Ilmu Laduni Merupakan Buah Ma'rifat, Cinta dan Rindu

Ilmu Laduni Merupakan Buah Ma'rifat, Cinta dan Rindu
Ilmu Laduni Merupakan Buah Ma'rifat, Cinta dan Rindu
Ketika orang sedang kasmaran dengan sang kekasih misalnya, refleksi klimaks keasyikan yang terjadi, kerapkali memunculkan pengertian dan pemahaman yang tidak terduga. 

Pemahaman itu bentuk wujudnya ternyata pengalaman-pengalaman hidup yang sangat berkesan, luas, unik, serta sukar dilupakan. 

Yang demikian itu apabila diteliti dengan cermat dan mendalam, secara mendetail dan terperinci, apalagi ketika pengalaman-pengalaman itu kadang-kadang ternyata berupa teori-teori tentang cinta—bahkan cinta seorang hamba kepada Tuhannya, padahal dia belum pernah sama sekali belajar tentang ilmu cinta, baik dengan membaca maupun mendengar, dari manakah gerangan datangnya pemahaman itu? 

Padahal setiap pemahaman adalah ilmu pengetahuan. Hal tersebut dapat dikatakan Ilmu Laduni manakala pemahaman hati yang turun seketika itu menyangkut kaitan urusan rahasia ketuhanan. 

Bahkan jauh lebih dalam dari itu. Dalam rangka seorang salik mencari hakikat makna cinta, terkadang refleksi kerinduan yang terpendam akan sang kekasih, oleh sang perindu dijadikan sebagai tambang inspirasi dan sumber ilham. 

Alam kerinduan itu dimasuki dan ditelusuri dalam bentuk pencarian-pencarian secara ruhaniah. Maka yang asalnya tidak mengerti menjadi mengerti dan yang asalnya tidak faham menjadi memahami.  

Demikian itu artinya:  
"Bahwa gelora kerinduan api Cinta telah menjelma menjadi sumber energi yang panasnya telah membakar sekat dan merontokkan hijab serta menembus dinding-dinding pembatas. Lalu sorot matahati menjadi tajam sehingga membuka situs-situs yang bertebaran di alam maya pada ruhaniah. Dengan itu, maka rahasia-rahasia kehidupan menjadi terbongkar dan kejadian-kejadian yang belum terjadi terkuakkan. Rahasia keadaan diri seseorang, keadaan alam sekitarnya, dan bahkan tentang urusan rahasia Ketuhanan. Itu bisa terjadi, manakala potensi tersebut dikondisikan dengan jalan mujahadah yang terbimbing, maka seorang hamba akan mendapatkan sumber Ilmu Laduni, sehingga menjadikan seorang hamba mengenal alam sekitarnya dan mengenal Tuhannya". 
Seorang perindu bersair:
"Ketika berjalan dengan kakinya Sepi, tertatih-tatih  
Ketika berjalan dengan telinganya Bersama angin bersama burung Riang bernyanyi menyambut pagi 
Ketika berjalan dengan kepalanya Gunung-gunung bercerita 
Rumput bernada Senandungkan lagu cinta 
Ketika berjalan dengan hatinya Maka menjadi rindu  
Kepada bulan kepada matahari Menjadi abadi Memancar dari dalam pribadi 
Ketika bercerita tentang cinta bagaikan guru cinta. 
Berjuta lirik tercipta, beribu puisi teruntai, semua indah, 
Padahal tidak ada sekolah jurusan ilmu cinta. 

Itulah api cinta ketika bergelora Dari tambang pengembaraan ruhaniah 
Ketika api itu larut bersama sinarnya 
Membakar sekat dan hijab Menembus dinding akal dan fikir 
Membuka situs-situs Lauh Mahfud Maka, ruh membaca dan akal menyimpan data 

Ketika kerinduan telah mereda 
Dan buramnya pandangan mata telah sirna Data-data yang ada di situs itu 
Ternyata tempatnya telah berpindah
Untaian kata-kata di atas merupakan sebuah i'tibar, bahwa, disaat arus kerinduan manusia sedang menggelora, suatu potensi bisa terjadi. 

Refleksi kerinduan tersebut ternyata mampu membangkitkan tambang energi yang memancar dari akal dan fikir kemudian membakar hijab dan merontokkan sekat yang menyelimuti rongga dada dan menutupi matahati. 

Dengan izin Allah hal tersebut menjadikan matahati seorang salik mampu menembus Alam Malakut. Yakni alam dimana rahasia kejadian "Alam Azaliah" dapat dilihat (dirasakan) secara hakiki, alam ghaib yang didalamnya terdapat perbendaharaan rahasia urusan Ketuhanan yang semestinya hanya Wahyu yang berhak mengabarkannya.     

Alam azaliah itu adalah alam ruhaniah yang terletak di dalam dimensi ruang-waktu yang berbeda dengan alam lahir atau alam kasat mata ini, alam dimana suatu saat pernah dikatakan kepada anak Adam saat ruhnya akan ditiupkan ke rahim ibunya, Allah mengabarkannya dengan firman-Nya: 
"Bukankah Aku Tuhanmu", dan calon anak Adam itu menjawab: "Ya Engkau adalah Tuhanku dan aku bersaksi". 
Alam azaliah itu sejatinya alam nyata pula bahkan masanya juga masih semasa dengan alam kasat mata ini, namun oleh karena keberadaannya di luar dimensi alam lahir ini maka kebanyakan manusia tidak mengenalinya. 

Padahal dalam kondisi nyata pula sesungguhnya setiap saat manusia dapat memasuki alam azaliah itu dengan mudah. 

Baik siang maupun malam mereka bisa memasuki melalui pintunya yaitu tidur, yakni ketika manusia sedang bermimpi di dalam tidurnya. 

Namun, oleh karena tidurnya itu tidak pernah dipersiapkan dan dikondisikan dengan pengenalan dan perencanaan yang matang, maka meski setiap hari mereka telah keluar masuk alam ghaib tersebut dengan mudah, sedikitpun mereka tidak dapat mengambil kemanfaatan yang berarti darinya.  

"Alam ruhaniah" itu bagaikan samudera seperti juga "alam akal" dan "alam fikir", akan tetapi keberadaan dua samudera yang berbeda itu dibatasi dengan "Barzah" (dimensi ruang-waktu). 

Hanya dengan urusan dan ilmu Allah, disaat-saat tertentu sesuai kehendak-Nya, kedua samudera itu dibiarkan dapat saling bertemu. 

Hal tersebut kabarkan Allah dalam QS. 55; Ayat 19-20 yang artinya; 
"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu antara keduanya ada batas yang tidak dapat dilampaui oleh masing-masing".
Itulah bagian dari rahasia alam mimpi, oleh karena itu, 45% dari urusan rahasia alam kenabian (wahyu) dikirimkan melalui alam mimpi.  

Manakala interaksi kerinduan antara sesama makhluk saja mampu membangkitkan power yang sanggup membakar hijab dan merontokkan sekat yang menyelimuti rongga dada sehingga sorot matahati manusia mampu menembus tabir dimensi alam ruhaniah, yakni dimensi dimana perbendaharaan "Ilmu Ladunniyyah Robbaniyyah" tersimpan secara rahasia, apalagi jika yang terjadi itu adalah klimaks interaksi yang disumber pancarkan antara Nur langit dan Nur bumi. 

Klimaks kerinduan seorang hamba yang sedang berdzikir untuk melahirkan rasa cinta kepada Sang Pemberi kehidupan cintanya itu sendiri, yakni Allah, maka tentunya energi yang dahsyat itu akan mampu menghasilkan "dzikir balik", menghasilkan interaksi dua dzikir yang datang dari dua alam yang berbeda. Interaksi antara munajat seorang hamba dan ijabah dari Tuhannya. 

Sehingga apa saja yang dikehendaki oleh seorang hamba segera terwujud, demikian itu yang dijanjikan Allah dengan firman-Nya, hal tersebut karena munajat sang pecinta telah mendapatkan ijabah dari Junjungan yang selalu menampakkan diri di pelupuk matahatinya.   

Interaksi dua dzikir itu bisa terjadi karena sesungguhnya sang Matahari selalu siap memancarkan sinar-Nya pada titik kulminasi dan sang pendaki telah siap pula menerima pancaran sinar tersebut meski dalam pendakian itu dia hanya mampu mencapai batas dua alam yang terpisah. 

Adakah yang mampu menghalangi pancaran sinar matahari ketika sedang memancarkan sinar penuhnya itu? 

Oleh karenanya, manakala terjadi keadaan seperti itu, dimana seorang hamba sudah menjulurkan tangannya ke langit untuk memanjatkan do‘anya kepada Tuhannya, namun dia tidak juga mampu menerima pancaran sinar ijabah itu, maka barangkali ada awan mendung yang menghalangi. 

Penghalang itu tidak lain adalah daki dosa dan kerak kesalahan yang telah menghijab rongga dada bagaikan karat yang menempel di dinding hati, sehingga menghalangi pancaran nur hidayah Allah tersebut. 

Serupa dengan hati orang kafir, yang tidak juga mau beriman, meski tanda-tanda kebesaran Allah setiap hari tampak di depan pelupuk matanya. 

Sebab, hati itu telah diliputi awan gelap yang berlapis-lapis hingga mereka tidak kuasa keluar dari dinding gelap yang melingkupinya. Allah telah menyatakan hal itu dengan firman-Nya: 
"Seperti orang yang serupa dengan dirinya, di dalam kegelapan yang tidak dapat keluar dari padanya". (QS. 6; 122) 
Untuk menjaga hal tersebut supaya tidak terjadi, maka setelah orang beriman mampu membuka pintu imannya, sebelum memasuki pintu-pintu yang berikutnya, terlebih dahulu hendaklah mereka mampu merontokkan hijab-hijab dan penyakit ruhani yang menutupi matahati. 

Adapun hijab yang terbesar dan terkuat dalam hidup ini adalah kehidupan itu sendiri, padahal hidup tidak boleh dihilangkan, apalagi dimatikan, makanya orang harus mampu mengatur kehidupannya dengan baik dan benar. 

Untuk itulah agama diadakan, Nabi dan Rasul diutus di muka bumi dan kitab-kitab langit diturunkan. 

Diturunkan sebagai sunnah yang harus dijalani agar seorang hamba dapat mengenal Penciptanya. 

Ketika hati manusia telah bersih dari segala kotoran basyariyah, maka hati itu bagaikan kaca yang siap menerima pantulan sinar matahari, selanjutnya tinggal bagaimana kaca itu mengkondisikan diri guna dapat disinari sinar matahari yang selalu menunggu dan siap memancarkan sinarnya dari titik kulminasi.  

Ketika seorang hamba melaksanakan mujahadah dan riyadlah di jalan Allah, mereka mengharapkan apa saja yang bisa diharapkan dari-Nya, baik urusan dunia maupun urusan akhirat, maka pengharapan itu bagaikan pengharapan kaca terhadap sinar matahari. 

Oleh karenanya, ketika pengharapan itu mampu dipancarkan dengan hati bersih, bebas dari penyakit - penyakit basyariyah yang mengotori, maka sebesar pengharapan tersebut dengan izin-Nya seorang hamba akan menerima pancaran sinar yang sepadan dan bahkan lebih besar lagi.  

Itulah "interaksi nuriyah" antara Sang Pencipta dengan hamba-Nya, merupakan sunnatullah yang sejak diciptakan tidak akan pernah ada perubahan lagi untuk selamanya, bahkan juga merupakan hukum sebab-akibat. 

Yakni jika sebabnya mampu dibangun oleh seorang hamba dengan sempurna maka akibatnya akan didatangkan oleh-Nya dengan sempurna pula. 

Allah menegaskan hal itu dengan firman-Nya; 
"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku.". (QS. al-Baqoroh (2); 152)
Dan firman-Nya yang lain: 
"Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu". (QS. al-Baqoroh (2); 40) 
Sumber yang memancarkan energi kehidupan universal itu hakikatnya adalah Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim yang berkehendak membangkitkan kehidupan di muka bumi bersama seluruh perangkat dan sarananya, seorang hamba tinggal memilih mengharapkan kehidupan yang mana. 

Manakala mereka mengharapkan kehidupan ilmu pengetahuan dan imannya, maka mereka akan mendapatkannya sesuai dengan apa yang dituju dengan tanpa ada pengurangan sedikitpun dari-Nya. 

Allah  berfirman: 
"Dan Dia telah memberikan kepadamu dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya". (QS. Ibrahim (14); 34) 
Untuk supaya pemberian-pemberian tersebut sampainya sesuai dengan yang diharapkan, maka seorang hamba terlebih dahulu harus menentukan langkah dan pilihan, itulah amal. 

Yaitu dengan bersungguh-sungguh menempuh jalan (thariqah) yang diyakini dengan mengikuti aturan yang sudah ditetapkan, itupun juga merupakan sunnatullah. 

Oleh karena itu yang terpenting adalah ilmu (teori)nya, kemudian ditindaklanjuti dengan cara (praktek) yang benar. 

Untuk itulah guru yang ahli dibutuhkan dalam perjalanan seorang salik. Guru tersebut berfungsi sebagai pembimbing dan petunjuk jalan supaya perjalanan yang dilakukan seorang salik dapat tertuju kepada sasaran yang tepat dan benar serta tahapan demi tahapan pencapaian yang terprogram dapat terselesaikan sesuai ketetapan. 

Jika perjalanan itu dilakukan tanpa didasari ilmu dan bimbingan yang benar, maka jangan sekali-kali ada orang berharap mendapatkan hasil dari apa saja yang bisa diusahakan. 

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Ilmu Laduni Adalah Buah Cinta Yang Hakiki

Ilmu Laduni Adalah Buah Cinta Yang Hakiki  Firman Allah Ta‘ala:  "Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur'an, Dia menciptakan manusia* Mengajarinya Al-Bayan ". (QS. ar-Rahman : 1-4).  Untuk menafsirkan ayat-ayat di atas ( surat ar Rahman : 1-4 ), marilah kita menggunakan bahasa secara tafsiriyah , yakni cara menafsirkan ayat-ayat al-Qur‘an yang banyak digunakan oleh para Ulama ahli tafsir terdahulu.   Surat ini dibuka dengan lafad " Ar-Rahman ". Artinya : Tuhan yang Maha Pemurah.  Ar-Rahman adalah salah satu nama Allah SWT. dari nama-Nya yang sembilan puluh sembilan.  Nama tersebut adalah satu-satunya nama yang tidak diberikan juga kepada siapapun dari makhluk-Nya.  Tidak seperti nama-nama-Nya yang lain, Ar-Rahim misalnya, ar-Rahim adalah nama-Nya yang juga diberikan-Nya sebagai nama Rasulullah SAW. Allah menyatakan hal itu dengan firman-Nya :  "Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu‘min ". (QS. at-Taubah ...

Nur Muhammadiyyah ( Contoh Pertama Ilmu Laduni )

Nur Muhammadiyyah ( Contoh Pertama Ilmu Laduni ) Berkaitan urusan pribadi yang terjadi pada diri Rasul Muhammad saw., suatu saat Allah Ta‘ala berfirman kepadanya:  " Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipudayakan". (QS. an-Nahl : 127) Ibnu Zaid berkata: " Ayat ini adalah menghapus ayat-ayat perang". S edangkan Ulama‘ Jumhur berpendapat: "Itu adalah pelaksanaan ilmu hikmah".  Artinya sabarlah terhadap kesalahan mereka dengan memberi pengampunan. Artinya, jangan kejahatan dibalas dengan kejahatan" . (Tafsir Qurthubi)   Maksudnya, tidak bersedih dan tidak sempit dada terhadap kejahatan orang-orang yang belum mau beriman adalah bukan sesuatu yang dapat dimengerti secara teori rasional ilmiah saja, tapi juga yang dirasakan di dalam hati, itulah yang dimaksud sabar .  Orang sudah mengetahui dan...

Sebab Diturunkan Ilmu Laduni

Sebab Diturunkan Ilmu Laduni Sebagaimana yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa untuk mendapatkan Ilmu Laduni, seorang salik hanya berkewajiban membangun " sebab-sebab ".  Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pelaksanaan pengabdian yang hakiki kepada Tuhannya, dengan itu supaya orang tersebut mendapatkan " akibat " yang dijanjikan sebagai pahala dari ibadah yang dilakukan.  Pengabdian itu adalah ibadah yang Ikhlas dalam tataran Iman, bukan sekedar tataran Islam.  Sebagaimana yang diajarkan Allah kepada umat manusia melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah tentang tiga tataran pelaksanaan ibadah, secara Islam, secara Iman dan secara Ihsan.  Hadits Qudsi ini shahih dan diriwayatkan dari Abu Hurairah yang telah berkata:  Pada suatu hari, ketika Rasulullah bersama kaum muslimin, datang seorang lelaki dan bertanya kepada Baginda:  "Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dengan Iman?".  Lalu baginda beliau bersabda: "Hendaklah kamu percaya kepada Al...

Tentang Insan Kamil

Insan Kamil Insan Kamil . Insan Kamil berasal dari gabungan dua kata bahasa Arab, insan dan kamil . Insan berarti manusia, kamil berarti sempurna. Jadi secara bahasa insan kamil mengandung makna manusia sempurna ( Perfect Man ), yakni manusia yang dekat (qarib dengan Allah) dan terbina potensi ruhaniahnya sehingga dapat berfungsi secara optimal.  Inilah manusia seutuhnya yang mempunyai ketinggian derajat di hadapan Tuhannya, sehingga mencapai tingkat kesempurnaan tauhid dan akhlak mulia.  Manusia sempurna ( insan kamil ) menurut Abdul Karim al-Jilli (wafat 1428 M.) sebagaimana dikutip oleh A. Mustofa, adalah manusia cerminan Tuhan atau manusia kopi Tuhan.  Dengan kata lain manusia yang sudah mengenal eksistensi dirinya sendiri dan memiliki sifat-sifat yang mulia. Secara umum dalam ajaran tasawuf yang dimaksud insan kamil adalah manusia yang telah memiliki dalam dirinya Nur Muhammad yang disebut dengan Al-Haqiqatul Muhammadiyyah .  Dalam pandangan Ibnu ’Arabi ...

Perjalanan Nabi Musa as. Mencari Nabi Khidir as. (Contoh Ilmu Laduni Yang Kedua)

Perjalanan Nabi MUSA as.  mencari Nabi KHIDHIR as. ( Contoh Ilmu Laduni Yang Kedua ) Perjalanan Nabi Musa as . dengan Nabi Khidhir as ., telah diabadikan Allah Ta‘ala di dalam Al-Qur‘an al-Karim.  Sungguh yang demikian itu bukan hanya sekedar menjadi ilustrasi al-Qur‘an dengan tanpa ada makna dan tujuan yang berarti, sebagaimana buku komik dan novel, tidak!.  Al-Qur‘an tidaklah demikian, namun jauh lebih dari itu, yaitu supaya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi umat Nabi Muhammad saw.  Peristiwa sejarah yang sudah lama ghaib itu, apabila tidak dimunculkan di dalam " kitab suci yang terjaga " ini maka barangkali tidak ada seorang pun mengetahuinya lagi. Terlebih kita umat Muhammad saw. yang hidup entah berapa ratus tahun setelah peristiwa tersebut terjadi.   Hal itu tidak lain, supaya peristiwa sejarah itu dapat dijadikan bahan kajian yang mendalam, bahwa ternyata di dalam kehidupan ini ada dua jenis ilmu pengetahuan dan dua jenis alam yang harus d...

Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Kalam, Filsafat, Fikih dan Psikologi Agama

Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Kalam, Filsafat, Fikih dan Psikologi Agama Memadukan antara tasawuf, Ilmu Kalam, filsafat, fiqih, dan Ilmu Kalam sebagai satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan merupakan dengan tujuan pemahaman terhadap masalah keagamaan dapat dipahami dan dimengerti secara utuh.  Sehingga hal itu bisa mengimplementasikan makna-makna yang terkandung dalam ajaran tasawuf dan memberikan  penjelasan secara tepat terhadap istilah-istilah yang dapat menimbulkan kesalahpahaman seperti zuhud, hubbuddunya (cinta dunia) dan lain-lainnya serta memberikan interpretasi baru yang sesuai dengan prinsip-prinsip nilai Ilahiyah yang lurus. a. Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Kalam  Nama lain dari Ilmu Kalam adalah Ilmu Ushuluddin, Ilmu Tauhid, dan Ilmu Aqidah; di dalamnya dibicarakan tentang persoalan - persoalan kalam Tuhan, dengan diiringi dasar-dasar argumentasi aqliyah dan naqliyah.  Penjelasan materi-materi yang tercakup dalam Ilmu Kalam nampaknya tidak menyentuh dzau...

Tentang Maqamat dan Ahwal

Maqamat dan Ahwal  Maqamat . Maqamat adalah jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Maqamat merupakan bentuk jamak mu’annats dari kata maqam yang  secara bahasa berarti kedudukan, pangkat, dan derajat.  Dalam pandangan Ath-Thusi sebagaimana dikutip oleh Rosihan Anwar dan M. Alfatih bahwa maqamat adalah kedudukan hamba (salik) dalam perjalanannya menuju Allah SWT melalui ibadah, kesungguhan melawan rintangan (al-mujahadat), dan latihan-latihan rohani (ar-Riyadhah). Di antara tingkatan maqamat adalah: taubat, zuhud, wara’, faqir, sabar, tawakkal, dan ridho. Secara umum pemahamannya sebagai berikut: 1) Taubat , yaitu memohon ampun disertai janji tidak akan mengulangi lagi.  2) Zuhud , yaitu meninggalkan kehidupan dunia (dalam hal kemaksiatan) dan mengutamakan kebahagiaan di akhirat.  3) Wara’ , yaitu meninggalkan segala yang syubhat (tidak jelas halal haramnya).  4) Faqir , yaitu tidak meminta lebih dari apa yang sudah diteri...

Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf

Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf  Istilah tasawuf dimasa Nabi SAW tidak ada, demikian pula dimasa para sahabat Nabi SAW dan tabi’in belum ada istilah itu. Istilah tasawuf itu muncul setelah banyaknya buku-buku pengetahuan yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Dan sebenarnya istilah ini berasal dari kata Sufia (Sophia), dalam istilah bahasa Arab berarti kelompok ahli ibadat untuk menyatukan batinnya hanya kepada Allah semata, sebab tujuan semata untuk mengadakan hubungan dengan yang Maha Benar. (Haqiqatul Haqaiq).  Dalam masalah ini belum ada seorang pun pengkaji masalah tasawuf yang sampai dalam batasan ilmiah untuk mengetahui tokoh sufi pertama dalam Islam dan siapa yang meletakkan batu pertama bagi pemikiran tasawuf ini. Tasawuf merupakan sebuah konsep yang tumbuh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, baik dalam segi wacana, perilaku, maupun akidah.  Tasawuf terjadi pada setiap umat dan agama-agama, khususnya Brahmana Hinduisme, filsafat Ilum...

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia Berbicara tentang sejarah akhlak berarti membicarakan semenjak adanya manusia, yaitu sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS. Sejarah  ilmu akhlak yaitu sejarah yang mempelajari batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan tercela, tentang perkataan dan perbuatan manusia lahir dan batin sejak zaman Nabi Adam AS hingga sekarang.  Sejarah ilmu akhlak ialah sejarah yang menggali tentang tingkah laku baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuannya dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka dari masa ke masa. Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa perkembangan pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku seseorang melalui berbagai macam metode yang disusun secara sistematis dari zaman ke zaman.  Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa yang benar-benar terjadi dari perkembangan ilmu pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku  seseorang me...

Manfaat Ilmu Tasawuf dalam Kehidupan

Manfaat Ilmu Tasawuf dalam Kehidupan Menurut Hussein Nashr sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata, bahwa paham sufisme mulai mendapat tempat di kalangan masyarakat (termasuk masyarakat Barat), karena mereka merasakan kekeringan batin. Mereka mulai mencari-cari di mana sufisme yang dapat menjawab sejumlah masalah tersebut.  Perlunya tasawuf dimasyarakatkan dalam pandangan Komaruddin Hidayat terdapat tiga tujuan. Pertama , turut serta terlibat dalam berbagai peran dalam menyelamatkan kemanusiaan dari kondisi kebingungan akibat hilangnya nilai-nilai spiritual.  Kedua , mengenalkan literatur atau pemahaman tentang aspek esoteris (kebatinan) Islam, baik terhadap masyarakat Islam yang mulai melupakannya maupun di kalangan masyarakat non-Islam.  Ketiga , untuk memberikan penegasan kembali bahwa sesungguhnya aspek esoteris Islam, yakni sufisme adalah jantung ajaran Islam, sehingga bila wilayah ini kering dan tidak berdenyut, maka keringlah aspek-aspek lain dalam ajaran Islam....