Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia

Berbicara tentang sejarah akhlak berarti membicarakan semenjak adanya manusia, yaitu sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS.

Sejarah  ilmu akhlak yaitu sejarah yang mempelajari batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan tercela, tentang perkataan dan perbuatan manusia lahir dan batin sejak zaman Nabi Adam AS hingga sekarang. 

Sejarah ilmu akhlak ialah sejarah yang menggali tentang tingkah laku baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuannya dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka dari masa ke masa.

Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa perkembangan pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku seseorang melalui berbagai macam metode yang disusun secara sistematis dari zaman ke zaman. 

Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa yang benar-benar terjadi dari perkembangan ilmu pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku  seseorang melalui berbagai macam metode yang disusun secara sistematis.

Melacak sejarah pertumbuhan dan perkembangan akhlak (etika) dalam pendekatan bahasa sebenarnya sudah dikenal manusia di muka bumi ini. 

Yaitu, yang dikenal dengan istilah adat istiadat (tradisi) yang sangat dihormati oleh setiap individu, keluarga dan masyarakat.

Selama lebih kurang seribu tahun para ahli fikir Yunani dianggap telah pernah membangun “kerajaan filsafat “, dengan lahirnya berbagai ahli dan timbulnya berbagai macam aliran filsafat.

Para penyelidik akhlak mengemukakan, bahwa para pakar akhlak  banyak yang semata-semata berdasarkan fikiran dan teori-teori pengetahuan, bukan berdasarkan agama.

Pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlak akan dibahas melalui dua pendekatan. Yakni melalui pendekatan kebangsaan dan religi.

Pembahasan tentang sejarah Ilmu Akhlak dapat kita jumpai dalam karya Ahmad Amin berjudul Al-Akhlak. 

Dalam buku tersebut Ahmad Amin membahas pertumbuhan dan perkembangan akhlak menurut pendekatan kebangsaan, religi dan periodisasi. 

Dengan pendekatan seperti ini Ahmad Amin membahas pertumbuhan dan perkembangan akhlak pada bangsa Yunani, dalam abad pertengahan, pada bangsa Arab, pada agama Islam dan pada zaman baru.

Ilmu Akhlak (Moral) pada Bangsa Yunani 

Munculnya pembahasan ilmu akhlak di bangsa Yunani ditandai dengan munculnya kaum Sophisticians (500-450 SM) yaitu orang-orang bijaksana (sufisme artinya orang-orang yang bijak).

Sebelum munculnya kaum tersebut, pembicaraan mengenai akhlak tidak dijumpai dalam bangsa Yunani, karena pada masa itu perhatian mereka tercurah pada penyelidikannya mengenai alam.

Dasar yang digunakan pada pemikir Yunani dalam membangun Ilmu Akhlak adalah pemikiran filsafat tentang manusia, atau pemikiran tentang manusia. 

Ini menunjukkan bahwa Ilmu Akhlak yang mereka bangun lebih bersifat filosofis, yaitu filsafat yang bertumpu pada kajian secara mendalam terhadap potensi kejiwaan yang terdapat dalam diri manusia atau bersifat anthroposentris, dan mengesankan bahwa masalah akhlak adalah sesuatu yang fitri, yang akan ada dengan adanya manusia sendiri dan hasil yang didapatnya adalah ilmu akhlak yang berdasar pada logika tanpa adanya aspek agama dalam pemikiran tersebut.

Namun hasil pemikiran tersebut tidak sepenuhnya salah, karena manusia secara fitrah telah dibekali dengan potensi bertuhan, beragama dan cenderung kepada kebaikan, disamping itu juga memiliki kecenderungan kepada keburukan, dan ingkar pada Tuhan. 

Namun kecenderungan kepada yang baik, bertuhan dan beragama jauh lebih besar dibandingkan dengan kecenderungan kepada yang buruk. 

Filosof Yunani pertama kali mengemukakan pemikiran di bidang akhlak adalah Socrates (469-399 SM). Socrates dianggap sebagai perintis ilmu akhlak di Yunani. 

Socrates dipandang sebagai pertintis ilmu akhlak, karena ia yang pertama yang mengusahakan dengan sungguh-sungguh membentuk perhubungan dengan dasar ilmu pengetahuan. 

Dia berpendapat bahwa akhlak dan bentuk perhubungan itu tidak menjadi benar kecuali didasarkan kepada ilmu pengetahuan, sehingga ia berpendapat “keutamaan itu adalah ilmu pengetahuan”.

Karena itu tidak diketahuinya pandangan Socrates tentang tujuan yang terakhir tentang akhlak atau ukuran untuk mengetahui baik dan buruk sebuah perbuatan, maka timbullah beberapa golongan yang berbeda-beda pendapatnya tentang tujuan akhlak, lalu muncul beberapa paham mengenai akhlak sejak zaman itu hingga sekaranag ini.

Golongan yang lahir setelah Socrates dan mengaku sebagai muridnya adalah Cynics (Kalbiyyun) dan Cyrenics (Qurinaiyyun). 

Golongan Cynics dibangun oleh Antithenes yang hidup pada tahun 444-370 SM. Ajaran ini sedikit berbeda dengan ajaran Socrates. 

Menurut golongan ini bahwa ketuhanan itu bersih dari segala kebutuhan, dan sebaik-baiknya manusia adalah orang yang berperangai ketuhanan.

Pengaruh Socrates ini sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan ilmu Akhlak. Beliau berusaha untuk mengalihkan pandangan masyarakat pada masanya dari pembahasan alam makro ke alam mikro, dari cakrawala kepada pembahasan insaniyah. 

Kemudian selanjutnya datanglah Plato (427-347 SM). Ia seorang filsafat Athena dan murid dari Socrates. 

Ia membangun akhlak melalui akademi yang ia dirikan, dan telah menulis buku yang mengandung ajaran akhlak yaitu Republik.

Pandangannya dalam bidang akhlak berdasarkan pada teori contoh.

Menurutnya bahwa apa yang terdapat pada yang lahiriah ini atau yang tampak ini hanya merupakan bayangan atau fotocopy.

Menurut Plato pokok-pokok keutamaan itu ada empat, yaitu: 

(1) hikmat kebijaksanaan; 
(2) keberanian; 
(3) keperwiraan; dan 
(4) keadilan. 

Ke-empat hal ini merupakan penegak kepribadian seseorang, masyarakat dan bangsa.

Setelah Plato, datanglah Aristoteles (394-322 SM). 

Sebagai murid Plato, Aristoteles berupaya membangun suatu aliran yang khas dan para pengikutnya disebut dengan kaum Peripatetics, karena ia memberi pelajaran sambil berjalan, atau karena ia mengajar di tempata yang teduh. 

Dia berupaya menyelidiki akhlak (Moral) secara mendalam dan menuangkannya dalam bentuk karya tulis.

Aristoteles berpendapat bahwa tujuan akhir yang dikehendaki oleh manusia dari apa yang dilakukannya adalah bahagia atau kebahagiaan. 

Jalan untuk mencapai kebahagiaan ini adalah dengan mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya.

Ilmu Akhlak(Moral) pada Agama Nasrani 

Pada akhir abad ketiga Masehi tersiarlah agama Nasrani di Eropa. Agama ini telah berhasil mempengaruhi pemikiran manusia dan membawa pokok-pokok ajaran akhlak yang tersebut dalam kitab Taurat dan Injil. 

Menurut agama ini bahwa Tuhan adalah sumber Akhlak. Tuhanlah yang menentukan dan membentuk patokan - patokan akhlak yang harus dipelihara dan dilaksanakan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. 

Tuhanlah yang menjelaskan arti baik dan buruk. Menurut agama ini bahwa yang disebut baik ialah perbuatan yang disukai Tuhan serta berusaha melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.

Selain itu agama Nasrani menghendaki agar manusia berusaha sungguh-sungguh mensucikan roh yang terdapat pada dirinya dari perbuatan dosa, baik dalam bentuk pemikiran maupun perbuatan. 

Dengan demikian agama ini menjadikan roh sebagai kekuasaan yang dominan terhadap diri manusia, yaitu suatu kekuasaan yang dapat mengalahkan hawa nafsu syahwat.

Menurut para ahli filsafat Yunani bahwa pendorong untuk melakukan perbuatan baik itu adalah ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan; menurut Agama Nasrani bahwa pendorong untuk melakukan perbuatan baik itu ialah cinta kepada Tuhan dan iman kepada-Nya.

Dengan demikian ajaran akhlak pada agama Nasrani ini tampak bersifat teo-centris (memusat pada Tuhan) dan sufistik (bercorak batin). Karena itu tidaklah mengherankan jika ajaran akhlak agama Nasrani yang dibawa oleh para pendeta berdasarkan ajaran dalam kitab Taurat dan Injil (perjanjian lama dan perjanjian baru).

Ilmu Akhlak pada Bangsa Romawi

Pada abad pertengahan, Etika bisa dikatakan ‘dianiaya’ oleh Gereja. 

Pada saat itu, Gereja memerangi Filsafat Yunani dan Romawi, dan menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno.

Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan hakikat telah diterima dari wahyu. Dan apa yang terkandung dan diajarkan oleh wahyu adalah benar. 

Jadi manusia tidak perlu lagi bersusah payah menyelidiki tentang kebenaran hakikat, karena semuanya telah diatur oleh Tuhan.

Fenomena kehidupan masyarakat Eropa di abad pertengahan banyak dikuasai oleh gereja. Pada waktu itu kalangan  gereja berusaha memerangi filsafat Yunani serta banyak menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno. 

Doktrin Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan ”hakikat” telah diterima dari wahyu. Prinsipnya adalah, apa yang diperintahkan wahyu pasti benar adanya. 

Olah kerja filsafat diperbolehkan dengan syarat tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip (doktrin) yang dikeluarkan dari gereja. 

Dalam hal ini berarti bersifat filosofis-teosentrik. 

Dengan demikian ajaran akhlak yang lahir di Eropa pada abad pertengahan itu adalah ajaran akhlak yang dibangun dari perpaduan Yunani dan ajaran Nasrani. 

Ada 2 tokoh filosof yang terkenal pada masa itu yaitu Abelard (1079-1142 M) berkebangsaan Perancis dan Thomas Aquinas (1226-1274 M) berkebangsaan Italy.

Ilmu Akhlak pada Agama-agama Ardhi

Agama Ardhi yakni agama bumi, yang dimaksud dalam hal ini agama yang didapatkan dari hasil karya dan budaya  manusia; dan ada yang menyebutnya dengan agama tabi’i, diantara cirri-cirinya adalah: 
  • (1) hasil pikiran dan perenungan manusia; 
  • (2) tidak mempunyai rosul; 
  • (3) tradisi rohani belaka; dan 
  • (4) mempergunakan perantara benda dan alam sebagai manifestasi. 
a) Akhlak agama Hindu. 

Pada agama ini berdasarkan kitab Weda (1500 SM). Tanda-tanda yang dipandang baik dalam akhlak agama Hindu adalah: 

(1) kemerdekaan; 
(2) kesehatan; 
(3) kekayaan; dan 
(4) kebahagiaan. 

Hal ini dapat dicapai jika seseorang patuh melaksanakan upacara keagamaan dengan baik dan sempurna. 
Akhlaknya disandarkan kepada ajaran ketuhanan yang mereka anut sesuai dengan kitab Weda tersebut. 

Prinsip-prinsipnya adalah patuh dan disiplin dalam melaksanakan upacara keagamaan. 

Adapun alamat - alamat kejahatannya adalah: 

(1) sakit; 
(2) fakir; dan 
(3) celaka. 

Ketiga alamat kejahatan ini timbul karena tidak melaksanakan upacara keagamaan dengan hati yang penuh kesungguhan. Oleh karenanya dianggap sebagai akhlakul madzmumah

Hindu adalah peraturan ajarannya dipandang sebagai sumber segala kemuliaan (akhlakul karimah).

b) Akhlak agama Budha.

Pokok-pokok akhlak dalam pengajaran Buda ada empat, yaitu: 

  • (1) sengsara dan sakit sebagai keadaan yang lazim dalam alam ini; 
  • (2) kembali ke dalam dunia (reinkarnasi) disebabkan kotornya roh dengan nafsu syahwat terdahulu; 
  • (3) untuk menyelamatkan diri dalam usaha pencapaian nirwana, maka hendaklah melepaskan diri dari segala pengaruh syahwat; 
  • (4) wajib menjauhkan segala rintangan yang menghalangi seseorang dalam melepaskan nafsu syahwatnya, yakni dengan menanamkan segala keinginan dan kesukaan.

Untuk mencapai cita-cita tersebut diadakanlah delapan perkara dengan pola: 

  • (1) melazimi kebaikan; 
  • (2) bersifat kasih sayang; 
  • (3) suka menolong; 
  • (4) mencintai orang lain; 
  • (5) suka memaafkan orang; 
  • (6) ringan tangan dalam kebaikan; 
  • (7) mencabut diri dari segala kepentingan (yang penting-penting); dan 
  • (8) mogok dari hajat kalau perlu dikorbankan untuk orang lain.

c) Akhlak ajaran Kong Fu Tse (Konfusius). 

Menurut Konfusius, kesempurnaan itu hanya dapat dicapai oleh dua golongan manusia, yaitu: 

  1. orang yang mendapat ilham dari langit semenjak lahir sampai wafatnya, yakni orang bijaksana; dan 
  2. orang yang bijaksana yang mencapai (mempelajari) hikmah dengan terus-menerus belajar, berfikir, dan memeriksa dengan tidak mengenal lelah sehingga mencapai kebenaran yang membawa kesempurnaan. 

Dalam kaitan ini, menurut Konfusius untuk membangun akhlak harus melalui tiga perkara: 

  • (1) pergi menyendiri beribadah kepada Tuhan seperti yang telah diperbuat oleh Lao Tse (guru Konfusius); 
  • (2) mengundang rakyat menghadiri pertemuan-pertemuan terbuka dan di sana memberi kursus-kursus akhlak; dan 
  • (3) membawa diri sendiri, baik pemerintah maupun cendekiawan, para pembesar dan diplomat melaksanakan akhlak yang setinggi-tingginya dalam kehidupan sehari-hari.
Ilmu Akhlak pada Bangsa Arab

Bangsa Arab pada Zaman Jahiliyah tidak ada yang menonjol dalam segi filsafat sebagaimana Bangsa Yunani (Socrates, Plato dan Aristoteles), Tiongkok dan lain-lainnya. 

Disebabkan karena penyelidikan akhlak terjadi hanya pada Bangsa yang sudah maju pengetahuannya. 

Sekalipun demikian, Bangsa Arab waktu itu ada yang mempunyai ahli-ahli hikwah yang menghidangkan syair-syair yang mengandung nilai-nilai akhlak, misalnya: Luqman el-Hakim, Aktsan bin Shoifi, Zubair bin Abi Sulma dan Hotim al-Thoi.

Adapun sebagian syair dari kalangan Bangsa Arab diantaranya: 

Zuhair ibn Abi Salam yang mengatakan: 
”barang siapa menepati janji, tidak akan tercela; barang siapa yang membawa hatinya menunjukan kebaikan yang menentramkan, maka tidak akan ragu-ragu”. 
Contoh lainnya, perkataan Amir ibnu Dharb Al-Adwany 
”pikiran itu tidur dan nafsu bergejolak. Barang siapa yang mengumpulkan suatu antara hak dan batil tidak akan mungkin terjadi dan yang batil itu lebih utama buatnya. Sesungguhnya penyelesaian akibat kebodohan”.
Simak apa yang dikatakan Aktsam ibn Shaify yang hidup pada zaman jahiliah dan kemudian masuk Islam. Ia berkata: 

”jujur adalah pangkal keselamatan; dusta adalah merusakkan: kejahatan adalah merusakkan; ketelitian adalah sarana menghadapi kesulitan; dan kelemahan adalah penyebab kehinaan. Penyakit pikiran adalah nafsu, dan sebaik-baiknya perkara adalah sabar. Baik sangka merusak, dan buruk sangka adalah penjagaan”.

Al-Adwany pernah berpesan kepada anaknya Usaid dengan sifat-sifat terpuji, ujarnya: 
”Berbuatlah dermawan dengan hartamu, Memuliakan tetanggamu, bantulah orang yang meminta pertolongan padamu, hormatilah tamumu dan jagalah dirimu dari perbuatan meminta-minta sesuatu pada orang lain”.
Dengar pula apa yang dikatan Amr ibn Al-Ahtam kepada budaknya: 
"Sesungguhnya kikir itu merupakan perangai yang akurat untuk lelaki pencuri; bermurahlah dalam cinta karena sesungguhnya diriku dalam kedudukan suci dan tinggi adalah orang yang belah kasih. setiap orang mulia akan takut mencelamu, dan bagi kebenaran memiliki jalannya sendiri bagi orang-orang yang baik."
Memang sebelum Islam, dikalangan bangsa Arab belum diketahui adanya para ahli filsafat yang mempunyai aliran-aliran tertentu seperti yang kita ketahui pada bangsa Yunani, seperti Epicurus, Plato, Zinon, dan Aristo, karena penyelidikan secara ilmiah tidak ada, kecuali sesudah membesarnya perhatian orang terhadap ilmu kenegaraan.

Dapat dipahami bahwa bangsa Arab sebelum Islam telah memiliki kadar pemikiran yang minimal pada bidang akhlak, pengetahuan tentang berbagai macam keutamaan dan mengerjakannya, walaupun nilai yang tercetus lewat syair-syairnya belum sebanding dengan kata-kata hikmah yang diucapkan oleh filosof-filosof Yunani kuno. Dalam syariat-syariat mereka tersebut saja sudah ada muatan-muatan akhlak. 

Ilmu Akhlak pada Zaman Baru

Akhlak pada zaman baru ini berkisar pada akhir abad kelima belas Masehi, dimana Eropa mulai mengalami kebangkitan dibidang filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Akhlak yang mereka bangun didasarkan pada penyelidikan menurut kenyataan empirik dan tidak mengikuti gambaran-gambaran khayal atau keyakinan yang terdapat dalam ajaran agama. Sumber akhlak dari dogma dan doktrin agama mereka ganti dengan logika dan pengalaman empirik. 

Beberapa tokoh etika dalam masa ini di antaranya: 

1. Descartes (1596-1650) seorang ahli fakir Perancis yang menjadi pembangun madzhab rasionalisme. 

Segala persangkaan yang bersalah dari adat kebiasaan harus ditolak. 

Untuk menerima sesuatu akal harus tampil melakukan pemeriksaan. Dari awal akal lah yang menjadi pangkal untuk mengetahui dan mengukur segala sesuatu; 

2. Spinoza (1632-1677) keturunan Yahudi yang melepaskan diri dari segala ikatan agama dengan menandaskan filsafatnya kepada rasionalisme. 

Menurut dia, untuk mencapai kebahagiaan manusia haruslah berdasarkan akal (rasio); 

3. Herbert Spencer (1820-1903) mengemukakan paham pertumbuhan secara bertahap (evolusi) dalam akhlak manusia. 

Ia berpendapat bahwa akhlak manusia selalu berubah sesuai dengan perkembangan evolusi alam; 

4. Jhon Stuart Mill (1806-1873) yang memindahkan paham Epicurus ke paham Utilitarisme

Pahamnya tersebar di Eropa dan mempunyai pengaruh besar di sana. 

Utilitarisme adalah paham yang memandang bahwa ukuran baik dan buruknya sesuatu ditentukan atas aspek kegunaannya;  dan 

5. Immanuel Kant (1724-1804) ahli pikir Jerman terkemuka. 

Dalam bidang etika ia meyakini adanya kesusilaan. Titik berat etikanya ialah rasa kewajiban (panggilan hati nurani) untuk melakukan sesuatu. Rasa kewajiban melakukan sesuatu berpangkal pada budi.

Salah satu ajaran penting tentang etika pada masa ini adalah bersumber pada intuisi yang diklasifikasikan menjadi empat, yaitu:
  • Intuisi mencari hakikat atau mencari ilmu pengetahuan; 
  • Intuisi etika dan akhlak, yaitu cenderung kepada kebaikan; 
  • Intuisi estetika yaitu cenderung kepada segala sesuatu yang mendatangkan keindahan, dan 
  • Intuisi agama yaitu perasaan meyakini adanya yang menguasai alam dengan segala isinya.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Ilmu Laduni Adalah Buah Cinta Yang Hakiki

Ilmu Laduni Adalah Buah Cinta Yang Hakiki  Firman Allah Ta‘ala:  "Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur'an, Dia menciptakan manusia* Mengajarinya Al-Bayan ". (QS. ar-Rahman : 1-4).  Untuk menafsirkan ayat-ayat di atas ( surat ar Rahman : 1-4 ), marilah kita menggunakan bahasa secara tafsiriyah , yakni cara menafsirkan ayat-ayat al-Qur‘an yang banyak digunakan oleh para Ulama ahli tafsir terdahulu.   Surat ini dibuka dengan lafad " Ar-Rahman ". Artinya : Tuhan yang Maha Pemurah.  Ar-Rahman adalah salah satu nama Allah SWT. dari nama-Nya yang sembilan puluh sembilan.  Nama tersebut adalah satu-satunya nama yang tidak diberikan juga kepada siapapun dari makhluk-Nya.  Tidak seperti nama-nama-Nya yang lain, Ar-Rahim misalnya, ar-Rahim adalah nama-Nya yang juga diberikan-Nya sebagai nama Rasulullah SAW. Allah menyatakan hal itu dengan firman-Nya :  "Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu‘min ". (QS. at-Taubah ...

Urgensi dan Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak pada Zaman Modern

Urgensi dan Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak pada Zaman Modern Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah- perintah Allah dan larangan-larangan-Nya.  Akhlak harus ada serta terlihat pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.  Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.  Semua ini terkandung dalam ajaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.  Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia.  Agama Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dialah pencipta, pemelihara, pemberi rahmat, pelindung terhadap a...

Nur Muhammadiyyah ( Contoh Pertama Ilmu Laduni )

Nur Muhammadiyyah ( Contoh Pertama Ilmu Laduni ) Berkaitan urusan pribadi yang terjadi pada diri Rasul Muhammad saw., suatu saat Allah Ta‘ala berfirman kepadanya:  " Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipudayakan". (QS. an-Nahl : 127) Ibnu Zaid berkata: " Ayat ini adalah menghapus ayat-ayat perang". S edangkan Ulama‘ Jumhur berpendapat: "Itu adalah pelaksanaan ilmu hikmah".  Artinya sabarlah terhadap kesalahan mereka dengan memberi pengampunan. Artinya, jangan kejahatan dibalas dengan kejahatan" . (Tafsir Qurthubi)   Maksudnya, tidak bersedih dan tidak sempit dada terhadap kejahatan orang-orang yang belum mau beriman adalah bukan sesuatu yang dapat dimengerti secara teori rasional ilmiah saja, tapi juga yang dirasakan di dalam hati, itulah yang dimaksud sabar .  Orang sudah mengetahui dan...

Perjalanan Nabi Musa as. Mencari Nabi Khidir as. (Contoh Ilmu Laduni Yang Kedua)

Perjalanan Nabi MUSA as.  mencari Nabi KHIDHIR as. ( Contoh Ilmu Laduni Yang Kedua ) Perjalanan Nabi Musa as . dengan Nabi Khidhir as ., telah diabadikan Allah Ta‘ala di dalam Al-Qur‘an al-Karim.  Sungguh yang demikian itu bukan hanya sekedar menjadi ilustrasi al-Qur‘an dengan tanpa ada makna dan tujuan yang berarti, sebagaimana buku komik dan novel, tidak!.  Al-Qur‘an tidaklah demikian, namun jauh lebih dari itu, yaitu supaya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi umat Nabi Muhammad saw.  Peristiwa sejarah yang sudah lama ghaib itu, apabila tidak dimunculkan di dalam " kitab suci yang terjaga " ini maka barangkali tidak ada seorang pun mengetahuinya lagi. Terlebih kita umat Muhammad saw. yang hidup entah berapa ratus tahun setelah peristiwa tersebut terjadi.   Hal itu tidak lain, supaya peristiwa sejarah itu dapat dijadikan bahan kajian yang mendalam, bahwa ternyata di dalam kehidupan ini ada dua jenis ilmu pengetahuan dan dua jenis alam yang harus d...

Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Kalam, Filsafat, Fikih dan Psikologi Agama

Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Kalam, Filsafat, Fikih dan Psikologi Agama Memadukan antara tasawuf, Ilmu Kalam, filsafat, fiqih, dan Ilmu Kalam sebagai satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan merupakan dengan tujuan pemahaman terhadap masalah keagamaan dapat dipahami dan dimengerti secara utuh.  Sehingga hal itu bisa mengimplementasikan makna-makna yang terkandung dalam ajaran tasawuf dan memberikan  penjelasan secara tepat terhadap istilah-istilah yang dapat menimbulkan kesalahpahaman seperti zuhud, hubbuddunya (cinta dunia) dan lain-lainnya serta memberikan interpretasi baru yang sesuai dengan prinsip-prinsip nilai Ilahiyah yang lurus. a. Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Kalam  Nama lain dari Ilmu Kalam adalah Ilmu Ushuluddin, Ilmu Tauhid, dan Ilmu Aqidah; di dalamnya dibicarakan tentang persoalan - persoalan kalam Tuhan, dengan diiringi dasar-dasar argumentasi aqliyah dan naqliyah.  Penjelasan materi-materi yang tercakup dalam Ilmu Kalam nampaknya tidak menyentuh dzau...

Tentang Maqamat dan Ahwal

Maqamat dan Ahwal  Maqamat . Maqamat adalah jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Maqamat merupakan bentuk jamak mu’annats dari kata maqam yang  secara bahasa berarti kedudukan, pangkat, dan derajat.  Dalam pandangan Ath-Thusi sebagaimana dikutip oleh Rosihan Anwar dan M. Alfatih bahwa maqamat adalah kedudukan hamba (salik) dalam perjalanannya menuju Allah SWT melalui ibadah, kesungguhan melawan rintangan (al-mujahadat), dan latihan-latihan rohani (ar-Riyadhah). Di antara tingkatan maqamat adalah: taubat, zuhud, wara’, faqir, sabar, tawakkal, dan ridho. Secara umum pemahamannya sebagai berikut: 1) Taubat , yaitu memohon ampun disertai janji tidak akan mengulangi lagi.  2) Zuhud , yaitu meninggalkan kehidupan dunia (dalam hal kemaksiatan) dan mengutamakan kebahagiaan di akhirat.  3) Wara’ , yaitu meninggalkan segala yang syubhat (tidak jelas halal haramnya).  4) Faqir , yaitu tidak meminta lebih dari apa yang sudah diteri...

Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf

Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf  Istilah tasawuf dimasa Nabi SAW tidak ada, demikian pula dimasa para sahabat Nabi SAW dan tabi’in belum ada istilah itu. Istilah tasawuf itu muncul setelah banyaknya buku-buku pengetahuan yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Dan sebenarnya istilah ini berasal dari kata Sufia (Sophia), dalam istilah bahasa Arab berarti kelompok ahli ibadat untuk menyatukan batinnya hanya kepada Allah semata, sebab tujuan semata untuk mengadakan hubungan dengan yang Maha Benar. (Haqiqatul Haqaiq).  Dalam masalah ini belum ada seorang pun pengkaji masalah tasawuf yang sampai dalam batasan ilmiah untuk mengetahui tokoh sufi pertama dalam Islam dan siapa yang meletakkan batu pertama bagi pemikiran tasawuf ini. Tasawuf merupakan sebuah konsep yang tumbuh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, baik dalam segi wacana, perilaku, maupun akidah.  Tasawuf terjadi pada setiap umat dan agama-agama, khususnya Brahmana Hinduisme, filsafat Ilum...

Manfaat Ilmu Tasawuf dalam Kehidupan

Manfaat Ilmu Tasawuf dalam Kehidupan Menurut Hussein Nashr sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata, bahwa paham sufisme mulai mendapat tempat di kalangan masyarakat (termasuk masyarakat Barat), karena mereka merasakan kekeringan batin. Mereka mulai mencari-cari di mana sufisme yang dapat menjawab sejumlah masalah tersebut.  Perlunya tasawuf dimasyarakatkan dalam pandangan Komaruddin Hidayat terdapat tiga tujuan. Pertama , turut serta terlibat dalam berbagai peran dalam menyelamatkan kemanusiaan dari kondisi kebingungan akibat hilangnya nilai-nilai spiritual.  Kedua , mengenalkan literatur atau pemahaman tentang aspek esoteris (kebatinan) Islam, baik terhadap masyarakat Islam yang mulai melupakannya maupun di kalangan masyarakat non-Islam.  Ketiga , untuk memberikan penegasan kembali bahwa sesungguhnya aspek esoteris Islam, yakni sufisme adalah jantung ajaran Islam, sehingga bila wilayah ini kering dan tidak berdenyut, maka keringlah aspek-aspek lain dalam ajaran Islam....

Syari'at ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf )

Syari'at ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf ) Syari’at, Thariqat, Hakikat, dan Ma’rifat Untuk mencapai derajat kemuliaan menjadi kekasih Allah (waliyullah), dalam dunia sufi dikenal istilah taraqi, yaitu jalan yang ditempuh dalam melaksanakan suatu ibadat. Taraqi merupakan pendakian menuju Tuhan melalui proses riyadhah, atau proses berlatih diri untuk bisa mengenal dan akrab dengan Allah.  Jalur ini ibarat jalan terjal yang mendaki penuh kerikil tajam.  Untuk mencapai ke tingkat kesanggupan mengenal Allah, bahkan mencapai derajat kekasih Allah, mungkin akan mengalami proses jatuh bangun. Lihat Basyar Isya, Menggapai Derajat Kekasih Allah, (Bandung: Qalbun Salim press, 1997), cet .I,  h. 9. Langkah ini merupakan sebagai jalan supaya tercapai kedudukan insan kamil yang sangat dekat dengan Tuhan.  Jalur taraqi ini ditempuh dengan menjalani perjalanan Syari’at, thariqat, hakikat, dan ma’rifat.  Dalam hal ini tujuan pendakiannya adalah mencapai ma’rifatullah. Sebagaiman...