Memahami Pengertian Wahdatul Wujud

Memahami Pengertian Wahdatul Wujud
Memahami Pengertian Wahdatul Wujud

Secara etimologi, wahdatul wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu Wahdat dan al-Wujud. 

Wahdat artinya adalah penyatuan, satu, atau sendiri, sedangkan al-wujud artinya ada (eksistens). 

Di kalangan ulama klasik ada yang mengartikan wahdah sebagai sesuatu yang zatnya tidak dapat dibagi-bagi.

Selain itu al-wahdah digunakan oleh para sufi sebagai suatu kesatuan antara materi dan roh, substansi (hakikat) dan forma (bentuk), antara yang tampak atau lahir dengan yang batin, antara alam dengan Allah, karena alam dan seisinya berasal dari Allah. 

Wujudnya makhluk adalah ‘ain wujudnya Khalik. Pada hakikatnya tidak ada perbedaan diantara keduanya. 

Kalau dikatakan berlainan dan berbeda wujud makhluk dengan wujud Khalik, itu hanyalah lantaran pendeknya paham dan singkatnya akal dalam mengetahui dan mencapai haqiqat. 

Wahdatul Wujud mempunyai pengertian bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. 

Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. 

Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya.

Dengan demikian dapat dikatakan, Wahdatul Wujud adalah Satu Wujud atau Satu Ada yaitu Tuhan saja yang Ada, tidak ada yang lain-Nya (secara hakikat). 

Dari pengertian yang hampir sama, terdapat pula kepercayaan selain wahdatul wujud. Yaitu Wahdatul Syuhud. 

Pengertiannya yaitu; Kita dan semuanya adalah bagian dari dzat Allah.

Wahdatul Wujud, sebenarnya adalah suatu ilmu yang selayaknya tidak sembarangan disebarluaskan ke orang awam, namun demikian, para wali-lah yang mencetuskan hal tersebut. 

Hal ini karena sangat dikhawatirkan apabila ilmu wahdatul wujud disebarluaskan akan menimbulkan fitnah dan orang awam akan salah menerimanya. 

Wali yang mencetuskan tersebut contohnya adalah Al Hallaj, Ibn Arabi, dan Ibnu Sab’in. Ketiga tokoh ini dianggap sebagai figur yang mewakili munculnya wahdatul wujud.

Meskipun demikian, para wali tersebut tidak pernah mengatakan dirinya adalah tuhan. Dan mereka tetap dikenal sebagai ulama alim.

Dalam pemahaman wahdatul wujud mengandung penghayatan manunggaling kawula gusti. 

Ini bisa dicapai melalui memuncaknya penghayatan fana hingga fana al-fana dalam dzikir, dan bisa pula dari pendalaman rasa cinta rindu yang memuncak pada manuk cinta (sakar) di dalam Tuhan, atau dari kedua-duanya (dari mendalamnya cinta dalam dzikir dan fana al-fana).

Mendalamnya cinta rindu terhadap Tuhan menurut ajaran tasawuf para sufi sampai mabuk cinta, sehingga meningkat menjadi wahdat al-syuhud, yakni segala yang mereka pandang tampak wajah Tuhan. 

Kemudian dari wahdat al-syuhud memuncak jadi wahdatul wujud atau monisme, segala yang ada ini adalah Allah. 

Wahdatul Wujud dalam pengertian lain maksudnya adalah suatu paham yang menyatakan antara manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud. 

Oleh ahli filsafat dan sufistik sebagai satu kesatuan antara materi dan roh, substansi (hakikat) dan forma (bentuk), antara yang tampak (lahir) dan yang batin, antara alam dan Allah, karena alam dari segi hakikatnya qadim dan berasal dari Tuhan. 

Tokoh Aliran Wahdatul Wujud 

1. Muhyiddin Ibn Al Arabi. Lahir di Marcia, Spanyol tahun 598 H. (1102 M.)

Namanya Muhammad bin Ali Ahmad bin Abdullah dengan gelar Abu Bakar, beliau disebut juga Muhyiddin dan dikenal dengan sebutan Ibnu ‘Arabi dan Al Hattami. 

Beliau mengembara dari Andalusia ke Timur, sesudah menuntut ilmu pengetahuan Fiqih Asy-Syibliyah (Sevilla). 

Dia pernah mengembara ke Mesir, Hejaz kecil, dan Asia Kecil. 

Akhirnya dia tinggal sampai wafatnya di Damaskus negeri Syam. Dia tinggal di sana dan wafatnya pada tahun 638 H. (1240 M).  

Dia adalah sufi sekaligus penulis yang produktif. Menurut Hamka, Ibn Arabi disebut sebagai orang yang telah mencapai Wahdatul Wujud. 

Dia telah menegakkan pahamnya dengan berdasarkan renungan pikir dan filsafat tasawufnya.

Ibnu Arabi tumbuh dalam fikiran ahli-ahli tasawuf Islam. Dia telah menegakkan fahamnya dengan berdasarkan renungan fikir filsafat dan dzauq tasawuf

Meskipun karena takut ancaman orang awam, senantiasa dia berjalan berbelit-belit sehingga lantaran kesanggupannya mencari dan memilih kata serta kefasihan dan keahliannya menyusun karangan yang dapat menghanyutkan orang, hanya sedikit yang dapat mengetahui dasar pendiriannya. 

Ia menyajikan aliran tasawufnya dengan bahasa yang agak berbelit-belit agar terhindar dari tuduhan, fitnah dan ancaman dari kaum awam. 

Bagi Ibn al-’Arabi, wujud (yang ada) itu hanya satu. Pada hakikatnya tidak ada pemisah antara manusia dengan tuhannya.

Konsep dasar pertama dari filsafat Ibn ‘Arabi adalah pengakuan bahwa hanya ada dzat tunggal saja, dan tidak ada yang mewujud selain itu. 

Istilah Arab untuk mewujud-wujud, yang dapat disamakan dengan kepribadian (eksisten). 

Ibnu Arabi telah menegakkan paham serba Esa dan menolak paham serba Dua. Segala sesuatu hanyalah satu. 

Hal ini hampir sama dengan paham phitagoras dalam dunia filsafat, yang menyatakan bahwa ”jiwa segala bilangan adalah satu”.

Maka ketika dia mengatakan bahwa hanya ada zat tunggal, menurutnya yaitu: 
  • Bahwa semua yang ada adalah zat tunggal. 
  • Bahwa zat tunggal tidak terpecah ke dalam bagiannya. 
  • Bahwa tidaklah ada berlebih di sini atau juga tidak kekurangan di sana. 
Oleh sebab itu, dalam setiap kepribadian tidaklah ada sesuatu kecuali zat tunggal, yang secara mutlak tak terpecahkan / terbagikan (indivisible) dan seragam (homogen).

Jika dipandang antara Khalik dan makhluk itu satu wujud, kenapa nampaknya dua? 

Ibnu Arabi menjawab,

”Sebabnya ialah karena insan tidak memandang dari wajah yang Satu. 

Mereka memandang kepada keduanya dengan pandangan bahwa wajah pertama ialah Haqq dan wajah yang kedua ialah Khalik”. 

Namun jikalau dipandang dalam ’ain yang satu dan wajah yang satu, atau dia adalah wajah yang dua dari hakikat yang satu, tentulah manusia akan memperdekat haqiqat Zat Yang Esa, yang tiada berbilang dan tidak berpisah.

Intinya adalah satu kesatuan yang utuh. 

Hakikat interpretasi ini mengandung makna bahwa wajah sebenarnya satu, tetapi jika kita perbanyak cermin maka ia menjadi banyak. 

2. Ibnu Sab’in Ibnu Sab’in adalah seorang sufi dan juga Filosof dari Andalusia, yang mempunyai nama lengkap, ‘Abdul Haqq ibn Ibrahim Muhammad ibn Nashr.

Beliau adalah seorang ahli sufi terkenal dalam aliran wahdatul wujud dan mencampurkan tasawuf dengan filsafat. 

Dia dipanggil Ibn Sab’in dan digelari Quthbuddin, kadang juga dipanggil Abu Muhammad. 

Beliau lahir tahun 614 H. (1217-1218 M) di Murcia. Dalam suatu pendapat dia lahir pada tahun 613 H. (1215 M.). 

Ibnu Sab’in tumbuh dalam keluarga bangsawan, Ayahnya adalah penguasa di Murcia. Ibnu Sabin berguru kepada Ibnu Dihaq yang dikenal dengan Ibnu Mir’ah (wafat 611 H.) pen-syarah karya al Juwaini, al-Irsyad, selain itu Ibnu Sab’in juga berguru pada al-Yuni (wafat 622 H.), dan al-Hurrani (wafat 538 H.), keduanya ahli huruf dan nama.

Mulanya Ibnu Sab’in seorang ahli Fiqih, kemudian tertarik mendalami Ilmu Tasawuf sampai menjadi salah seorang imamnya dan mengungkapkan pendapatnya dari hasil pengalaman spiritualitasnya.

Hubungan antara Ibnu Sab’in dan para gurunya banyak terjalin lewat kitab dari pada secara langsung.

Pada tahun 640 Ibnu Sab’in dan muridnya pergi ke Afrika, karena faktor-faktor politik di negerinya, dia dianggap melemahkan Dinasti al-Muwahhidin serta berakhirnya kebebasan berfikir di Andalusia. 

Ibnu Sab’in singgah di kota Ceuta, Afrika Utara, di kota ini pula dia menikahi seorang wanita dan membangun zawiyah, dia banyak menelaah kitab-kitab tasawuf dan memberikan pengajaran. 

Penguasa kota, Ibn Khaladh, mengusirnya dari kota ini karena dianggap sebagai Filosof. 

Kemudian dia pergi ke ‘Adwah, Bijayah, terus ke Qabis, Tunisia. 

Pada tahun 648 H. Ibnu Sab’in sampai di Kairo, tetapi para fuqoha di dunia Islam bagian barat mengirim surat ke Mesir yang menyatakan dia adalah atheis. 

Ibnu Sab’in memutuskan untuk ke Mekah.

Ibnu Sab’in ketika di Makkah memperoleh kehidupan yang tenang dan menyusun karyanya. 

Dan meninggal dunia pada tahun 669 Hijriyah dalam usia sekitar 54 tahun. Ibnu Sab’in meninggalkan empat puluh satu buah karya, yang menguraikan Ilmu Tasawuf. 

Pada umumnya karya beliau bercorak simbolik, karyanya yang terpenting Budd al-Arif.

Ibnu Sab’in, menganut paham Kesatuan Mutlak Wahdatul Wujud, yaitu wujud adalah satu alias Wujud Allah semata.

Tasawufnya menyerupai jalan tasawuf Suhrawardi dan Ibnu Arabi, yakni gabungan antara filsafat dan tasawuf. 

Madzhab Ibnu Sab’in tentang hubbul Ilahi dipengaruhi aliran Rabi’atul Adawiyah

Bahwasanya beramal bukan karena mengharap upah surga dan meninggalkan dosa dan bukan pula karena takut neraka, akan tetapi beramal itu karena cinta kepada Allah yang tetap ada dalam dirinya. 

Wujud-wujud lainnya hanya wujud Yang Satu itu sendiri. 

Jelasnya wujud-wujud yang lain itu hakikatnya sama sekali tidak lebih dari wujud Yang Satu semata. 

Dalam hal ini, Ibnu Sab’in menempatkan ketuhanan pada tempat pertama. 

Sebab menurutnya, Wujud Allah adalah asal segala yang ada masa lalu, masa kini, maupun masa depan. 

Sementara wujud yang tampak jelas justru dia rujukkan pada wujud mutlak yang rohaniah. 

Berarti paham ini menafsirkan wujud dalam corak spiritual bukan materi. 

Bahkan dikatakan bahwa permulaan dan akhir (kesudahan) wujud adalah Allah. 

Dengan demikian yang ada itu hanya satu pada hakikatnya. 

Bahkan Allah merupakan wujud semesta. Alam yang nampak ini hanyalah wujud majazi (bukan hakiki). 

Pemikiran Ibnu Sab’in merujuk pada dalil-dalil Al-Qur’an, misal firman Allah: 
“Dia itulah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Dzahir dan Yang Bathin,” 
dan firman-Nya: 
“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Zat Allah (yang tetap).”
Dia juga memperkuatnya dengan hadits Nabi Muhammad SAW, seperti Hadits Qudsi yang berikut : 
“Apa yang pertama-tama diciptakan Allah adalah akal budi. Maka firman Allah kepadanya, terimalah! ia pun lalu menerimanya…”
Adapun tentang al-Hallaj sejarah hidupnya secara global sudah diungkapkan dalam kajian hulul

Dan nampaknya antara wahdatul wujud dan hulul punya hubungan yang erat. 

Yaitu sama-sama bentuk penyatuan antara manusia dan Tuhan; hanya bedanya dalam hulul eksistensi manusia dianggap ada (dalam penyatuan), sedangkan dalam wahdatul wujud eksistensi manusia dianggap hancur lebur.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Ilmu Laduni Adalah Buah Cinta Yang Hakiki

Ilmu Laduni Adalah Buah Cinta Yang Hakiki  Firman Allah Ta‘ala:  "Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur'an, Dia menciptakan manusia* Mengajarinya Al-Bayan ". (QS. ar-Rahman : 1-4).  Untuk menafsirkan ayat-ayat di atas ( surat ar Rahman : 1-4 ), marilah kita menggunakan bahasa secara tafsiriyah , yakni cara menafsirkan ayat-ayat al-Qur‘an yang banyak digunakan oleh para Ulama ahli tafsir terdahulu.   Surat ini dibuka dengan lafad " Ar-Rahman ". Artinya : Tuhan yang Maha Pemurah.  Ar-Rahman adalah salah satu nama Allah SWT. dari nama-Nya yang sembilan puluh sembilan.  Nama tersebut adalah satu-satunya nama yang tidak diberikan juga kepada siapapun dari makhluk-Nya.  Tidak seperti nama-nama-Nya yang lain, Ar-Rahim misalnya, ar-Rahim adalah nama-Nya yang juga diberikan-Nya sebagai nama Rasulullah SAW. Allah menyatakan hal itu dengan firman-Nya :  "Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu‘min ". (QS. at-Taubah ...

Urgensi dan Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak pada Zaman Modern

Urgensi dan Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak pada Zaman Modern Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah- perintah Allah dan larangan-larangan-Nya.  Akhlak harus ada serta terlihat pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.  Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.  Semua ini terkandung dalam ajaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.  Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia.  Agama Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dialah pencipta, pemelihara, pemberi rahmat, pelindung terhadap a...

Nur Muhammadiyyah ( Contoh Pertama Ilmu Laduni )

Nur Muhammadiyyah ( Contoh Pertama Ilmu Laduni ) Berkaitan urusan pribadi yang terjadi pada diri Rasul Muhammad saw., suatu saat Allah Ta‘ala berfirman kepadanya:  " Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipudayakan". (QS. an-Nahl : 127) Ibnu Zaid berkata: " Ayat ini adalah menghapus ayat-ayat perang". S edangkan Ulama‘ Jumhur berpendapat: "Itu adalah pelaksanaan ilmu hikmah".  Artinya sabarlah terhadap kesalahan mereka dengan memberi pengampunan. Artinya, jangan kejahatan dibalas dengan kejahatan" . (Tafsir Qurthubi)   Maksudnya, tidak bersedih dan tidak sempit dada terhadap kejahatan orang-orang yang belum mau beriman adalah bukan sesuatu yang dapat dimengerti secara teori rasional ilmiah saja, tapi juga yang dirasakan di dalam hati, itulah yang dimaksud sabar .  Orang sudah mengetahui dan...

Perjalanan Nabi Musa as. Mencari Nabi Khidir as. (Contoh Ilmu Laduni Yang Kedua)

Perjalanan Nabi MUSA as.  mencari Nabi KHIDHIR as. ( Contoh Ilmu Laduni Yang Kedua ) Perjalanan Nabi Musa as . dengan Nabi Khidhir as ., telah diabadikan Allah Ta‘ala di dalam Al-Qur‘an al-Karim.  Sungguh yang demikian itu bukan hanya sekedar menjadi ilustrasi al-Qur‘an dengan tanpa ada makna dan tujuan yang berarti, sebagaimana buku komik dan novel, tidak!.  Al-Qur‘an tidaklah demikian, namun jauh lebih dari itu, yaitu supaya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi umat Nabi Muhammad saw.  Peristiwa sejarah yang sudah lama ghaib itu, apabila tidak dimunculkan di dalam " kitab suci yang terjaga " ini maka barangkali tidak ada seorang pun mengetahuinya lagi. Terlebih kita umat Muhammad saw. yang hidup entah berapa ratus tahun setelah peristiwa tersebut terjadi.   Hal itu tidak lain, supaya peristiwa sejarah itu dapat dijadikan bahan kajian yang mendalam, bahwa ternyata di dalam kehidupan ini ada dua jenis ilmu pengetahuan dan dua jenis alam yang harus d...

Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Kalam, Filsafat, Fikih dan Psikologi Agama

Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Kalam, Filsafat, Fikih dan Psikologi Agama Memadukan antara tasawuf, Ilmu Kalam, filsafat, fiqih, dan Ilmu Kalam sebagai satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan merupakan dengan tujuan pemahaman terhadap masalah keagamaan dapat dipahami dan dimengerti secara utuh.  Sehingga hal itu bisa mengimplementasikan makna-makna yang terkandung dalam ajaran tasawuf dan memberikan  penjelasan secara tepat terhadap istilah-istilah yang dapat menimbulkan kesalahpahaman seperti zuhud, hubbuddunya (cinta dunia) dan lain-lainnya serta memberikan interpretasi baru yang sesuai dengan prinsip-prinsip nilai Ilahiyah yang lurus. a. Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Kalam  Nama lain dari Ilmu Kalam adalah Ilmu Ushuluddin, Ilmu Tauhid, dan Ilmu Aqidah; di dalamnya dibicarakan tentang persoalan - persoalan kalam Tuhan, dengan diiringi dasar-dasar argumentasi aqliyah dan naqliyah.  Penjelasan materi-materi yang tercakup dalam Ilmu Kalam nampaknya tidak menyentuh dzau...

Tentang Maqamat dan Ahwal

Maqamat dan Ahwal  Maqamat . Maqamat adalah jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Maqamat merupakan bentuk jamak mu’annats dari kata maqam yang  secara bahasa berarti kedudukan, pangkat, dan derajat.  Dalam pandangan Ath-Thusi sebagaimana dikutip oleh Rosihan Anwar dan M. Alfatih bahwa maqamat adalah kedudukan hamba (salik) dalam perjalanannya menuju Allah SWT melalui ibadah, kesungguhan melawan rintangan (al-mujahadat), dan latihan-latihan rohani (ar-Riyadhah). Di antara tingkatan maqamat adalah: taubat, zuhud, wara’, faqir, sabar, tawakkal, dan ridho. Secara umum pemahamannya sebagai berikut: 1) Taubat , yaitu memohon ampun disertai janji tidak akan mengulangi lagi.  2) Zuhud , yaitu meninggalkan kehidupan dunia (dalam hal kemaksiatan) dan mengutamakan kebahagiaan di akhirat.  3) Wara’ , yaitu meninggalkan segala yang syubhat (tidak jelas halal haramnya).  4) Faqir , yaitu tidak meminta lebih dari apa yang sudah diteri...

Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf

Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf  Istilah tasawuf dimasa Nabi SAW tidak ada, demikian pula dimasa para sahabat Nabi SAW dan tabi’in belum ada istilah itu. Istilah tasawuf itu muncul setelah banyaknya buku-buku pengetahuan yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Dan sebenarnya istilah ini berasal dari kata Sufia (Sophia), dalam istilah bahasa Arab berarti kelompok ahli ibadat untuk menyatukan batinnya hanya kepada Allah semata, sebab tujuan semata untuk mengadakan hubungan dengan yang Maha Benar. (Haqiqatul Haqaiq).  Dalam masalah ini belum ada seorang pun pengkaji masalah tasawuf yang sampai dalam batasan ilmiah untuk mengetahui tokoh sufi pertama dalam Islam dan siapa yang meletakkan batu pertama bagi pemikiran tasawuf ini. Tasawuf merupakan sebuah konsep yang tumbuh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, baik dalam segi wacana, perilaku, maupun akidah.  Tasawuf terjadi pada setiap umat dan agama-agama, khususnya Brahmana Hinduisme, filsafat Ilum...

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia Berbicara tentang sejarah akhlak berarti membicarakan semenjak adanya manusia, yaitu sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS. Sejarah  ilmu akhlak yaitu sejarah yang mempelajari batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan tercela, tentang perkataan dan perbuatan manusia lahir dan batin sejak zaman Nabi Adam AS hingga sekarang.  Sejarah ilmu akhlak ialah sejarah yang menggali tentang tingkah laku baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuannya dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka dari masa ke masa. Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa perkembangan pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku seseorang melalui berbagai macam metode yang disusun secara sistematis dari zaman ke zaman.  Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa yang benar-benar terjadi dari perkembangan ilmu pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku  seseorang me...

Manfaat Ilmu Tasawuf dalam Kehidupan

Manfaat Ilmu Tasawuf dalam Kehidupan Menurut Hussein Nashr sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata, bahwa paham sufisme mulai mendapat tempat di kalangan masyarakat (termasuk masyarakat Barat), karena mereka merasakan kekeringan batin. Mereka mulai mencari-cari di mana sufisme yang dapat menjawab sejumlah masalah tersebut.  Perlunya tasawuf dimasyarakatkan dalam pandangan Komaruddin Hidayat terdapat tiga tujuan. Pertama , turut serta terlibat dalam berbagai peran dalam menyelamatkan kemanusiaan dari kondisi kebingungan akibat hilangnya nilai-nilai spiritual.  Kedua , mengenalkan literatur atau pemahaman tentang aspek esoteris (kebatinan) Islam, baik terhadap masyarakat Islam yang mulai melupakannya maupun di kalangan masyarakat non-Islam.  Ketiga , untuk memberikan penegasan kembali bahwa sesungguhnya aspek esoteris Islam, yakni sufisme adalah jantung ajaran Islam, sehingga bila wilayah ini kering dan tidak berdenyut, maka keringlah aspek-aspek lain dalam ajaran Islam....

Syari'at ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf )

Syari'at ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf ) Syari’at, Thariqat, Hakikat, dan Ma’rifat Untuk mencapai derajat kemuliaan menjadi kekasih Allah (waliyullah), dalam dunia sufi dikenal istilah taraqi, yaitu jalan yang ditempuh dalam melaksanakan suatu ibadat. Taraqi merupakan pendakian menuju Tuhan melalui proses riyadhah, atau proses berlatih diri untuk bisa mengenal dan akrab dengan Allah.  Jalur ini ibarat jalan terjal yang mendaki penuh kerikil tajam.  Untuk mencapai ke tingkat kesanggupan mengenal Allah, bahkan mencapai derajat kekasih Allah, mungkin akan mengalami proses jatuh bangun. Lihat Basyar Isya, Menggapai Derajat Kekasih Allah, (Bandung: Qalbun Salim press, 1997), cet .I,  h. 9. Langkah ini merupakan sebagai jalan supaya tercapai kedudukan insan kamil yang sangat dekat dengan Tuhan.  Jalur taraqi ini ditempuh dengan menjalani perjalanan Syari’at, thariqat, hakikat, dan ma’rifat.  Dalam hal ini tujuan pendakiannya adalah mencapai ma’rifatullah. Sebagaiman...