subur dan survive.

Dengan banyaknya nama-nama tarekat, ternyata tidak menjadi halangan untuk menyebarluaskan masing-masing ke penjuru dunia. 

Jaringan sufi dan gerakannya baik melalui perdagangan maupun variasi aspirasi politik mereka tidak menjadikannya lupa terhadap misi utama tasawuf dan tarekat mereka, yakni mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Sang Maha Pencipta Alam Semesta. 

Demikian juga berusaha tekun beribadah dan menghindari terpedaya/terlena dengan gemerlap duniawi kemudian berusaha untuk berjalan menuju Tuhan dalam khalwat dan ibadah.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tarekat itu mensistematiskan ajaran dan metode-metode tasawuf dalam rangka mendapatkan muqorobah dan muroqobah terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 

Dalam pemahaman ini sering kali perkataan tarekat dianggap sinonim dengan istilah tasawuf, yaitu dimensi esoteris dan aspek yang mendalam dalam ajaran Islam. 

Sebagai sebuah istilah khusus, perkataan tarekat lebih sering dikaitkan dengan suatu organisasi tarekat, yakni suatu kelompok organisasi yang melakukan amalan-amalan dzikir tertentu dan menyampaikan suatu sumpah yang formulanya telah ditentukan oleh pimpinan organisasi tarekat tersebut. 

Dalam tradisi pesantren di Jawa, istilah tasawuf dipakai semata-mata dalam kaitan aspek intelektual thariqat, sedangkan aspeknya yang bersifat etis dan praktis diistilahkan dengan tarekat.

Pembacaan Al-Qur’an bagi setiap sufi telah menjadi cara-cara utama dalam ber-tafakkur dan ber-dzikir tentang Allah selama hayat masih di kandung badan. 

Oleh karenanya arus kerohanian tasawuf bersumber dari dan bermuara pada kepribadian dan akhlak Nabi Muhammad SAW yang dinyatakan sebagai Nabi yang ummi (QS.7:158), tetapi menjadi manusia ideal sebagai uswatun hasanah (QS. 33:21).

Dzikir dan tafakkur dalam kaitan ini, terdapat pula dalam tarekat. 

Dengan demikian antara tasawuf dan tarekat tidak bisa dipisahkan. 

Secara relatif corak pemikiran Islam yang pernah dipengaruhi oleh tasawuf selanjutnya berkembang menjadi tarekat. 

Bahkan ketika abad ke-13 Masehi ketika masyarakat Nusantara mulai memantapkan diri memeluk Islam, corak pemikiran Islam sedang dalam puncak kejayaannya dalam  ber-tarekat. 

Setiap orang yang bertasawuf berarti dia harus melakukan tarekat-tarekat tertentu yang tujuan akhirnya menjadi hamba Allah yang sangat dekat dengan Tuhannya, dan keduanya mengandung inti kesucian batin dan amaliah kehidupan yang sholih.

Sebuah tarekat biasanya terdiri dari pensucian batin, kekeluargaan tarekat, upacara keagamaan, dan kesadaran sosial. 

Inilah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Hikmah Perjalanan Tahap Kedua Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as.

Hikmah Perjalanan Tahap Kedua Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as. Perjalanan tahap kedua adalah usaha seorang murid untuk membangun komitmen (mubaya‘ah) kepada guru mursyidnya .  Seorang murid harus mampu melaksanakan apa-apa yang sudah disepakati dengan guru mursyidnya , itu sebagai hal yang wajib dikerjakan berkaitan dengan janji ( bai‘at ) yang sudah dilaksanakan.  Pelaksanaan bai‘at seperti itu juga dilaksanakan Rasulullah saw. terhadap para sahabat sebagai janji setia untuk bersedia mengikuti beliau:  "Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar'. (QS. al-Fath : 10). Janji seorang murid di hadapan guru mursyidnya hanyalah pelaksanaan syari‘at secara lahir sedangkan secara hak...

Jimat Kebal Pejuang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949

Kisah Orang-Orang Kebal Pejuang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949 Tidak hanya pahlawan nasional dengan pangkat berjejeran, Anda harus tahu jika pejuang kemerdekaan Indonesia saat itu termasuk orang-orang kebal. Mereka punya peran yang tak kalah penting dengan pejuang republik, sama-sama mengangkat senjata untuk mengusir penjajah kolonial Belanda tahun 1945-1949. Menurut sejumlah pemberitaan, orang-orang tak tembus peluru ini juga pernah menempati kedudukan mentereng dalam organisasi kerakyatan. Sebagian dari mereka ada yang menjabat jadi ketua perkumpulan rakyat dan mendirikan laskar bersenjata. Bagi orang-orang kebal perang adalah hal yang biasa. Setiap hari mereka bekerja melibatkan resiko, pilihannya hanya dua, yakni hidup atau mati. Kebiasaan hidup penuh resiko itu membuat mereka maju di baris depan tatkala Belanda melakukan agresi militer di Indonesia. Seluruh ilmu kekebalan (anti peluru) mereka pakai menghadang pasukan Belanda. Jangankan timah panas yang keluar hanya dari sepucuk s...

Memahami Konsep Fana dan Baqa Dalam Ilmu Tasawuf

Fana dan Baqa Fana dan Baqa . Dalam kajian tasawuf antara fana dan baqa tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan baqa merupakan sisi lain yang terikat dari fana. Bahkan dalam Sayyid Mahmud Abul Faidh al-Manufi al Husaini menggabungkan tema kajian fana dan baqa (pada satu judul) dalam karyanya Jamharotul Awliya.  Fana diambil dari kata faniya (fana)-yafna-fana ’, secara bahasa berarti menjadi lenyap, hilang, dan tak kekal. Dalam sumber lain berasal dari kata fana-yafni- fana ’ yang mengandung makna hilang hancur. Sedangkan baqa berasal dari kata baqiya-yabqa- baqa ’ yang berarti dawam atau terus menerus, tidak lenyap dan tidak hancur. Fana dalam istilah Ilmu Tasawuf  adalah suatu tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi menjelang ke tingkat ittihad , yakni hilangnya kesadaran tentang dirinya dari seluruh makhluk dan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta yang ada hanya Allah SWT.  Dengan perkataan lain suatu keadaan mental hubungan manusia dan alam...

Tentang Insan Kamil

Insan Kamil Insan Kamil . Insan Kamil berasal dari gabungan dua kata bahasa Arab, insan dan kamil . Insan berarti manusia, kamil berarti sempurna. Jadi secara bahasa insan kamil mengandung makna manusia sempurna ( Perfect Man ), yakni manusia yang dekat (qarib dengan Allah) dan terbina potensi ruhaniahnya sehingga dapat berfungsi secara optimal.  Inilah manusia seutuhnya yang mempunyai ketinggian derajat di hadapan Tuhannya, sehingga mencapai tingkat kesempurnaan tauhid dan akhlak mulia.  Manusia sempurna ( insan kamil ) menurut Abdul Karim al-Jilli (wafat 1428 M.) sebagaimana dikutip oleh A. Mustofa, adalah manusia cerminan Tuhan atau manusia kopi Tuhan.  Dengan kata lain manusia yang sudah mengenal eksistensi dirinya sendiri dan memiliki sifat-sifat yang mulia. Secara umum dalam ajaran tasawuf yang dimaksud insan kamil adalah manusia yang telah memiliki dalam dirinya Nur Muhammad yang disebut dengan Al-Haqiqatul Muhammadiyyah .  Dalam pandangan Ibnu ’Arabi ...

Inilah 7 Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang

Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang Menurut Murtadha Muthahhari, ada jenis akhlak yang didasarkan pada ego.Ini merupakan jenis akhlak yang dipengaruhi hawa nafsu.  Pandangan akhlak seperti ini diantaranya dikemukakan oleh Nitsche. Akhlak komunis pun demikian adanya. Yang ideal adalah akhlak yang timbul dari nilai-nilai Ilahiyah dengan kesadaran pribadi mengarah pada ilham taqwa.  Apabila ditinjau dari segi akhlak kejiwaan, seseorang bertindak dan berbuat atas dasar pokok-pokok berikut ini:  1. Insting (gharizah/naluri).  Insting merupakan seperangkat tabi’at yang dibawa manusia sejak lahir.  Para psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku, misalkan naluri makan, senang dengan lawan jenis (seksual instinct), naluri keibubapakan (cinta orang tua kepada anaknya dan sebaliknya), kesadaran dalam ber-Tuhan, dan naluri mempertahankan diri (berjuangan/combative instinct).  2. Adat kebiasaan....

Ilmu Akhlak pada Agama Islam

Ilmu Akhlak pada Agama Islam Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah - perintah Allah dan larangan - larangan-Nya.  Akhlak harus ada serta nampak pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.  Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.  Semua ini terkandung dalam ajaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.  Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Tokoh-tokoh ini tidak lain adalah Nabi - nabi yang tercatat dan diabadikan dalam kitab suciAl-Qur’an.  1. Nabi Ibrahim AS Nabi Ibrahim AS mempunyai sebutan sebagai Ayahnya semua nabi dan rasul, yang membawa dan menyebarkan ajaran tauhid kepada umat manusia. Ia adalah orang yang berani menanggung resiko dalam m...

Dasar-dasar Akhlak Islami

Dasar-dasar Akhlak Islami Eksistensi manusia sebagai makhluk, tentu harus berhadapan pula dengan realitas lain yaitu Sang Khalik (yang menciptakan manusia).  Dasar-dasar Akhlak Islami Memahami manusia dari apa yang dihasilkannya membawa konsekuensi untuk memahami struktur kehidupannya dalam suatu sistem kebudayaan, sebagai suatu usaha memahami seluruh kegiatan manusia dalam kesatuan yang organis. Mustafa Zahri menukil pendapat Imam Ghazali bahwa tujuan perbaikan akhlak itu ialah dalam rangka membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima Nur Cahaya Tuhan.  Urgensi akhlakul karimah merupakan hal yang sangat berguna dalam mengarahkan dan mewarnai berbagai aktivitas kehidupan manusia di segala bidang.  Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju disertai dengan akhlak yang mulia, niscaya ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang dimilikinya itu akan dimanfaatkan sebaik...

Ciri-Ciri Khusus dan Karakteristik Waliyullah

Ciri-Ciri Khusus dan Karakteristik Waliyullah Berkaitan dengan masalah karamah (kemuliaan) waliyullah ini, Ibnu Athaillah mengungkapkan bahwasanya Allah memuliakan manusia dengan tiga hal, yaitu :  1. Allah menjadikan manusia sebagai ahli dzikir kepada-Nya. Seandainya tidak ada karunia Allah, maka manusia bukan ahli dzikir untuk menjalankan (membiasakan) dzikir kepada-Nya.  2. Allah menjadikan manusia sebagai orang yang dikenal (ma’rifat) dengan sebab dzikirnya itu manakala Allah menyatakan nisbah-Nya kepada orang tersebut.  3. Allah menjadikan manusia sebagai orang yang disebut di sisi-Nya sehingga sempurnalah nikmat-Nya atas orang tersebut. Berkenaan dengan karakteristik waliyullah , Imam al-Syaukani menyebutkan tentang kepribadian waliyullah dari segi tanda-tanda dan ciri-ciri khasnya, yaitu :  1. Do’anya senantiasa maqbul (diterima).  2. Ridha pada ketentuan Allah dalam segala hal.  3. Selalu melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segal...

Rahmat Sebelum Ilmu ( Sebab Pertama)

Rahmat Sebelum Ilmu ( Sebab Pertama) Ilmu Laduni akan diberikan Allah SWT. hanya kepada seorang hamba yang dikehendaki dan dicintai-Nya. Yaitu seorang hamba pilihan, yang sejak zaman azali telah terpilih untuk menjadi orang pilihan-Nya, itu sebagaimana gambaran yang dipersaksikan oleh sebuah ayat dari firman-Nya:  "Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan (yang terdahulu) yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka".  QS. al-Anbiya : 101.   Oleh karena orang tersebut sejak zaman azali sudah ditetapkan menjadi orang baik, maka sejak dilahirkan di dunia sampai dengan matinya mereka akan dijauhkan dari api neraka.  Mereka dijauhkan dari sebab-sebab yang dapat menyebabkan masuk neraka, baik ilmu , amal maupun karakter .  Oleh karena aspek ilmu pengetahuan adalah bagian terpenting "yang akan menjadikan manusia menjadi baik atau jelek " maka aspek ilmu inilah yang paling mendapatkan penjagaan dan pemeliharaan dari Allah Ta‘ala....

Memahami Konsep Muqorobah Dalam Ilmu Tasawuf

Muqorobah Muqorobah . Secara bahasa muqorobah berarti saling berdekatan (bina musyarakah) dari kata-kata qooraba-yuqooribu-muqoorobah.  Dalam pengertian ini, maksudnya adalah usaha-usaha seorang hamba untuk selalu berdekatan dengan Allah SWT, yakni saling berdekatan antara hamba dan Tuhannya.  Upaya-upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah ini harus diiringi dengan nilai-nilai keikhlasan dan kesungguhan untuk mencapai ridha-Nya. Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa AS dengan firman-Nya :  " Wahai Musa, jika Anda menginginkan Aku lebih dekat kepadamu dari pembicaraan dengan lidahmu, dan dari bisikan hati menuju hatimu, ruh dengan badanmu, sinar penglihatan dengan matamu, dan pendengaran dengan telingamu maka perbanyaklah membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW.” Orang-orang yang sholih selalu berusaha untuk ber-taqarrub dengan Allah SWT.  Untuk itu cara yang terbaik dalam mencapai martabat kedekatan kepada Allah ialah dengan tafakkur (meditasi).  Amalan ini su...