Memahami Konsep Muroqobah dan Tingkatannya

Muroqobah
Muroqobah. Muroqobah dalam makna harfiah berarti awas mengawasi atau saling mengawasi (dalam Ilmu Shorof dalam kategori bina musyarokah). 

Secara bahasa muroqobah mengandung makna  senantiasa mengamat - amati tujuan atau menantikan sesuatu dengan penuh perhatian (mawas diri). 

Sedangkan menurut terminologi berarti melestarikan pengamatan kepada Allah SWT dengan hatinya dalam arti terus menerus kesadaran seorang hamba atas pengawasan Allah SWT terhadap semua keadaannya. 

Sehingga manusia mengamati pekerjaan dan hukum - hukum-Nya dengan penuh perasaan kepada Allah SWT.

Dalam pandangan Imam al-Qusyairy, muroqobah ialah: “keadaan/kesadaran seseorang meyakini sepenuh hati bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi kita. Tuhan mengetahui seluruh gerak-gerik kita dan bahkan segala yang terlintas dalam hati diketahui Allah.”

Artinya, muroqobah ialah keadaan hamba tahu dan sadar dengan sepenuh hati bahwa Tuhan selalu melihatnya.

Muroqobah merupakan ilmu untuk melihat Allah SWT. Sedangkan yang konsisten terhadap ilmu itu adalah yang mengawasi, menjaga, atau merasa dirinya selalu diawasi oleh Allah SWT sehingga membentuk sikap yang selalu awas pada hukum - hukum Allah SWT.

Oleh karena itu orang yang sudah ber-muroqobah dengan Allah dalam hatinya maka dirinya akan terhindar dari berbuat dosa secara sadar. 

Hal ini mengandung makna bahwa orang yang selalu ber-muroqobah kepada Allah, pasti ia tidak mengerjakan dosa lagi, karena Allah telah menjauhkannya dari perbuatan dosa.

Seorang ahli Tasawuf Nasrabazdy berkata, dalam kitab Al-Risalah al Qusayriyyah, “Adapun harapan baik itu, adalah menggerakkan kamu supaya berbuat amal sholeh, khauf (takut) dan menjauhkan kamu dari maksiat. Adapun Muroqobah, adalah membawa kamu ke jalan yang benar.” 

Nasrabazdy bermaksud bahwa Muroqobah akan menuntun kita ke jalan yang benar dan menjauhkan dari dosa karena selalu merasa diawasi Allah.

Berbeda dengan orang munafik, ia takut diawasi orang lain, jadi kalau tidak dilihat orang maka ia berani berbuat dosa. 

Sebagaimana dalam khalwat yang tujuannya adalah untuk selalu hati hadir dengan Allah SWT maka dalam muroqobah merasa selalu dalam pengawasan Allah SWT. 

Dalam kaitan ini, orang yang tidak ber-muroqobah dengan Allah, tidaklah ia mempunyai pengawal pada kebenaran, dan pengawal yang ada pada dirinya hanyalah syaithan yang menjerumuskannya pada perbuatan maksiat dan perbuatan dosa.

Tingkatan Muroqobah:

1. Muroqobatul Qalbi,
kalbunya selalu waspada dan selalu diperingatkan agar tidak keluar dari kebersamaannya dengan Allah. 

2. Muroqobatul Ruhi, 
kewaspadaan dan peringatan terhadap Ruh, agar selalu dalam pengawasan dan pengintaian Allah.

3. Muroqobatus Sirri, 
kewaspadaan dan peringatan terhadap sirr agar selalu meningkatkan amal ibadahnya dan memperbaiki perilakunya.

Cara ber-muroqobah itu dapat dilakukan diantaranya dengan duduk bersimpuh di hadapan Allah SWT dengan berdzikir dan menyatukan fikiran hanya ditujukan kepada Sang Maha Pencipta setelah sebelumnya melaksanakan qiyamullail (sholat tahajjud, hajat, dan sunnah-sunnah lainnya)

Atau dengan cara sesudah wudhu’ duduk dengan pakaian bersih, duduk menekur di lantai masjid sambil berdzikir dengan lisan menunggu saatnya berhadapan dengan Tuhan melalui dzauq dan bashiroh.

Dalam sebuah Hadits Qudsi Allah berfirman: 
"Hai hambaku, jadikanlah Aku tempat perhatianmu, niscaya Aku penuhi pula perhatianmu itu. Dimana Aku ada karena kemauanmu, maka engkau itu berada di tempat jauh dari Ku. Dimana kamu berada karena kehendakKu (Allah) maka engkau itu berada di dekat Aku. Maka pilihlah mana yang lebih baik pada dirimu!”
Seorang Ahli Tasawuf berkata: “Bahwa sesungguhnya, jauhnya seorang hamba dari Tuhannya, hanya karena buruknya adab tingkah lakunya.” 

Muroqobah maksudnya adalah merasakan kesertaan Allah SWT dalam setiap keadaan.

Allah berfirman dalam surat al-Syu’ara ayat 218 - 219 : 
Allah yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan melihat pula perubahan gerak badanmu diantara orang-orang yang sujud.”
Ayat di atas menunjukkan bahwa setiap amal manusia tidak akan terlepas dari monitor Allah SWT. 

Oleh karena itu, agar kita mencapai derajat taqwa dalam setiap amal yang kita lakukan harus diiringi dengan keyakinan bahwa Allah selalu memonitor, memperhatikan, dan mengawasi dalam segala ucapan, perbuatan, dan amal tingkah laku kita.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Memahami Konsep Fana dan Baqa Dalam Ilmu Tasawuf

Fana dan Baqa Fana dan Baqa . Dalam kajian tasawuf antara fana dan baqa tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan baqa merupakan sisi lain yang terikat dari fana. Bahkan dalam Sayyid Mahmud Abul Faidh al-Manufi al Husaini menggabungkan tema kajian fana dan baqa (pada satu judul) dalam karyanya Jamharotul Awliya.  Fana diambil dari kata faniya (fana)-yafna-fana ’, secara bahasa berarti menjadi lenyap, hilang, dan tak kekal. Dalam sumber lain berasal dari kata fana-yafni- fana ’ yang mengandung makna hilang hancur. Sedangkan baqa berasal dari kata baqiya-yabqa- baqa ’ yang berarti dawam atau terus menerus, tidak lenyap dan tidak hancur. Fana dalam istilah Ilmu Tasawuf  adalah suatu tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi menjelang ke tingkat ittihad , yakni hilangnya kesadaran tentang dirinya dari seluruh makhluk dan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta yang ada hanya Allah SWT.  Dengan perkataan lain suatu keadaan mental hubungan manusia dan alam...