Memahami Pengertian Wahdatul Wujud

Memahami Pengertian Wahdatul Wujud
Memahami Pengertian Wahdatul Wujud

Secara etimologi, wahdatul wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu Wahdat dan al-Wujud. 

Wahdat artinya adalah penyatuan, satu, atau sendiri, sedangkan al-wujud artinya ada (eksistens). 

Di kalangan ulama klasik ada yang mengartikan wahdah sebagai sesuatu yang zatnya tidak dapat dibagi-bagi.

Selain itu al-wahdah digunakan oleh para sufi sebagai suatu kesatuan antara materi dan roh, substansi (hakikat) dan forma (bentuk), antara yang tampak atau lahir dengan yang batin, antara alam dengan Allah, karena alam dan seisinya berasal dari Allah. 

Wujudnya makhluk adalah ‘ain wujudnya Khalik. Pada hakikatnya tidak ada perbedaan diantara keduanya. 

Kalau dikatakan berlainan dan berbeda wujud makhluk dengan wujud Khalik, itu hanyalah lantaran pendeknya paham dan singkatnya akal dalam mengetahui dan mencapai haqiqat. 

Wahdatul Wujud mempunyai pengertian bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. 

Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. 

Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya.

Dengan demikian dapat dikatakan, Wahdatul Wujud adalah Satu Wujud atau Satu Ada yaitu Tuhan saja yang Ada, tidak ada yang lain-Nya (secara hakikat). 

Dari pengertian yang hampir sama, terdapat pula kepercayaan selain wahdatul wujud. Yaitu Wahdatul Syuhud. 

Pengertiannya yaitu; Kita dan semuanya adalah bagian dari dzat Allah.

Wahdatul Wujud, sebenarnya adalah suatu ilmu yang selayaknya tidak sembarangan disebarluaskan ke orang awam, namun demikian, para wali-lah yang mencetuskan hal tersebut. 

Hal ini karena sangat dikhawatirkan apabila ilmu wahdatul wujud disebarluaskan akan menimbulkan fitnah dan orang awam akan salah menerimanya. 

Wali yang mencetuskan tersebut contohnya adalah Al Hallaj, Ibn Arabi, dan Ibnu Sab’in. Ketiga tokoh ini dianggap sebagai figur yang mewakili munculnya wahdatul wujud.

Meskipun demikian, para wali tersebut tidak pernah mengatakan dirinya adalah tuhan. Dan mereka tetap dikenal sebagai ulama alim.

Dalam pemahaman wahdatul wujud mengandung penghayatan manunggaling kawula gusti. 

Ini bisa dicapai melalui memuncaknya penghayatan fana hingga fana al-fana dalam dzikir, dan bisa pula dari pendalaman rasa cinta rindu yang memuncak pada manuk cinta (sakar) di dalam Tuhan, atau dari kedua-duanya (dari mendalamnya cinta dalam dzikir dan fana al-fana).

Mendalamnya cinta rindu terhadap Tuhan menurut ajaran tasawuf para sufi sampai mabuk cinta, sehingga meningkat menjadi wahdat al-syuhud, yakni segala yang mereka pandang tampak wajah Tuhan. 

Kemudian dari wahdat al-syuhud memuncak jadi wahdatul wujud atau monisme, segala yang ada ini adalah Allah. 

Wahdatul Wujud dalam pengertian lain maksudnya adalah suatu paham yang menyatakan antara manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud. 

Oleh ahli filsafat dan sufistik sebagai satu kesatuan antara materi dan roh, substansi (hakikat) dan forma (bentuk), antara yang tampak (lahir) dan yang batin, antara alam dan Allah, karena alam dari segi hakikatnya qadim dan berasal dari Tuhan. 

Tokoh Aliran Wahdatul Wujud 

1. Muhyiddin Ibn Al Arabi. Lahir di Marcia, Spanyol tahun 598 H. (1102 M.)

Namanya Muhammad bin Ali Ahmad bin Abdullah dengan gelar Abu Bakar, beliau disebut juga Muhyiddin dan dikenal dengan sebutan Ibnu ‘Arabi dan Al Hattami. 

Beliau mengembara dari Andalusia ke Timur, sesudah menuntut ilmu pengetahuan Fiqih Asy-Syibliyah (Sevilla). 

Dia pernah mengembara ke Mesir, Hejaz kecil, dan Asia Kecil. 

Akhirnya dia tinggal sampai wafatnya di Damaskus negeri Syam. Dia tinggal di sana dan wafatnya pada tahun 638 H. (1240 M).  

Dia adalah sufi sekaligus penulis yang produktif. Menurut Hamka, Ibn Arabi disebut sebagai orang yang telah mencapai Wahdatul Wujud. 

Dia telah menegakkan pahamnya dengan berdasarkan renungan pikir dan filsafat tasawufnya.

Ibnu Arabi tumbuh dalam fikiran ahli-ahli tasawuf Islam. Dia telah menegakkan fahamnya dengan berdasarkan renungan fikir filsafat dan dzauq tasawuf. 

Meskipun karena takut ancaman orang awam, senantiasa dia berjalan berbelit-belit sehingga lantaran kesanggupannya mencari dan memilih kata serta kefasihan dan keahliannya menyusun karangan yang dapat menghanyutkan orang, hanya sedikit yang dapat mengetahui dasar pendiriannya. 

Ia menyajikan aliran tasawufnya dengan bahasa yang agak berbelit-belit agar terhindar dari tuduhan, fitnah dan ancaman dari kaum awam. 

Bagi Ibn al-’Arabi, wujud (yang ada) itu hanya satu. Pada hakikatnya tidak ada pemisah antara manusia dengan tuhannya.

Konsep dasar pertama dari filsafat Ibn ‘Arabi adalah pengakuan bahwa hanya ada dzat tunggal saja, dan tidak ada yang mewujud selain itu. 

Istilah Arab untuk mewujud-wujud, yang dapat disamakan dengan kepribadian (eksisten). 

Ibnu Arabi telah menegakkan paham serba Esa dan menolak paham serba Dua. Segala sesuatu hanyalah satu. 

Hal ini hampir sama dengan paham phitagoras dalam dunia filsafat, yang menyatakan bahwa ”jiwa segala bilangan adalah satu”.

Maka ketika dia mengatakan bahwa hanya ada zat tunggal, menurutnya yaitu: 
  • Bahwa semua yang ada adalah zat tunggal. 
  • Bahwa zat tunggal tidak terpecah ke dalam bagiannya. 
  • Bahwa tidaklah ada berlebih di sini atau juga tidak kekurangan di sana. 
Oleh sebab itu, dalam setiap kepribadian tidaklah ada sesuatu kecuali zat tunggal, yang secara mutlak tak terpecahkan / terbagikan (indivisible) dan seragam (homogen).

Jika dipandang antara Khalik dan makhluk itu satu wujud, kenapa nampaknya dua? 

Ibnu Arabi menjawab,

”Sebabnya ialah karena insan tidak memandang dari wajah yang Satu. 

Mereka memandang kepada keduanya dengan pandangan bahwa wajah pertama ialah Haqq dan wajah yang kedua ialah Khalik”. 

Namun jikalau dipandang dalam ’ain yang satu dan wajah yang satu, atau dia adalah wajah yang dua dari hakikat yang satu, tentulah manusia akan memperdekat haqiqat Zat Yang Esa, yang tiada berbilang dan tidak berpisah.

Intinya adalah satu kesatuan yang utuh. 

Hakikat interpretasi ini mengandung makna bahwa wajah sebenarnya satu, tetapi jika kita perbanyak cermin maka ia menjadi banyak. 

2. Ibnu Sab’in Ibnu Sab’in adalah seorang sufi dan juga Filosof dari Andalusia, yang mempunyai nama lengkap, ‘Abdul Haqq ibn Ibrahim Muhammad ibn Nashr.

Beliau adalah seorang ahli sufi terkenal dalam aliran wahdatul wujud dan mencampurkan tasawuf dengan filsafat. 

Dia dipanggil Ibn Sab’in dan digelari Quthbuddin, kadang juga dipanggil Abu Muhammad. 

Beliau lahir tahun 614 H. (1217-1218 M) di Murcia. Dalam suatu pendapat dia lahir pada tahun 613 H. (1215 M.). 

Ibnu Sab’in tumbuh dalam keluarga bangsawan, Ayahnya adalah penguasa di Murcia. Ibnu Sabin berguru kepada Ibnu Dihaq yang dikenal dengan Ibnu Mir’ah (wafat 611 H.) pen-syarah karya al Juwaini, al-Irsyad, selain itu Ibnu Sab’in juga berguru pada al-Yuni (wafat 622 H.), dan al-Hurrani (wafat 538 H.), keduanya ahli huruf dan nama.

Mulanya Ibnu Sab’in seorang ahli Fiqih, kemudian tertarik mendalami Ilmu Tasawuf sampai menjadi salah seorang imamnya dan mengungkapkan pendapatnya dari hasil pengalaman spiritualitasnya.

Hubungan antara Ibnu Sab’in dan para gurunya banyak terjalin lewat kitab dari pada secara langsung.

Pada tahun 640 Ibnu Sab’in dan muridnya pergi ke Afrika, karena faktor-faktor politik di negerinya, dia dianggap melemahkan Dinasti al-Muwahhidin serta berakhirnya kebebasan berfikir di Andalusia. 

Ibnu Sab’in singgah di kota Ceuta, Afrika Utara, di kota ini pula dia menikahi seorang wanita dan membangun zawiyah, dia banyak menelaah kitab-kitab tasawuf dan memberikan pengajaran. 

Penguasa kota, Ibn Khaladh, mengusirnya dari kota ini karena dianggap sebagai Filosof. 

Kemudian dia pergi ke ‘Adwah, Bijayah, terus ke Qabis, Tunisia. 

Pada tahun 648 H. Ibnu Sab’in sampai di Kairo, tetapi para fuqoha di dunia Islam bagian barat mengirim surat ke Mesir yang menyatakan dia adalah atheis. 

Ibnu Sab’in memutuskan untuk ke Mekah.

Ibnu Sab’in ketika di Makkah memperoleh kehidupan yang tenang dan menyusun karyanya. 

Dan meninggal dunia pada tahun 669 Hijriyah dalam usia sekitar 54 tahun. Ibnu Sab’in meninggalkan empat puluh satu buah karya, yang menguraikan Ilmu Tasawuf. 

Pada umumnya karya beliau bercorak simbolik, karyanya yang terpenting Budd al-Arif.

Ibnu Sab’in, menganut paham Kesatuan Mutlak Wahdatul Wujud, yaitu wujud adalah satu alias Wujud Allah semata.

Tasawufnya menyerupai jalan tasawuf Suhrawardi dan Ibnu Arabi, yakni gabungan antara filsafat dan tasawuf. 

Madzhab Ibnu Sab’in tentang hubbul Ilahi dipengaruhi aliran Rabi’atul Adawiyah. 

Bahwasanya beramal bukan karena mengharap upah surga dan meninggalkan dosa dan bukan pula karena takut neraka, akan tetapi beramal itu karena cinta kepada Allah yang tetap ada dalam dirinya. 

Wujud-wujud lainnya hanya wujud Yang Satu itu sendiri. 

Jelasnya wujud-wujud yang lain itu hakikatnya sama sekali tidak lebih dari wujud Yang Satu semata. 

Dalam hal ini, Ibnu Sab’in menempatkan ketuhanan pada tempat pertama. 

Sebab menurutnya, Wujud Allah adalah asal segala yang ada masa lalu, masa kini, maupun masa depan. 

Sementara wujud yang tampak jelas justru dia rujukkan pada wujud mutlak yang rohaniah. 

Berarti paham ini menafsirkan wujud dalam corak spiritual bukan materi. 

Bahkan dikatakan bahwa permulaan dan akhir (kesudahan) wujud adalah Allah. 

Dengan demikian yang ada itu hanya satu pada hakikatnya. 

Bahkan Allah merupakan wujud semesta. Alam yang nampak ini hanyalah wujud majazi (bukan hakiki). 

Pemikiran Ibnu Sab’in merujuk pada dalil-dalil Al-Qur’an, misal firman Allah: 
“Dia itulah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Dzahir dan Yang Bathin,” 
dan firman-Nya: 
“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Zat Allah (yang tetap).”
Dia juga memperkuatnya dengan hadits Nabi Muhammad SAW, seperti Hadits Qudsi yang berikut : 
“Apa yang pertama-tama diciptakan Allah adalah akal budi. Maka firman Allah kepadanya, terimalah! ia pun lalu menerimanya…”
Adapun tentang al-Hallaj sejarah hidupnya secara global sudah diungkapkan dalam kajian hulul. 

Dan nampaknya antara wahdatul wujud dan hulul punya hubungan yang erat. 

Yaitu sama-sama bentuk penyatuan antara manusia dan Tuhan; hanya bedanya dalam hulul eksistensi manusia dianggap ada (dalam penyatuan), sedangkan dalam wahdatul wujud eksistensi manusia dianggap hancur lebur.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Tentang Insan Kamil

Insan Kamil Insan Kamil . Insan Kamil berasal dari gabungan dua kata bahasa Arab, insan dan kamil . Insan berarti manusia, kamil berarti sempurna. Jadi secara bahasa insan kamil mengandung makna manusia sempurna ( Perfect Man ), yakni manusia yang dekat (qarib dengan Allah) dan terbina potensi ruhaniahnya sehingga dapat berfungsi secara optimal.  Inilah manusia seutuhnya yang mempunyai ketinggian derajat di hadapan Tuhannya, sehingga mencapai tingkat kesempurnaan tauhid dan akhlak mulia.  Manusia sempurna ( insan kamil ) menurut Abdul Karim al-Jilli (wafat 1428 M.) sebagaimana dikutip oleh A. Mustofa, adalah manusia cerminan Tuhan atau manusia kopi Tuhan.  Dengan kata lain manusia yang sudah mengenal eksistensi dirinya sendiri dan memiliki sifat-sifat yang mulia. Secara umum dalam ajaran tasawuf yang dimaksud insan kamil adalah manusia yang telah memiliki dalam dirinya Nur Muhammad yang disebut dengan Al-Haqiqatul Muhammadiyyah .  Dalam pandangan Ibnu ’Arabi ...

Inilah 7 Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang

Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang Menurut Murtadha Muthahhari, ada jenis akhlak yang didasarkan pada ego.Ini merupakan jenis akhlak yang dipengaruhi hawa nafsu.  Pandangan akhlak seperti ini diantaranya dikemukakan oleh Nitsche. Akhlak komunis pun demikian adanya. Yang ideal adalah akhlak yang timbul dari nilai-nilai Ilahiyah dengan kesadaran pribadi mengarah pada ilham taqwa.  Apabila ditinjau dari segi akhlak kejiwaan, seseorang bertindak dan berbuat atas dasar pokok-pokok berikut ini:  1. Insting (gharizah/naluri).  Insting merupakan seperangkat tabi’at yang dibawa manusia sejak lahir.  Para psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku, misalkan naluri makan, senang dengan lawan jenis (seksual instinct), naluri keibubapakan (cinta orang tua kepada anaknya dan sebaliknya), kesadaran dalam ber-Tuhan, dan naluri mempertahankan diri (berjuangan/combative instinct).  2. Adat kebiasaan....

Membahas Teori Pemikiran Wahdatul Wujud

Membahas Teori Pemikiran Wahdatul Wujud Secara historis, teori wahdatul wujud pada mulanya adalah teori yang disusun Ibnu Arabi . Ia lebih bernuansa sufistik ketimbang filsafat.  Banyak penafsiran telah diberikan tentang teori ini, dari yang sangat ekstrem sampai moderat.  Mungkin yang paling ekstrem adalah Ibnu Sab’in yang menyatakan bahwa hanya Tuhan yang eksis sementara selain Tuhan tak ada yang eksis.  Ada lagi yang ekstrem yang menyatakan bahwa seluruh yang berwujud selain Tuhan hanyalah tajalliyat (manifestasi) dari asma’ dan sifat-sifat tuhan.  Namun Mulla Sadra melihat bahwa Yang Ada Sebagai Yang Ada meskipun Satu, namun ia memiliki intensitas yang membentang dari yang nama Yang Ada.  Sifat Yang Ada-nya Tuhan Mutlak, sementara yang ada lain hanya bersifat Yang Ada Dalam Kemungkinan.  Ia persis seperti matahari dan sinarnya. Matahari tentu berbeda dengan sinarnya. Namun dalam masa yang sama, sinar matahari tiada lain adalah matahari itu sendiri. Y...

Memahami Karamah Waliyullah

Memahami Karamah Waliyullah  Allah SWT memiliki para wali ( waliyullah ) yang berasal dari hamba-hamba-Nya yang paling shalih dan ta’at kepada-Nya.  Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya, mereka memerintah dan melarang atas dasar perintah dan larangan Allah.  Dengan demikian mereka diberi karamah ( kemuliaan ) oleh Allah Yang Maha Pengasih.  Pemahaman karamah ada yang memandang maksudnya kepada keramat seseorang yakni adanya hal-hal yang luar biasa, ada pula yang memandang sesuai dengan arti lafdzi-nya yaitu mempunyai kemuliaan dari Allah. Sejak zaman dahulu, sebagian orang meyakini adanya hal-hal yang luar biasa pada sebagian orang shalih (para waliyullah ) dan meyakini pula bahwa mereka ini mempunyai kedudukan istimewa di sisi Allah. Keberadaannya yang mendatangkan berkah tersebut karena mereka merupakan panutan umat manusia dan memberi penerangan kepada umat manusia menuju jalan yang diridhai Allah dan rasul-Nya...

Hikmah Perjalanan Tahap Kedua Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as.

Hikmah Perjalanan Tahap Kedua Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as. Perjalanan tahap kedua adalah usaha seorang murid untuk membangun komitmen (mubaya‘ah) kepada guru mursyidnya .  Seorang murid harus mampu melaksanakan apa-apa yang sudah disepakati dengan guru mursyidnya , itu sebagai hal yang wajib dikerjakan berkaitan dengan janji ( bai‘at ) yang sudah dilaksanakan.  Pelaksanaan bai‘at seperti itu juga dilaksanakan Rasulullah saw. terhadap para sahabat sebagai janji setia untuk bersedia mengikuti beliau:  "Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar'. (QS. al-Fath : 10). Janji seorang murid di hadapan guru mursyidnya hanyalah pelaksanaan syari‘at secara lahir sedangkan secara hak...

Waliyullah, Eksistensi dan Kedudukannya

Waliyullah / Wali Allah Waliyullah merupakan gabungan dari lafadz “ wali ” dan “ Allah ”. Kata “ wali ” adalah bentuk mufrad (singular), sedangkan bentuk jamak-nya (plural) adalah “ awliya ”.  Wali Allah artinya kekasih Allah. Jadi bentuk jamak-nya awliya Allah (para kekasih Allah).  Dikatakan kekasih Allah karena ia sangat dekat dengan Allah, sehingga Allah menjadi pemelihara dan penolong bagi kekasih-Nya.  Kata “ wali ” itu lawan kata dari “’ Aduww ” (musuh) seperti dikatakan : “setiap orang yang mewalikan kepada seseorang adalah dia walinya”.  Al-Wali termasuk nama nama Allah yang berarti penolong. Oleh karena itu wali berarti kekasih, pelindung, penolong, dan kawan; yang dimaksud di sini adalah kekasih atau kesayangan Allah SWT.  Kata “ wali ” dapat digunakan dalam arti orang yang melakukan sesuatu (fa’il) dan dapat pula digunakan sebagai yang dikenakan  sesuatu (maf’ul). Dr. Simuh memahami bahwa waliyullah adalah orang-orang yang dapat mencapai ...

Ilmu Laduni Adalah Buah Cinta Yang Hakiki

Ilmu Laduni Adalah Buah Cinta Yang Hakiki  Firman Allah Ta‘ala:  "Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur'an, Dia menciptakan manusia* Mengajarinya Al-Bayan ". (QS. ar-Rahman : 1-4).  Untuk menafsirkan ayat-ayat di atas ( surat ar Rahman : 1-4 ), marilah kita menggunakan bahasa secara tafsiriyah , yakni cara menafsirkan ayat-ayat al-Qur‘an yang banyak digunakan oleh para Ulama ahli tafsir terdahulu.   Surat ini dibuka dengan lafad " Ar-Rahman ". Artinya : Tuhan yang Maha Pemurah.  Ar-Rahman adalah salah satu nama Allah SWT. dari nama-Nya yang sembilan puluh sembilan.  Nama tersebut adalah satu-satunya nama yang tidak diberikan juga kepada siapapun dari makhluk-Nya.  Tidak seperti nama-nama-Nya yang lain, Ar-Rahim misalnya, ar-Rahim adalah nama-Nya yang juga diberikan-Nya sebagai nama Rasulullah SAW. Allah menyatakan hal itu dengan firman-Nya :  "Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu‘min ". (QS. at-Taubah ...

Ilmu Akhlak pada Agama Islam

Ilmu Akhlak pada Agama Islam Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah - perintah Allah dan larangan - larangan-Nya.  Akhlak harus ada serta nampak pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.  Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.  Semua ini terkandung dalam ajaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.  Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Tokoh-tokoh ini tidak lain adalah Nabi - nabi yang tercatat dan diabadikan dalam kitab suciAl-Qur’an.  1. Nabi Ibrahim AS Nabi Ibrahim AS mempunyai sebutan sebagai Ayahnya semua nabi dan rasul, yang membawa dan menyebarkan ajaran tauhid kepada umat manusia. Ia adalah orang yang berani menanggung resiko dalam m...

Sumber Akhlak, Moral dan Etika dan Manfaat Mempelajarinya

Sumber Akhlak, Moral dan Etika dan Manfaat Mempelajarinya Akhlak yang mulia merupakan unsur yang sangat utama di dalam risalah Islamiyah.  Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kata akhlak, moral dan etika yang ketiganya merupakan tingkah laku manusia, hampir sama, namun jika dilihat dari sumbernya, ketiga kata tersebut akan berbeda.  Akhlak bersumber dari agama wahyu. Moral bersumber dari adat istiadat masyarakat. Sementara etika bersumber dari filsafat moral dan akal pikiran.  Dalam kajian ini mengarah pada konseptual akhlak Islami dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadits Nabawi dikomparasikan dengan materi-materi yang sudah berkembang.  Sikap dan prilaku akhlak Islami yang sempurna itu harus berpegang pada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Orang yang paling mengerti tentang pengamalan Al-Qur’an adalah Nabi sendiri. Rasulullah SAW adalah prototipe manusia yang berakhlak sempurna. Allah SWT menyebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Qalam ayat ke 4,  "...

Urgensi dan Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak pada Zaman Modern

Urgensi dan Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak pada Zaman Modern Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah- perintah Allah dan larangan-larangan-Nya.  Akhlak harus ada serta terlihat pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.  Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.  Semua ini terkandung dalam ajaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.  Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia.  Agama Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dialah pencipta, pemelihara, pemberi rahmat, pelindung terhadap a...