Rahmat Sebelum Ilmu ( Sebab Pertama)

Rahmat Sebelum Ilmu ( Sebab Pertama)
Rahmat Sebelum Ilmu ( Sebab Pertama)

Ilmu Laduni akan diberikan Allah SWT. hanya kepada seorang hamba yang dikehendaki dan dicintai-Nya. Yaitu seorang hamba pilihan, yang sejak zaman azali telah terpilih untuk menjadi orang pilihan-Nya, itu sebagaimana gambaran yang dipersaksikan oleh sebuah ayat dari firman-Nya: 
"Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan (yang terdahulu) yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka".  QS. al-Anbiya : 101.  
Oleh karena orang tersebut sejak zaman azali sudah ditetapkan menjadi orang baik, maka sejak dilahirkan di dunia sampai dengan matinya mereka akan dijauhkan dari api neraka. 

Mereka dijauhkan dari sebab-sebab yang dapat menyebabkan masuk neraka, baik ilmu, amal maupun karakter

Oleh karena aspek ilmu pengetahuan adalah bagian terpenting "yang akan menjadikan manusia menjadi baik atau jelek" maka aspek ilmu inilah yang paling mendapatkan penjagaan dan pemeliharaan dari Allah Ta‘ala.  

Ilmu Laduni itu diturunkan kepada seorang hamba yang dikehendaki, baik sebagai inspirasi ataupun ilham, bahkan langsung melalui hatinya, sebagaimana yang telah ditegaskan Allah Ta‘ala dengan firman-Nya: 
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya". QS. asy Syams : 8.
Hanya saja sebagian besar manusia kurang tanggap terhadap gejala yang datang pada dirinya, yaitu disaat ada inspirasi atau ilham Ilahiyah masuk di dalam hatinya. 

Oleh karena gejala-gejala yang masuk di dalam hati tersebut tidak dirasakan sebagai sesuatu yang didatangkan Allah untuk dirinya, padahal bisa jadi hal tersebut sebagai tarbiyah untuk hamba yang dicintai-Nya, maka yang mestinya sangat berharga itu menjadi hilang begitu saja dan tidak membekas sama sekali.  

Kalau saja manusia mampu tanggap dan cermat terhadap setiap yang gerak dalam jiwanya, yang masuk dan perubahan di dalam hatinya, terlebih ketika yang masuk itu bentuk wujudnya berupa pengertian dan pemahaman yang sebelumnya tidak pernah dipahami, bahkan pemahaman itu terkadang merupakan solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi, maka disamping manusia itu akan mendapatkan jalan keluar untuk menyelesaikan problema kehidupan yang sedang membelit hidupnya, juga semakin lama "ketika hal yang halus-halus tersebut semakin dipahami" seorang hamba akan mampu mengenali apa-apa yang dikehendaki Allah Ta‘ala untuk dirinya. 

Sesungguhnya setiap yang datang kepada orang beriman pasti datangnya dari Allah Ta‘ala, terlebih yang datangnya dari arah yang tidak terduga. 

Sebagaimana yang telah dinyatakan dengan firmanNya:
"Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya". QS. ath-Tholaq/3. 
Adakah rizki yang lebih utama dibandingkan ilmu pengetahuan..?.  

Namun, oleh karena inspirasi atau ilham yang masuk di dalam hati itu tersia-siakan begitu saja, yang semestinya berharga itu tidak dihargai karena tidak dirasakan datang dari Allah Ta‘ala, maka manusia akan mengalami kerugian dalam beberapa hal. 

Pertama: kenikmatan pemberian itu musnah. 

Kedua: karena pemberian itu tidak dirasakan nikmat, maka tidak disyukuri. 

Ketiga: ketika anugerah itu tidak disyukuri, maka dengan anugerah itu manusia itu malah akan mendapatkan siksa. 

Allah Ta‘ala telah menyatakan dengan firman-Nya: 
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". QS. Ibrahim : 7. 
Ilmu Laduni itu hanya diturunkan kepada hati seorang hamba yang sudah siap menerima.

Oleh karena itu, pemahaman tentang Ilmu Laduni secara teori adalah hal yang mutlak adanya, sebelum orang tersebut menindaklanjuti pemahaman itu dengan pencarian-pencarian secara amaliyah atau praktek. 

Dengan pemahaman yang benar, seorang hamba "yang mengharapkan mendapatkan ilmu laduni" tentunya akan menyesuaikan segala amal perbuatan serta syarat-syarat yang lain, sesuai dengan pemahaman yang dimiliki tersebut.  

Melalui bimbingan seorang guru ahlinya, dengan izin Allah Ta‘ala setiap permintaan hambaNya akan dikabulkan. Allah Ta‘ala menjamin dengan firman-Nya: 
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu". QS. al Mu‘min : 60. 
Selanjutnya, dengan menempuh latihan-latihan yang harus dijalani serta menyelesaikan tahapan yang harus dicapai, hati seorang salik akan menjadi semakin siap untuk menerima, walau datangnya Ilmu Laduni itu seringkali dengan cara yang disamarkan. 

Ilmu Laduni adalah ilmu pengetahuan yang berkedudukan di dalam hati bukan di akal :
"Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim". QS. al-Ankabut : 48.
Jika diibaratkan dengan minuman, maka yang dimaksud Ilmu Laduni itu bukan ilmu atau teori tentang resep (komposisi) minuman yang menyegarkan, melainkan minum dan merasakan minuman yang menyegarkan itu sehingga rasa haus yang menyakitkan menjadi hilang.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Memahami Konsep Fana dan Baqa Dalam Ilmu Tasawuf

Fana dan Baqa Fana dan Baqa . Dalam kajian tasawuf antara fana dan baqa tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan baqa merupakan sisi lain yang terikat dari fana. Bahkan dalam Sayyid Mahmud Abul Faidh al-Manufi al Husaini menggabungkan tema kajian fana dan baqa (pada satu judul) dalam karyanya Jamharotul Awliya.  Fana diambil dari kata faniya (fana)-yafna-fana ’, secara bahasa berarti menjadi lenyap, hilang, dan tak kekal. Dalam sumber lain berasal dari kata fana-yafni- fana ’ yang mengandung makna hilang hancur. Sedangkan baqa berasal dari kata baqiya-yabqa- baqa ’ yang berarti dawam atau terus menerus, tidak lenyap dan tidak hancur. Fana dalam istilah Ilmu Tasawuf  adalah suatu tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi menjelang ke tingkat ittihad , yakni hilangnya kesadaran tentang dirinya dari seluruh makhluk dan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta yang ada hanya Allah SWT.  Dengan perkataan lain suatu keadaan mental hubungan manusia dan alam...

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli Untuk menyingkap tabir yang membatasi diri dengan Tuhan, ada sistem yang dapat digunakan untuk riyadhah al-nafsiyah.  Karakteristik ini tersusun dalam  tiga tingkat yang dinamakan takhalli , tahalli , dan tajalli .  Takhalli ialah membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela, kotor hati, maksiat lahir dan maksiat batin.  Pembersihan ini dalam rangka, melepaskan diri dari perangai yang tidak baik, yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama.  Sifat-sifat tercela ini merupakan pengganggu dan penghalang utama manusia dalam berhubungan dengan Allah. Tahalli merupakan pengisian diri dengan sifat-sifat terpuji, menyinari hati dengan taat lahir dan batin.  Hati yang demikian ini dapat menerima pancaran Nurullah dengan mudah.  Oleh karenanya segala perbuatan dan tindakannya selalu berdasarkan dengan niat yang ikhlas (suci dari riya). Dan amal ibadahnya itu tidak lain kecuali mencari ridha Allah SWT.  Untuk itulah man...