Thariqat ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf )

Thariqat ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf )

Untuk mencapai tujuan tertentu memerlukan jalan dan cara. Tanpa mengetahui jalannya, tentu sulit untuk mencapai maksud dan tujuan. 

Hal ini dinamakan thariqat, dari segi persamaan katanya berarti “madzhab” yang artinya “jalan”.

Kata tarekat berasal dari kata thariqah, yang berarti: 

(1) jalan atau petunjuk jalan atau cara,, 
(2) metode atau sistem /uslub, 
(3) madzhab atau aliran atau haluan, 
(4) keadaan, dan (tiang tempat berteduh atau tongkat atau payung (’amud al-mizalah). 

Yang pada intinya bermakna metode, cara atau jalan menuju Allah dan Rasul-Nya di bawah bimbingan seorang syekh yang Arif Billah (guru/mursyid).

Mengetahui adanya jalan perlu pula mengetahui “cara” melintas jalan agar tujuan tidak tersesat.

Kedudukan dan makna tarekat dalam syari’at Islam mengacu pada dialog interaktif antara Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad SAW tentang Iman, Islam, dan Ihsan. 

Dalam pandangan ajaran tarekat, spiritualitas pengamalan syari’at berkaitan erat dengan pengembaraan perjalanan rohani dalam bentuk hakikat suluk. 

Tujuannya adalah kebenaran, maka cara untuk melintasi jalan harus dengan benar pula. Untuk ini harus sudah ada persiapan batin, yakni sikap yang benar. 

Sikap hati yang demikian tidak akan tampil dengan sendirinya, sehingga perlu adanya latihan-latihan tertentu dengan cara-cara tertentu pula. 

Penekanan dalam thariqat itu merupakan petunjuk dalam melakukan ibadat sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan oleh Nabi SAW dan dikerjakan oleh sahabat dan tabi’in, turun-temurun sampai kepada guru-guru (mursyidin). 

Dengan demikian peraturan-peraturan yang terdapat dalam ilmu syari’at dapat dikerjakan pelaksanaannya.

Dan seperti yang telah dikemukakan oleh Syekh Zainuddin bin Ali al-Malibari dalam Hidayatu al-Adzkiya ila Thariqi al-Awliya: 

“ Thariqat adalah menjalankan amal yang lebih baik, berhati-hati dan tidak memilih kemurahan (keringanan) syara’; seperti bersikap wara’, dan riyadhah dengan ketetapan hati yang kuat.”

Dalam hal ini berarti Syari’at merupakan rambu-rambu Tuhan dalam kehidupan, sedangkan thariqat adalah bukti kepatuhan kepadaNya. 

Dengan kata lain, syari’at merupakan peraturan, sementara thariqat merupakan pelaksanaannya. 

Sekitar abad ke-2 dan ke-3 Hijriyah lahirlah kelompok - kelompok (umumnya terdiri dari golongan fuqara wal masakin) dengan metode latihan (riyadhoh), berintikan ajaran Dzikrullah. Sumber pegangan tidak lepas dari ajaran Rasulullah SAW. 

Kelompok-kelompok ini menamakan dirinya dengan nama thariqat yang berpredikat masing - masing sesuai dengan nama pembawa ajaran itu. 

Banyak ulama yang berpendapat bahwa dari sejumlah thariqat-thariqat yang tersebar di dunia, ada yang mu’tabar (diakui) dan ada juga yang ghairu mu’tabar (tidak diakui). 

Seorang tokoh thariqat terkemuka, Dr. Syekh H. Jalaluddin, telah banyak menulis tentang thariqat-thariqat, terutama tentang Qodiriyayh Naqsyabandiyyah. 

Ia mengatakan, bahwa diantara thariqat yang mu’tabar itu ada 41 macam nama

Ada beberapa nama pembawa ajaran thariqat antara lain :

Thariqat Qodariyah, Pembawa ajarannya Syekh Abdul Qadir Jaelani Qs (Qaddassallahu Sirrahu) (471-561 H.). 

Thariqat Syadzaliyah, Pembawa ajarannya Syekh Abu Hasan As-Syadzili Qs (591-615 H). 

Thariqat Naqsyabandiyah, Pembawa ajarannya Syekh Baha’uddin An Naqsyabandi Qs (717-791 H).

Thariqat Rifa’iyah, Pembawa ajaran Syekh Ahmad bin Abil-Hasan Ar-Rifa’i Qs (W.578 H). 

Thariqat Sammaniyah, Pembawa ajarannya Muhammad Samman Qs (W. 1720 M.).

Tarekat yang ada di Indonesia diantaranya: 

(1) Tarekat Qadiriyah, didirikan Syekh Abdul Qadir Jailani (1077-1166). 

Dituturkan melalui manaqib pada acara-acara tertentu. Isi manaqib adalah riwayat hidup dan perjalanan sufi Syekh Abdul Qadir sebanyak 40 episode. Berkembang di pulau Jawa.  

(2) Tarekat Rifaiyah, didirikan Syekh Rifai (1106-1118). 

Cirinya menggunakan tabuhan rebana dalam wiridnya yang diikuti dengan tarian dan permainan debus. Berkembang di Aceh, Sumatera Barat, Jawa, Sulawesi. 

(3) Tarekat Naqsyabandi, didirikan oleh Muhammad Ibn Bahauddin al Uwaisi. Berkembang di Sumatera, Jawa, Sulawesi.

Sebetulnya masih banyak lagi nama-nama thariqat yang dianggap sejalan dengan apa yang difirmankan oleh Allah SWT

“Jika mereka benar-benar istiqamah (tetap pendirian/terus menerus) di atas Thariqat (jalan) itu, sesungguhnya akan kami beri minum mereka dengan air (hikmah) yang berlimpah-limpah”. 

Seseorang yang memasuki thariqat dinamakan salik (orang yang berjalan), sedangkan cara yang ditempuh menurut cara-cara tertentu dinamakan Suluk. 

Diantara hal yang harus dilakukan adalah : Khalwat, Muhasabah, dan Mujahadah. 

Banyak hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang salik bila ingin sampai kepada tujuan, diantaranya : 

a). khalwat (nyepi/samadi). 
Di waktu khalwat ini diperlukan muraqabah (mengintip perilaku diri),. 

b). Muhasabah
(menghitung-hitung/merenungi diri mana yang baik dan terpuji dan mana yang jelek serta mana pula yang tercela). 

c). Mujahadah (tekun/rajin/sungguh-sungguh)

dan banyak lagi istilah-istilah dengan riyadhoh lahir batin, sesuai dengan petunjuk dari Syekh/Mursyid (guru).

Nicholson mengungkapkan  hasil penelitiannya, bahwa sistem hidup bersih (Zuhud) adalah dasar semua thariqat yang berbeda-beda itu, dan pada umumnya thariqat-thariqat tersebut walaupun beragam nama dan metodenya, tetapi ada beberapa ciri yang menyamakan, yaitu:

1. Ada upacara khusus ketika seseorang diterima menjadi murid (penganut). 

Adakalanya sebelum yang bersangkutan diterima menjadi penganut, dia harus terlebih dahulu menjalani masa persiapan yang berat. 

2. Memakai pakaian khusus (sedikit ada tanda pengenal). 

3. Menjalani riyadhah (latihan dasar) ber-khalwat. Menyepi dan berkonsentrasi dengan shalat dan puasa selama beberapa hari (kadang-kadang sampai 40 hari). 

4. Menekuni pembacaan dzikir tertentu (awrad) dalam waktu waktu - tertentu setiap hari, ada kalanya dengan alat-alat bantu seperti musik dan gerakan badan yang dapat membina konsentrasi ingatan. 

5. Mempercayai adanya kekuatan gaib/tenaga dalam pada mereka yang sudah terlatih, sehingga dapat berbuat hal-hal yang berlaku di luar kebiasaan. 

6. Penghormatan dan penyerahan total kepada Syekh atau pembantunya yang tidak bisa dibantah. 

Dari sistem dan metode tersebut Nicholson menyimpulkan, bahwa tarekat-tarekat sufiyah merupakan bentuk kelembagaan yang terorganisiasi untuk membina suatu pendidikan moral dan solidaritas sosial. 

Sasaran akhir dari pembinaan pribadi dalam pola hidup bertasawuf adalah hidup bersih, bersahaja, tekun beribadah kepada Allah, membimbing masyarakat ke arah yang diridhai Allah, dengan jalan pengamalan syari’ah dan penghayatan haqiqah dalam sistem / metode thariqah untuk mencapaima’rifah.

Ada beberapa term yang termasuk dalam lingkungan thariqat, yaitu: 
  • ikhlas (niat yang suci), 
  • muraqabah (merasa diintai atau diawasi oleh Tuhan), 
  • Muhasabah (koreksi diri atas pekerjaan yang dilakukan dalam hal kelalaian dan kekurangannya), 
  • tajarrud (rindu kepada Tuhan lebih tinggi dari pada rindu kepada yang selain-Nya), 
  • dan mahabbah (cinta yang sejati kepada Tuhan).

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Tentang Insan Kamil

Insan Kamil Insan Kamil . Insan Kamil berasal dari gabungan dua kata bahasa Arab, insan dan kamil . Insan berarti manusia, kamil berarti sempurna. Jadi secara bahasa insan kamil mengandung makna manusia sempurna ( Perfect Man ), yakni manusia yang dekat (qarib dengan Allah) dan terbina potensi ruhaniahnya sehingga dapat berfungsi secara optimal.  Inilah manusia seutuhnya yang mempunyai ketinggian derajat di hadapan Tuhannya, sehingga mencapai tingkat kesempurnaan tauhid dan akhlak mulia.  Manusia sempurna ( insan kamil ) menurut Abdul Karim al-Jilli (wafat 1428 M.) sebagaimana dikutip oleh A. Mustofa, adalah manusia cerminan Tuhan atau manusia kopi Tuhan.  Dengan kata lain manusia yang sudah mengenal eksistensi dirinya sendiri dan memiliki sifat-sifat yang mulia. Secara umum dalam ajaran tasawuf yang dimaksud insan kamil adalah manusia yang telah memiliki dalam dirinya Nur Muhammad yang disebut dengan Al-Haqiqatul Muhammadiyyah .  Dalam pandangan Ibnu ’Arabi ...

Inilah 7 Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang

Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang Menurut Murtadha Muthahhari, ada jenis akhlak yang didasarkan pada ego.Ini merupakan jenis akhlak yang dipengaruhi hawa nafsu.  Pandangan akhlak seperti ini diantaranya dikemukakan oleh Nitsche. Akhlak komunis pun demikian adanya. Yang ideal adalah akhlak yang timbul dari nilai-nilai Ilahiyah dengan kesadaran pribadi mengarah pada ilham taqwa.  Apabila ditinjau dari segi akhlak kejiwaan, seseorang bertindak dan berbuat atas dasar pokok-pokok berikut ini:  1. Insting (gharizah/naluri).  Insting merupakan seperangkat tabi’at yang dibawa manusia sejak lahir.  Para psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku, misalkan naluri makan, senang dengan lawan jenis (seksual instinct), naluri keibubapakan (cinta orang tua kepada anaknya dan sebaliknya), kesadaran dalam ber-Tuhan, dan naluri mempertahankan diri (berjuangan/combative instinct).  2. Adat kebiasaan....

Ilmu Akhlak pada Agama Islam

Ilmu Akhlak pada Agama Islam Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah - perintah Allah dan larangan - larangan-Nya.  Akhlak harus ada serta nampak pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.  Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.  Semua ini terkandung dalam ajaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.  Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Tokoh-tokoh ini tidak lain adalah Nabi - nabi yang tercatat dan diabadikan dalam kitab suciAl-Qur’an.  1. Nabi Ibrahim AS Nabi Ibrahim AS mempunyai sebutan sebagai Ayahnya semua nabi dan rasul, yang membawa dan menyebarkan ajaran tauhid kepada umat manusia. Ia adalah orang yang berani menanggung resiko dalam m...

Sumber Akhlak, Moral dan Etika dan Manfaat Mempelajarinya

Sumber Akhlak, Moral dan Etika dan Manfaat Mempelajarinya Akhlak yang mulia merupakan unsur yang sangat utama di dalam risalah Islamiyah.  Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kata akhlak, moral dan etika yang ketiganya merupakan tingkah laku manusia, hampir sama, namun jika dilihat dari sumbernya, ketiga kata tersebut akan berbeda.  Akhlak bersumber dari agama wahyu. Moral bersumber dari adat istiadat masyarakat. Sementara etika bersumber dari filsafat moral dan akal pikiran.  Dalam kajian ini mengarah pada konseptual akhlak Islami dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadits Nabawi dikomparasikan dengan materi-materi yang sudah berkembang.  Sikap dan prilaku akhlak Islami yang sempurna itu harus berpegang pada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Orang yang paling mengerti tentang pengamalan Al-Qur’an adalah Nabi sendiri. Rasulullah SAW adalah prototipe manusia yang berakhlak sempurna. Allah SWT menyebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Qalam ayat ke 4,  "...

Urgensi dan Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak pada Zaman Modern

Urgensi dan Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak pada Zaman Modern Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah- perintah Allah dan larangan-larangan-Nya.  Akhlak harus ada serta terlihat pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.  Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.  Semua ini terkandung dalam ajaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.  Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia.  Agama Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dialah pencipta, pemelihara, pemberi rahmat, pelindung terhadap a...

Membahas Teori Pemikiran Wahdatul Wujud

Membahas Teori Pemikiran Wahdatul Wujud Secara historis, teori wahdatul wujud pada mulanya adalah teori yang disusun Ibnu Arabi . Ia lebih bernuansa sufistik ketimbang filsafat.  Banyak penafsiran telah diberikan tentang teori ini, dari yang sangat ekstrem sampai moderat.  Mungkin yang paling ekstrem adalah Ibnu Sab’in yang menyatakan bahwa hanya Tuhan yang eksis sementara selain Tuhan tak ada yang eksis.  Ada lagi yang ekstrem yang menyatakan bahwa seluruh yang berwujud selain Tuhan hanyalah tajalliyat (manifestasi) dari asma’ dan sifat-sifat tuhan.  Namun Mulla Sadra melihat bahwa Yang Ada Sebagai Yang Ada meskipun Satu, namun ia memiliki intensitas yang membentang dari yang nama Yang Ada.  Sifat Yang Ada-nya Tuhan Mutlak, sementara yang ada lain hanya bersifat Yang Ada Dalam Kemungkinan.  Ia persis seperti matahari dan sinarnya. Matahari tentu berbeda dengan sinarnya. Namun dalam masa yang sama, sinar matahari tiada lain adalah matahari itu sendiri. Y...

Jimat Kebal Pejuang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949

Kisah Orang-Orang Kebal Pejuang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949 Tidak hanya pahlawan nasional dengan pangkat berjejeran, Anda harus tahu jika pejuang kemerdekaan Indonesia saat itu termasuk orang-orang kebal. Mereka punya peran yang tak kalah penting dengan pejuang republik, sama-sama mengangkat senjata untuk mengusir penjajah kolonial Belanda tahun 1945-1949. Menurut sejumlah pemberitaan, orang-orang tak tembus peluru ini juga pernah menempati kedudukan mentereng dalam organisasi kerakyatan. Sebagian dari mereka ada yang menjabat jadi ketua perkumpulan rakyat dan mendirikan laskar bersenjata. Bagi orang-orang kebal perang adalah hal yang biasa. Setiap hari mereka bekerja melibatkan resiko, pilihannya hanya dua, yakni hidup atau mati. Kebiasaan hidup penuh resiko itu membuat mereka maju di baris depan tatkala Belanda melakukan agresi militer di Indonesia. Seluruh ilmu kekebalan (anti peluru) mereka pakai menghadang pasukan Belanda. Jangankan timah panas yang keluar hanya dari sepucuk s...

Sebab Diturunkan Ilmu Laduni

Sebab Diturunkan Ilmu Laduni Sebagaimana yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa untuk mendapatkan Ilmu Laduni, seorang salik hanya berkewajiban membangun " sebab-sebab ".  Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pelaksanaan pengabdian yang hakiki kepada Tuhannya, dengan itu supaya orang tersebut mendapatkan " akibat " yang dijanjikan sebagai pahala dari ibadah yang dilakukan.  Pengabdian itu adalah ibadah yang Ikhlas dalam tataran Iman, bukan sekedar tataran Islam.  Sebagaimana yang diajarkan Allah kepada umat manusia melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah tentang tiga tataran pelaksanaan ibadah, secara Islam, secara Iman dan secara Ihsan.  Hadits Qudsi ini shahih dan diriwayatkan dari Abu Hurairah yang telah berkata:  Pada suatu hari, ketika Rasulullah bersama kaum muslimin, datang seorang lelaki dan bertanya kepada Baginda:  "Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dengan Iman?".  Lalu baginda beliau bersabda: "Hendaklah kamu percaya kepada Al...

Riyadhah Adalah Perjuangan Dalam Batin dan Diri Sendiri

Riyadhah Riyadhah adalah latihan-latihan fisik dan jiwa dalam rangka melawan getaran hawa nafsu dengan melakukan puasa, khalwat, bangun di tengah malam (qiyamullail), berdzikir, tidak banyak bicara, dan beribadah secara terus menerus untuk penyempurnaan diri secara konsisten. Semua kondisi puncak kebahagiaan, puncak penderitaan, puncak kegembiraan, dan puncak kesedihan merupakan wujud dari riyadhoh .  Manusia mempersiapkan diri dengan berbagai latihan-latihan jiwa untuk kesucian batin.  Kunci sukses dari Riyadhoh adalah kepasrahan diri, menerima dengan ikhlas dan lapang dada atas semua yang diberikan sang Khaliq. Dalam hubungan dengan Riyadloh , berkaitan dengan tiga hal berikut ini: Takhalli ( Takholli minal akhlaaqil madzmuumah, lepaskan dirimu dari perangai tercela).  Menghapus perbuatan tercela dan dalam mencapai Asmaul Husna, harus ada sifat menghayati, bertobat dengan cara istiqomah dan ikhlas. Tahalli ( Tahalli nafsaka bil akhlaaqil mahmuudah, isilah jiwamu de...

Ma’rifat ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf )

Ma’rifat ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf ) Ma’rifat. Kata ma’rifat berasal dari kata ‘arafa yang artinya mengenal dan paham. Ma’rifat menggambarkan hubungan rapat dalam bentuk gnosis, pengetahuan dengan hati sanubari.  Pengetahuan ini diperoleh dengan kesungguhan dan usaha kerja keras, sehingga mencapai puncak dari tujuan seorang Salik.  Hal ini dicapai dengan sinar Allah, hidayahNya, Qudrat dan Iradat-Nya. Sebagaimana telah dipahami, ma’rifat adalah mengetahui Tuhan dari dekat. Oleh karenanya hati sanubari dapat melihat Tuhan. Tujuan utama yang menjadi inti ajaran tasawuf adalah mencapai penghayatan ma’rifat pada dzat Allah.  Ma’rifat ini dalam tasawuf adalah penghayatan atau pengalaman kejiwaan. Oleh karena itu alat untuk menghayati Dzat Allah bukan pikiran atau panca indra, akan tetapi hati atau kalbu.  Dengan demikian, orang-orang sufi mengaitkan kedua mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, maka mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang di...