Dasar-Dasar Ilmu Tasawuf Dalam Al-Qur’an

Dasar-Dasar Ilmu Tasawuf Dalam Al-Qur’an

Dalam literatur Barat, sufisme (tasawuf) masih sering diartikan sama persis denganmystisism (mistik), yang sekarang sudah punya konotasi lain, dan dalam beberapa hal di Indonesia sudah punya arti tersendiri pula, dan biasanya disamakan dengan kebatinan, sudah berbau jimat, dukun dan sebagainya. Bahkan ada yang menyamakan dengan syirik. 

Agaknya istilah sufism yang sering dipakai dalam literatur bahasa Inggris sudah memberi arti adanya perbedaan itu. Malah kadang diberi tambahan, misalnya Nicholson dengan kata Mystical Sufism.

Berkaitan dengan masalah itu, Al-Qur’an menjadi sumber dan dasar dari tasawuf serta amalannya, paling tidak tampak dari empat segi.

Pertama, Al-Qur’an penuh dengan gambaran kehidupan tasawuf dan merangsang untuk hidup secara sufi. 

Kedua, Al-Qur’an merupakan sumber dari konsep-konsep yang berkembang dalam dunia tasawuf. 

Ketiga, Al-Qur’an banyak sekali berbicara dengan hati dan perasaan. 

Di sini Al-Qur’an banyak membentuk, mempengaruhi, atau mengubah manusia dengan bahasa hati, bahasa sufi, agar menjadi manusia yang berkepribadian sufi yang menyatu dalam dirinya secara harmonis perasaan dekat, takut, dan cinta pada Tuhan yang tergetar hatinya saat mendengar ayat-ayat Al-Qur’an. 

Dengan demikian, Al-Qur’an menjadi sumber yang sebenarnya dari metode tarekat. 

Keempat, Al-Qur’an sering menggambarkan Tuhan dengan gambaran yang hanya dapat didekati secara tepat melalui tasawuf.  

Bila gambaran itu didekati atau diterangkan dengan ilmu kalam atau filsafat akan tampak sebagai pemerkosa bahasa dan artinya menjadi dangkal. 

Pada hakikatnya, seorang ahli tasawuf Islami itu akan tunduk pada agamanya, melaksanakan ibadat-ibadat yang diperintahkan, iman itu diyakininya  dalam hati, menghadap selalu pada Allah memikirkan selalu sifat dan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Tasawuf Islam yang lurus/benar adalah suatu usaha agar seorang mukmin dapat mencapai derajat yang benar melalui “Ihsan”. 

Ihsan dalam hadits Nabi yaitu manusia menyembah pada Allah yang seolah-olah manusia itu melihat Allah, dan jika manusia itu tidak dapat melihat-Nya, maka Allah itu melihat manusia tersebut. 

Imam Sahal Tusturi seorang ahli tasawuf telah mengemukakan tentang prinsip tasawuf, yaitu :

 “Prinsip kami ada enam macam”:
  1. Berpedoman kepada kitab Allah (Al-Qur’an). 
  2. Mengikuti Sunnah Rasulullah (Hadits). 
  3. Makan makanan yang halal. 
  4. Tidak menyakiti manusia (termasuk binatang). 
  5. Menjauhkan diri dari dosa. 
  6. Melaksanakan ketetapan hukum (yaitu segala peraturan agama Islam)”. 
Pandangan Imam Sya’rani tentang tasawuf: 
  1. Jalan pada Allah harus dimengerti dulu ilmu syari’at.
  2. Diketahuinya ilmu tersebut baik yang khusus maupun yang umum. 
  3. Memiliki keahlian dalam bidang Bahasa Arab. 
  4. Setiap ahli tasawuf haruslah sebagai seorang ahli fiqh. 
  5. Jika ada seorang wali yang menyalahi pandangan Rasulullah maka dia tidak boleh diikuti. 
Tasawuf telah mengajak kepada akhlak yang utama yang dianjurkan dalam Islam. 

Akhlak yang mulia itu dijadikan sebagai landasannya, menyucikan jiwanya dengan cara berhias diri dengan keutamaan akhlaknya yaitu berupa ‘tawadhu’ ( yaitu rendah diri atau rendah hati ), meninggalkan diri dari akhlak yang tercela, memberikan kemudahan dan lemah lembut, kemuliaan dirinya diikuti dengan sifat qana’ah (merelakan diri), menjauhkan diri dari perkara yang berat, perdebatan maupun kemarahan. Lambangnya adalah Al-Qur’an.

Bila ditinjau dari sudut bahwa Al-Qur’an penuh gambaran dan anjuran untuk hidup secara sufi, maka Al-Qur’an adalah sumber dari ajaran amaliah tasawuf.

Ini juga menunjukan bahwa Al-Qur’an standar dari cara hidup atau amaliah sufi. 

Dengan kata lain, menurut standar Al-Qur’an, ajaran tasawuf menetapkan bahwa hidup ideal secara moral harus berpijak pada pensucian hati dengan cara mengatur jarak diri dengan dunia dan dengan beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berbuat kebaikan kepada sesama manusia (QS. 22:77).

Hidup sufi menurut Al-Qur’an bersifat seimbang dan harmonis, hidup untuk akhirat tidak melupakan dunia tapi tidak tenggelam di dalamnya.

Firman Allah  sebagai berikut:  

Bila telah selesai shalat dikerjakan, maka bertebaranlah di muka bumi dan berbisnislah mencari anugerah Allah.”  ( QS. 62:10 )

Bila kamu telah selesai melaksanakan shalat, maka dzikirlah kamu kepada Allah dengan berdiri dan duduk…” ( QS. 4:103 )

Ini jelas atas keseimbangan dalam hidup yang ditetapkan Al - Qur’an yang harus menjadi gaya hidup setiap muslim. 

Disatu pihak Al - Qur’an mendorong kasab, usaha mencari kehidupan duniawi dan membenarkan menikmati keindahan duniawi secara wajar, ( Secara umum oleh Al-Qur’an ditegaskan bahwa orang yang mengikuti hawa nafsu sama dengan menjadikan nafsunya sebagai Tuhan yang membuat seluruh pendengaran, penglihatan dan hatinya tertutup dari kebenaran ( QS. 45:23; 28:60; 3: 185; 57:20 ).

Dipihak lain Al-Qur’an menekankan bahwa apa yang ada pada Allah baik pahala maupun keridhoan-Nya jauh lebih berharga dari dunia.

 “Dialah yang telah menjadikan bumi mudah, maka kerjakanlah dipojok-pojoknya dan makanlah apa-apa dari rizki-Nya dan kepada-Nyalah kembali.” ( QS. 67:15 )

Wahai manusia, makanlah dari apa-apa yang telah Allah rizkikan kepadamu yang halal dan baik, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaithan. Karena, sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata untukmu.” ( QS.2:168 )

Kaum sufi berusaha untuk senantiasa taqarrub (dekat) kepada Allah, hal ini sebetulnya di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat  yang menunjukan bahwa manusia dekat sekali dengan Tuhan, diantaranya:

Jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku, maka aku dekat dan mengabulkan seruan yang memanggil jika Aku dipanggil.” ( QS. 2:186 )

Tuhan disini mengatakan bahwa Ia dekat pada manusia dan mengabulkan permintaan yang meminta. 

Oleh kaum sufi do’a disini diartikan berseru, yaitu Tuhan mengabulkan seruan orang yang ingin dekat pada-Nya. 

Timur dan Barat adalah kepunyaan Tuhan, kemana saja kamu berpaling disitu ada wajah Tuhan.” ( QS. 2:115 )

Kemana saja manusia berpaling, demikian ayat ini, manusia akan berjumpa dengan Tuhan. Demikianlah dekatnya manusia kepada Tuhan. 

Ayat berikut dengan lebih tegas mengatakan betapa dekatnya manusia kepada Tuhan.

Telah Kami ciptakan manusia dan Kami tahu apa yang dibisikan dirinya kepadanya. Kami lebih dekat kepada manusia daripada pembuluh darah yang ada dilehernya.” ( QS. 50:16 ) 

Ayat ini mengandung arti bahwa Tuhan ada di dalam, bukan di luar diri manusia. 

Faham sama diberikan ayat berikut : 
 
Bukanlah kamu– tapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukanlah engkau yang melontar ketika engkau melontar, tetapi Allah-lah yang melontar.” ( QS. 8:17 )

Dapat diartikan dari ayat ini bahwa Tuhan dengan manusia sebenarnya satu. 

Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. 

Bukan ayat-ayat Al-Qur’an saja tetapi juga Hadits ada yang mengabarkan dekatnya hubungan manusia dengan Tuhan. 

Orang yang mengetahui dirinya, itulah orang yang mengetahui Tuhan.” 

Menurut Imam Nawawi (W 676 H) bahwa hadits itu “Laisa hua bi tsabitin” (tidak bisa dijadikan penetapan hukum). Sedangkan menurut Ibnu Hajar “la ashla lahu” (tidak punya dasar). Lihat Al-Imam al-Nawawi,Fatawa al-Imam al-Nawawi, (Beirut: Dar alFikr, tt.), h. 178.

Hadits ini juga mengandung arti bahwa manusia dengan Tuhan adalah satu. 

Untuk mengetahui Tuhan orang tak perlu pergi jauh-jauh. Cukup ia masuk ke dalam dirinya dan mencoba mengetahui dirinya. Dengan kenal pada dirinya ia akan kenal pada Tuhan.

Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Ku-ciptakanlah makhluk dan melalui Aku mereka kenal pada-Ku.”  ( Penulis belum mengetahui perawi dan kedudukan hadits ini ) 

Hadits ini mengatakan bahwa Tuhan ingin dikenal dan untuk dikenal itu Tuhan menciptakan makhluk. 

Ini mengandung arti bahwa Tuhan dengan makhluk adalah satu, karena melalui makhluk Tuhan dikenal. 

Jadi terlepas dari kemungkinan adanya atau tidak adanya pengaruh dari luar, ayat-ayat serta Hadits–hadits seperti tersebut di atas dapat membawa kepada timbulnya aliran sufi dalam Islam, yaitu kalau yang dimaksud dengan sufisme ialah ajaran-ajaran tentang berada sedekat mungkin dengan Tuhan.

Disisi lain Al-Qur’an juga penuh dengan pujian dan anjuran untuk senantiasa beribadah dengan penuh kekhusyuan siang dan malam. Al-Qur’an banyak memuji orang yang senang i’tikaf, taubat, dan hatinya senantiasa tergetar karena menyadari akan menghadap Allah Ta’ala ( QS.17:107,109 ).

Amaliah Tasawuf yang dipandang paling penting adalah dzikir.

Al-Qur’an juga menempatkan dzikir dan orang-orang yang suka dzikir setiap saat dan setiap keadaan dalam kedudukan istimewa yang mempunyai pengetahuan dan kesadaran mendalam ( Ulil Albab ) adalah orang yang senantiasa dzikir kepada Allah sambil berdiri, duduk dan sambil berbaring disamping merenungi penciptaan langit dan bumi.  ( QS. 3:191; 4:103; 2:200; 33:41 dan 42 )

Dzkir merupakan konsep sentral dalam ibadah menurut tasawuf, juga adalah konsep sentral dalam ibadah menurut Al-Qur’an. 

Itulah sebabnya disamping menempatkan dzikir dalam tempat istimewa dan sistem ibadah Islam, Allah memerintahkan manusia untuk dzikir sebanyak-banyaknya.

“…dan berdzikirlah kamu semua kepada Allah sebanyak-banyaknya agar kamu sekalian mendapat kebahagiaan.” ( QS. 62:10 )

Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan :

Dari Abu Musa al-Asy’ari ra: Sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda, bila meninggal anak seorang hamba, maka Allah berfirman pada malaikat-Nya, kamu telah mencabut anak hamba-Ku. Mereka menjawab “ya”. 

Allah berfirman, kamu ambil buah hatinya, mereka menjawab “ya”. 

Kemudian Allah bertanya Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku? Dia memujimu dengan istirja ( Mengembalikan kepada Allah dengan mengucapkan : Inna lillahi Wa inna ilaihi raji’un ketika tertimpa musibah )

Maka Allah berfirman  Bangunkanlah untuk Hamba-Ku ini sebuah rumah di Surga dan berilah namanya dengan nama rumah pujian” ( HR. Ibnu Hibban, Abu Daud, dan Imam Ahmad serta Imam al Turmudzi ).

Hampir semua konsep dalam tasawuf berasal dari Al-Qur’an. Konsep-konsep maqamat seperti taubat, sabar, rido, tawakkal, khalwat, dan dzikir, semuanya diambil dari Al-Qur’an. 

Demikian juga halnya, konsep-konsep yang berkaitan dengan tasawuf nadzari seperti hubb, musyadah, kasyf, dan ilmu laduni. 

Konsep-konsep kejiwaan yang beredar dikalangan tasawuf pun berasal dari Al-Qur’an, seperti : nafsu, ammarah, lawwamah, dan mutma’innah. 

Oleh karena itu, sangat mengherankan pandangan yang mengatakan bahwa tasawuf Islam bersumber dari luar Al-Qur’an. 

Konsep lain dalam tasawuf yang berasal dari Al-Qur’an adalah al-shabr (sabar). Kata al-shabr dengan kata-kata jadiannya seperti al-shabir, al-shabirin, ishbir, shabara, dan seterusnya banyak bertebaran dalam Al - Qur’an yang diungkapkan dalam berbagai kaitan. 

Tampaknya, esensi sabar dalam Al-Qur’an menunjukan sifat daya tahan atau kemampuan jiwa untuk memikul tekanan beban penderitaan, kesulitan, atau perjuangan dengan perasaan tegar dan kuat. 

Oleh karena itulah, konsep sabar menjadi bagian yang amat penting dan begitu akrab bagi kehidupan tasawuf. 

Sifat sabar dipuji Al-Qur’an sebagai sifat para Rasul ‘alaihimus salam’.

Ayat - ayat Al - Qur'an, disamping mengandung pujian atas sifat kesabaran para Rasul, juga memerintahkan kepada Rasul terakhir untuk mempunyai sifat demikian. 

Ada 25 kali perintah sabar dari Allah dalam berbagai keadaan. 

Ini mengandung pengertian , di satu sisi bahwa sabar yang merupakan konsep yang penting dalan tasawuf, juga menunjukan bahwa konsep-konsep tasawuf adalah dari esensi ajaran Al-Qur’an.

Menurut Al-Qur’an, sabar sifat yang amat baik bagi para pemiliknya ( QS. 13:24; 16:126; 4:25; 49:5 ). 

Sabar ada yang berkaitan erat dengan tawakkal ( QS. 16:42; 29:59; 14:12 ) dan yang berkaitan dengan amal shalih pada umumnya ( QS. 11:11 ).

Salah satu jenis orang yang sangat dicintai Tuhan adalah orang yang bersabar. ( QS. 3:146 )

Hanya pahala sabar dinyatakan Al-Qur’an tidak dapat dihitung. ( QS. 39:10 )

Bahkan Al-Qur’an menyatakan adanya kebersamaan Allah dengan orang-orang bersabar. ( QS. 2:153 ) 

Dan itulah sebabnya sabar adalah sejajar dengan kebenaran yang dua-duanya merupakan ajaran yang mesti saling dipesankan sesama orang beriman agar hidup tidak merugi. ( QS.103:1-3 )

Termasuk konsep Sufi yang urgen adalah masalah ridha dan tawakkal. 

Kedua konsep ini juga berasal dari Al-Qur’an yang dikembangkan oleh para sufi. 

Dalam tasawuf penekanan penggunaan kata ridha adalah ridha hamba pada Tuhan, sedangkan Al-Qur’an menyebutkan hal itu secara timbal balik, ridha Tuhan pada manusia, dan ridha manusia pada Tuhan.

Firman Allah yang menyebutkan: " “Allah ridha atas mereka dan mereka juga ridha kepada-Nya.” (QS. 5:119; 9:100; 58:22; 98:8 ). 

Dengan kata lain, Al-Qur’an menyatakan bahwa hamba Allah yang shalih akan kembali kepada-Nya dengan rela dan direlai oleh-Nya. 

Dari sini jelas sekali bahwa konsep ridho dalam tasawuf baik dalam arti sebagai sebuah nama fase perjalanan sufi menuju Tuhan-Nya, maupun sebagai sesuatu yang jadi dambaan Hamba ternyata bersumber dari Al-Qur’an. 

Konsep tasawuf yang cukup banyak sumbernya dari Al-Qur’an adalah mengenai tawakkal. 

Menurut Imam Al-Qusyairi bahwa tempat tawakkal adalah hati, sedangkan gerakan lahiriah tidak menanggalkan tawakkal dalam hati manakala si hamba telah yakin bahwa takdir datang dari Allah SWT., hingga jika sesuatu didapati kesulitan maka ia akan melihat takdir di dalamnya, dan jika sesuatu dimudahkan kepadanya maka ia melihat kemudahan dari Allah SWT di dalamnya.

Tentang hakekat tawakkal, Ibnu ‘Atha mengungkapkan, “Tawakkal adalah, hendaknya hasrat yang menggebu-gebu terhadap perkara duniawi tidak muncul dalam dirimu, meskipun engkau sangat membutuhkannya, dan hendaknya engkau senantiasa bersikap qana’ah dengan Allah, meskipun engkau tergantung kepada kebutuhan - kebutuhan duniawi itu.

Istilah tawakkal itu bukan sesuatu yang asing dalam Islam, tetapi sepenuhnya dari sifat nilai Islam. 

Walaupun perlu diakui adanya kecenderungan dikalangan beberapa sufi untuk memberi tekanan fatalistik pada konsep tawakkal itu.

Sebenarnya masalah Tawakal itu sendiri harus memiliki keyakinan yang kuat, dan memang hal ini Allah telah berfirman, yang artinya:

Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah cukup sebagai penolongnya” ( QS. 65:3 ).

Ini berarti bahwa Allah akan cukup baginya untuk diminta segala macam pertolongan dari segala macam kebutuhan yang akan diminta oleh orang itu.

Disamping itu Al-Qur’an juga menjadi sumber dari konsep - konsep al-madzaqat dalam tasawuf. 

Konsep itu berkaitan dengan rasa yang amat dalam dari pengalaman keagamaan sufi seperti Al-Hubb, al-ma’rifat, al-kasf, al-‘ilm al-laduny, dan yang sejenisnya. 

Al-Hubb yang menggambarkan cinta yang amat dalam pada Tuhan yang membuat sufi tertentu mabuk dan mendapat balasan cinta dari Tuhan bukanlah barang bid’ah tetapi bersumber dan dipuji Al-Qur’an. 

Bahkan, Al - Qur’an mencela orang yang mencintai harta benda atau mencintai sesuatu melebihi cintanya pada Tuhan.

Dalam pengertian ini cinta kepada Allah dan Rasul-Nya lebih besar dari pada cinta kepada yang lainnya. Orang yang sudah cinta atau mahabbah kepada Allah, maka Allah juga cinta kepada orang itu ( QS. 2:165; 5:54 ). 

Cinta kasih Allah kepada hamba-Nya berarti Allah memberikan nikmat dan Ridha-Nya kepada mereka. Allah SWT mengaruniai pahala dan nikmat yang besar kepada mereka baik di dunia maupun di akhirat. 

Cinta sebagai anugerah Illahi menuntut manusia agar mencintai Tuhan sebagai pengejawantahan sempurna dari semua nilai moral, yang lebih penting dari segala sesuatu yang lain.

Sebagai bentuk perintah Allah, agar manusia berlaku baik dan mencintai orang tua, terutama kepada ibu yang telah mengandung dan melahirkannya dengan susah payah.

Kewajiban mencintai itu diperluas lebih jauh hingga meliputi kerabat, anak-anak yatim, orang-orang yang membutuhkan, tetangga yang dekat dan jauh, dan para musafir.

Kebaikan adalah membelanjakan sebagian dari harta yang kita cintai untuk Tuhan, teman, anak-anak yatim, orang yang membutuhkan, musafir, dan fakir miskin.

Nabi mengasihi orang-orang yang beriman, dan semua ciptaan, selalu ramah dalam bergaul dengan masyarakat.

Salah satu ciri dan akhlak orang-orang yang beriman adalah bahwa mereka berlaku kasih sayang dan mencintai satu sama lain lainnya, mereka berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan selalu siap memaafkan, mereka juga ramah terhadap sesamanya, memaafkan dan mau melupakan kesalahan orang lain, meskipun mereka dalam keadaan marah.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Memahami Konsep Fana dan Baqa Dalam Ilmu Tasawuf

Fana dan Baqa Fana dan Baqa . Dalam kajian tasawuf antara fana dan baqa tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan baqa merupakan sisi lain yang terikat dari fana. Bahkan dalam Sayyid Mahmud Abul Faidh al-Manufi al Husaini menggabungkan tema kajian fana dan baqa (pada satu judul) dalam karyanya Jamharotul Awliya.  Fana diambil dari kata faniya (fana)-yafna-fana ’, secara bahasa berarti menjadi lenyap, hilang, dan tak kekal. Dalam sumber lain berasal dari kata fana-yafni- fana ’ yang mengandung makna hilang hancur. Sedangkan baqa berasal dari kata baqiya-yabqa- baqa ’ yang berarti dawam atau terus menerus, tidak lenyap dan tidak hancur. Fana dalam istilah Ilmu Tasawuf  adalah suatu tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi menjelang ke tingkat ittihad , yakni hilangnya kesadaran tentang dirinya dari seluruh makhluk dan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta yang ada hanya Allah SWT.  Dengan perkataan lain suatu keadaan mental hubungan manusia dan alam...

Tentang Insan Kamil

Insan Kamil Insan Kamil . Insan Kamil berasal dari gabungan dua kata bahasa Arab, insan dan kamil . Insan berarti manusia, kamil berarti sempurna. Jadi secara bahasa insan kamil mengandung makna manusia sempurna ( Perfect Man ), yakni manusia yang dekat (qarib dengan Allah) dan terbina potensi ruhaniahnya sehingga dapat berfungsi secara optimal.  Inilah manusia seutuhnya yang mempunyai ketinggian derajat di hadapan Tuhannya, sehingga mencapai tingkat kesempurnaan tauhid dan akhlak mulia.  Manusia sempurna ( insan kamil ) menurut Abdul Karim al-Jilli (wafat 1428 M.) sebagaimana dikutip oleh A. Mustofa, adalah manusia cerminan Tuhan atau manusia kopi Tuhan.  Dengan kata lain manusia yang sudah mengenal eksistensi dirinya sendiri dan memiliki sifat-sifat yang mulia. Secara umum dalam ajaran tasawuf yang dimaksud insan kamil adalah manusia yang telah memiliki dalam dirinya Nur Muhammad yang disebut dengan Al-Haqiqatul Muhammadiyyah .  Dalam pandangan Ibnu ’Arabi ...

Jimat Kebal Pejuang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949

Kisah Orang-Orang Kebal Pejuang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949 Tidak hanya pahlawan nasional dengan pangkat berjejeran, Anda harus tahu jika pejuang kemerdekaan Indonesia saat itu termasuk orang-orang kebal. Mereka punya peran yang tak kalah penting dengan pejuang republik, sama-sama mengangkat senjata untuk mengusir penjajah kolonial Belanda tahun 1945-1949. Menurut sejumlah pemberitaan, orang-orang tak tembus peluru ini juga pernah menempati kedudukan mentereng dalam organisasi kerakyatan. Sebagian dari mereka ada yang menjabat jadi ketua perkumpulan rakyat dan mendirikan laskar bersenjata. Bagi orang-orang kebal perang adalah hal yang biasa. Setiap hari mereka bekerja melibatkan resiko, pilihannya hanya dua, yakni hidup atau mati. Kebiasaan hidup penuh resiko itu membuat mereka maju di baris depan tatkala Belanda melakukan agresi militer di Indonesia. Seluruh ilmu kekebalan (anti peluru) mereka pakai menghadang pasukan Belanda. Jangankan timah panas yang keluar hanya dari sepucuk s...

Dasar-dasar Akhlak Islami

Dasar-dasar Akhlak Islami Eksistensi manusia sebagai makhluk, tentu harus berhadapan pula dengan realitas lain yaitu Sang Khalik (yang menciptakan manusia).  Dasar-dasar Akhlak Islami Memahami manusia dari apa yang dihasilkannya membawa konsekuensi untuk memahami struktur kehidupannya dalam suatu sistem kebudayaan, sebagai suatu usaha memahami seluruh kegiatan manusia dalam kesatuan yang organis. Mustafa Zahri menukil pendapat Imam Ghazali bahwa tujuan perbaikan akhlak itu ialah dalam rangka membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima Nur Cahaya Tuhan.  Urgensi akhlakul karimah merupakan hal yang sangat berguna dalam mengarahkan dan mewarnai berbagai aktivitas kehidupan manusia di segala bidang.  Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju disertai dengan akhlak yang mulia, niscaya ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang dimilikinya itu akan dimanfaatkan sebaik...

Sebab Diturunkan Ilmu Laduni

Sebab Diturunkan Ilmu Laduni Sebagaimana yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa untuk mendapatkan Ilmu Laduni, seorang salik hanya berkewajiban membangun " sebab-sebab ".  Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pelaksanaan pengabdian yang hakiki kepada Tuhannya, dengan itu supaya orang tersebut mendapatkan " akibat " yang dijanjikan sebagai pahala dari ibadah yang dilakukan.  Pengabdian itu adalah ibadah yang Ikhlas dalam tataran Iman, bukan sekedar tataran Islam.  Sebagaimana yang diajarkan Allah kepada umat manusia melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah tentang tiga tataran pelaksanaan ibadah, secara Islam, secara Iman dan secara Ihsan.  Hadits Qudsi ini shahih dan diriwayatkan dari Abu Hurairah yang telah berkata:  Pada suatu hari, ketika Rasulullah bersama kaum muslimin, datang seorang lelaki dan bertanya kepada Baginda:  "Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dengan Iman?".  Lalu baginda beliau bersabda: "Hendaklah kamu percaya kepada Al...

Kaitan antara Tasawuf dan Tarekat

Kaitan antara Tasawuf dan Tarekat Tarekat adalah jalan atau petunjuk dalam melaksanakan suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dicontohkan oleh Nabi dan sahabatnya. Guru tarekat disebut mursyid atau syaikh, wakilnya disebut khalifah, dan pengikutnya disebut murid, Tempatnya dikenal dengan ribath/zawiyah/taqiyah.  Tarekat juga berarti organisasi yang mempunyai syaikh, upacara ritual dan dzikir tertentu. Pada dasarnya tarekat merupakan bagian dari tasawuf, karena tujuan dzikir adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan pada akhirnya merupakan penyucian jiwa (tazkiyatunnafs).  Penyucian jiwa adalah inti dari kandungan tasawuf. Kajian tasawuf tidak dapat dipisahkan dengan praktek ‘ubudiyah dan mu’amalah dalam tarekat.  Walaupun kegiatan tarekat sebagai sebuah institusi lahir sebagai pendekatan terhadap Allah SWT yang telah diberikan oleh Rasul-Nya (Nabi Muhammad SAW), antara lain dengan ber-tahannus di Gua Hiro, qiyamullail, dzikir, dan sebagainya.  Untuk kemudian dite...

Tentang Akhlak, Moral dan Etika

Akhlak, Moral dan Etika Pengertian Akhlak, Moral dan Etika.J ika dikaji lebih mendalam dan dihubungkan dengan konteks kalimat, kata moral, etika dan akhlak memiliki pengertian yang berbeda.  Moral artinya ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti.  Moral adalah istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas suatu sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang layak dikatakan benar, salah, baik, buruk. Dalam hal ini, moral sekuler bersumber dari pikiran dan prasangka manusia yang beraneka ragam. Sedangkan moral Islam bersandar kepada bimbingan dan petunjuk Allah dalam Al-Qur’an. Lihat Hamzah Ya’kub, Etika Islam, (Bandung: Diponegoro, 1996), cet. VII, h. 15. Yang dimaksud penilaian benar atau salah dalam moral, adalah masyarakat secara umum. Sedangkan akhlak, tingkah laku baik, buruk, salah, dan benar adalah penilaian dipandang dari sudut hukum yang ada dalam  ajaran agama.  Sesuai dengan makna aslinya...

Inilah 7 Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang

Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang Menurut Murtadha Muthahhari, ada jenis akhlak yang didasarkan pada ego.Ini merupakan jenis akhlak yang dipengaruhi hawa nafsu.  Pandangan akhlak seperti ini diantaranya dikemukakan oleh Nitsche. Akhlak komunis pun demikian adanya. Yang ideal adalah akhlak yang timbul dari nilai-nilai Ilahiyah dengan kesadaran pribadi mengarah pada ilham taqwa.  Apabila ditinjau dari segi akhlak kejiwaan, seseorang bertindak dan berbuat atas dasar pokok-pokok berikut ini:  1. Insting (gharizah/naluri).  Insting merupakan seperangkat tabi’at yang dibawa manusia sejak lahir.  Para psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku, misalkan naluri makan, senang dengan lawan jenis (seksual instinct), naluri keibubapakan (cinta orang tua kepada anaknya dan sebaliknya), kesadaran dalam ber-Tuhan, dan naluri mempertahankan diri (berjuangan/combative instinct).  2. Adat kebiasaan....

Hakikat ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf )

Hakikat ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf ) Hakikat , Istilah ini sudah dibahasa-Indonesiakan berasal dari bahasa Arab “Haqiqat” yang berarti, “kebenaran”, “kenyataan asal” atau  “yang sebenar-benarnya”. Kebenaran dalam hidup dan kehidupan, inilah yang dicari dan ini pulalah yang dituju.  Dalam kesempurnaan sistem kebenaran ditunjang oleh petunjuk untuk dapat memahami syari’at. Dalam pandangan Syekh Zainuddin bin Ali al-Malibary, bahwa hakikat sesungguhnya merupakan sarana sampainya maksud (ma’rifat) dan penyaksian dalam hati dengan keterbukaan yang sempurna.  Bahkan selanjutnya dikatakan bahwasanya hakikat adalah sampainya tujuan yaitu penglihatan (ma’rifat) kepada Allah Yang Maha Suci dan Agung serta penyaksian cahaya tajalli.  Menurut terminologi, hakikat dapat didefinisikan sebagai kesaksian akan kehadiran peran serta ke-Tuhan-an dalam setiap sisi kehidupan.  Hakikat adalah kesaksian terhadap sesuatu yang telah ditentukan dan ditakdirkan-Nya serta yang disembu...

Ilmu Akhlak pada Agama Islam

Ilmu Akhlak pada Agama Islam Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah - perintah Allah dan larangan - larangan-Nya.  Akhlak harus ada serta nampak pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.  Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.  Semua ini terkandung dalam ajaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.  Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Tokoh-tokoh ini tidak lain adalah Nabi - nabi yang tercatat dan diabadikan dalam kitab suciAl-Qur’an.  1. Nabi Ibrahim AS Nabi Ibrahim AS mempunyai sebutan sebagai Ayahnya semua nabi dan rasul, yang membawa dan menyebarkan ajaran tauhid kepada umat manusia. Ia adalah orang yang berani menanggung resiko dalam m...