Sebab Diturunkan Ilmu Laduni

Sebab Diturunkan Ilmu Laduni
Sebab Diturunkan Ilmu Laduni

Sebagaimana yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa untuk mendapatkan Ilmu Laduni, seorang salik hanya berkewajiban membangun "sebab-sebab". 

Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pelaksanaan pengabdian yang hakiki kepada Tuhannya, dengan itu supaya orang tersebut mendapatkan "akibat" yang dijanjikan sebagai pahala dari ibadah yang dilakukan. 

Pengabdian itu adalah ibadah yang Ikhlas dalam tataran Iman, bukan sekedar tataran Islam. 

Sebagaimana yang diajarkan Allah kepada umat manusia melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah tentang tiga tataran pelaksanaan ibadah, secara Islam, secara Iman dan secara Ihsan. 

Hadits Qudsi ini shahih dan diriwayatkan dari Abu Hurairah yang telah berkata: 

Pada suatu hari, ketika Rasulullah bersama kaum muslimin, datang seorang lelaki dan bertanya kepada Baginda: 

"Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dengan Iman?". 

Lalu baginda beliau bersabda: "Hendaklah kamu percaya kepada Allah, para Malaikat, semua Kitab yang diturunkan, hari pertemuan dengan-Nya, para Rasul dan percaya kepada Hari Kebangkitan". 

Lelaki itu bertanya lagi: 
"Wahai Rasulullah! Apakah pula yang dimaksud dengan Islam?'. 

Baginda bersabda: 
"Islam ialah mengabdikan diri kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan perkara lain, mendirikan sembahyang yang telah difardukan, mengeluarkan Zakat yang diwajibkan dan berpuasa pada bulan Ramadhan". 

Kemudian lelaki tersebut bertanya lagi: 
"Wahai Rasulullah!, apakah makna Ihsan ?" 

Rasulullah bersabda: 
"Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, sekiranya engkau tidak melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu". 
(HR. Bukhori-Muslim) 

Artinya, untuk membangun sebab-sebab supaya seorang salik mendapatkan akibat baik berupa Ilmu Laduni, ibadah yang dilakukan itu harus dengan tujuan yang jelas, yaitu semata-mata mengharapkan ridho Allah dan supaya dapat berma‘rifat kepadaNya. 

Jalan ibadah (thoriqoh) yang dilakukan itu bukan untuk tujuan selain hal tersebut di atas, meski untuk mendapatkan Ilmu Laduni sendiri sekalipun, terlebih untuk berharap mendapatkan keuntungan duniawi. 

Oleh karena Ilmu Laduni itu adalah buah ibadah, maka ilmu tersebut diturunkan semata-mata hanya atas kehendak Allah bukan kehendak hamba-Nya. 

Diturunkan kepada seorang hamba yang dipilih-Nya, bukan seorang hamba yang memilih dirinya untuk supaya menjadi hamba pilihan-Nya. 

Meski seorang hamba mengetahui bahwa ibadah yang dilakukan akan mendapatkan janji Allah yang tidak teringkari, akan tetapi pelaksanaan janji itu bisa dilaksanakan manakala seorang hamba telah memenuhi syarat-syarat bagi pelaksanaan pengabdian yang hakiki. 

Padahal yang demikian itu hanya Allah yang Maha Mengetahuinya. 

Tidak ada yang dapat mengetahui ukuran kesempurnaan suatu pengabdian kecuali hanya Allah Ta‘ala, maka hanya Allah yang berhak menentukannya, apakah suatu ibadah diterima di sisi-Nya atau tidak, ibadah tersebut mendapatkan pahala atau tidak. Lebih-lebih lagi urusan Ilmu Laduni.  

Adapun sebab-sebab diturunkannya Ilmu Laduni ada empat : 
  1. Rahmat Sebelum Ilmu.  
  2. Buah takwa.  
  3. Rahasia Nubuwah dan Walayah.  
  4. Ilmu yang Diwariskan.
Meski seorang hamba mengetahui bahwa ibadah yang telah dilakukannya akan mendapatkan janji Allah yang tidak teringkari. 

Akan tetapi pelaksanaan janji itu bisa terjadi, manakala seorang hamba telah memenuhi syarat-syarat bagi pelaksanaan pengabdian yang hakiki.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Memahami Konsep Fana dan Baqa Dalam Ilmu Tasawuf

Fana dan Baqa Fana dan Baqa . Dalam kajian tasawuf antara fana dan baqa tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan baqa merupakan sisi lain yang terikat dari fana. Bahkan dalam Sayyid Mahmud Abul Faidh al-Manufi al Husaini menggabungkan tema kajian fana dan baqa (pada satu judul) dalam karyanya Jamharotul Awliya.  Fana diambil dari kata faniya (fana)-yafna-fana ’, secara bahasa berarti menjadi lenyap, hilang, dan tak kekal. Dalam sumber lain berasal dari kata fana-yafni- fana ’ yang mengandung makna hilang hancur. Sedangkan baqa berasal dari kata baqiya-yabqa- baqa ’ yang berarti dawam atau terus menerus, tidak lenyap dan tidak hancur. Fana dalam istilah Ilmu Tasawuf  adalah suatu tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi menjelang ke tingkat ittihad , yakni hilangnya kesadaran tentang dirinya dari seluruh makhluk dan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta yang ada hanya Allah SWT.  Dengan perkataan lain suatu keadaan mental hubungan manusia dan alam...

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli Untuk menyingkap tabir yang membatasi diri dengan Tuhan, ada sistem yang dapat digunakan untuk riyadhah al-nafsiyah.  Karakteristik ini tersusun dalam  tiga tingkat yang dinamakan takhalli , tahalli , dan tajalli .  Takhalli ialah membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela, kotor hati, maksiat lahir dan maksiat batin.  Pembersihan ini dalam rangka, melepaskan diri dari perangai yang tidak baik, yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama.  Sifat-sifat tercela ini merupakan pengganggu dan penghalang utama manusia dalam berhubungan dengan Allah. Tahalli merupakan pengisian diri dengan sifat-sifat terpuji, menyinari hati dengan taat lahir dan batin.  Hati yang demikian ini dapat menerima pancaran Nurullah dengan mudah.  Oleh karenanya segala perbuatan dan tindakannya selalu berdasarkan dengan niat yang ikhlas (suci dari riya). Dan amal ibadahnya itu tidak lain kecuali mencari ridha Allah SWT.  Untuk itulah man...