Perjalanan Nabi Musa as. Mencari Nabi Khidir as. (Contoh Ilmu Laduni Yang Kedua)

Perjalanan Nabi MUSA as.  mencari Nabi KHIDHIR as. ( Contoh Ilmu Laduni Yang Kedua )
Perjalanan Nabi MUSA as.  mencari Nabi KHIDHIR as. ( Contoh Ilmu Laduni Yang Kedua )
Perjalanan Nabi Musa as. dengan Nabi Khidhir as., telah diabadikan Allah Ta‘ala di dalam Al-Qur‘an al-Karim. 

Sungguh yang demikian itu bukan hanya sekedar menjadi ilustrasi al-Qur‘an dengan tanpa ada makna dan tujuan yang berarti, sebagaimana buku komik dan novel, tidak!. 

Al-Qur‘an tidaklah demikian, namun jauh lebih dari itu, yaitu supaya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi umat Nabi Muhammad saw. 

Peristiwa sejarah yang sudah lama ghaib itu, apabila tidak dimunculkan di dalam "kitab suci yang terjaga" ini maka barangkali tidak ada seorang pun mengetahuinya lagi. Terlebih kita umat Muhammad saw. yang hidup entah berapa ratus tahun setelah peristiwa tersebut terjadi.  

Hal itu tidak lain, supaya peristiwa sejarah itu dapat dijadikan bahan kajian yang mendalam, bahwa ternyata di dalam kehidupan ini ada dua jenis ilmu pengetahuan dan dua jenis alam yang harus dikuasai dan diketahui manusia. 

Ilmu lahir dengan alamnya dan ilmu batin juga dengan alamnya. 

Dengan penguasaan itu supaya manusia menjadi manusia yang sempurna (insan kamil). 

Dengan ilmu lahir supaya lahir manusia menjadi mulia demikian pula dengan ilmu batin, supaya batin manusia itu juga menjadi batin yang mulia.  

Untuk mengungkapkan sesuatu yang ada di dalam (Ilmu Laduni), satu-satunya jalan adalah dengan cara beri‘tibar, (percontohan) demikianlah Al-Qur‘an telah memberikan contoh: 
"Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam Al-Qur'an ini segala macam perumpamaan untuk manusia". (QS. Ar-Rum : 58).  
Oleh karena itu, pintu pertama dan utama untuk memahami Ilmu Laduni itu adalah pintu iman (percaya). 

Apabila pintu yang satu itu sudah tidak terbuka, maka siapapun jangan berharap dapat memanfaatkan segala keterangan yang ada:  
"Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka". (QS. ar-Rum: 58).
Yang demikian itu karena hati telah terkunci mati oleh kekafirannya sendiri:  
"Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami".  (QS. ar-Rum : 59).  
Seperti itu pula terhadap setiap uraian tentang Ilmu Laduni, apabila orang sudah tidak mempercayai keberadaan ilmu itu, maka apapun yang sudah tertulis dalam buku ini sedikitpun tidak akan membawa manfaat baginya. 

Sebab, yang sudah tertulis ini, dan semacamnya tentang Ilmu Laduni, hanyalah sekedar keterangan sebatas teori yang harus ditindaklanjuti dengan amal perbuatan, sedangkan "Ilmu Laduni" adalah "buah" dari amal perbuatan tersebut, mana mungkin orang bisa memetik buah tanpa berusaha menanam tanaman dengan bersungguh-sungguh ….. ?. 

Di dalam surat al-Kahfi, dengan dua puluh dua ayat, yaitu mulai ayat No: 60 sampai dengan ayat No: 82, peristiwa sejarah itu diperankan dua tokoh sentral, Nabi Musa dan Nabi Khidhir, sebagai gambaran sosok yang telah menjiwai ilmunya masing-masing.  

Supaya perjalanan ibadah (thoriqoh) yang ditekuni seorang salik mampu membuahkan hasil yang disebutkan sebagai Ilmu Laduni, dua karakter tokoh sentral tersebut, yakni karakter Musa dan karakter Khidhir harus dipertemukan dengan pelaksanaan amal, hasil yang diharapkan supaya dapat membuahkan suatu jenis "pemahaman hati" sebagai buah ibadah. 

Pemahaman hati itulah yang dinamakan Ilmu Laduni. 

Adapun ayat kunci dari sumber kajian itu adalah firman-Nya : 
"Yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami dan telah Kami ajarkan kepadanya Ilmu dari sisi Kami". (QS. al-Kahfi : 65). 
"Khidhir as." adalah seorang Nabi tapi bukan Rasul. Alasannya, karena tidak mungkin seorang Nabi (Nabi Musa as.) berguru kecuali kepada seorang Nabi pula. 

Dalam pembahasan Ilmu Laduni ini "supaya pembahasan lebih bersifat universal" kedua sosok tersebut ditampilkan sebagai sosok karakter, bukan sosok personal. 

Sebab, sebagai sosok personal boleh jadi para pelaku sejarah itu sudah lama meninggal dunia, kecuali Nabi Khidhir as, yang konon menurut banyak pendapat, beliau tidak mati. 

Sehingga, cerita-cerita tentang pertemuan seorang yang hidup pada zaman sekarang dengan Nabi Khidhir as. "sebagai sosok personal" kesannya hanya bernuansakan mistik atau mitos yang kurang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 

Namun dengan ditampilkan sebagai sosok karakter, pelaku sejarah itu, bahkan siapapun akan menjadi hidup untuk selama-lamanya. 

Bagaikan mutiara-mutiara yang terpendam hakikat Ilmu Laduni itu harus ditemukan oleh para salik di dalam peristiwa sejarah itu. 

Makanya, hanya dengan ilmu, iman dan amal, mereka tertantang untuk mampu menggalinya dengan benar. 

Banyak jebakan dan ranjau yang ditebarkan di sana, tanpa guru pembimbing ahlinya, sulit rasanya seorang salik mampu menemukan mutiara yang dirahasiakan itu. 

Diawali dengan tekat bulat serta perbekalan yang cukup. Nabi Musa as. seorang Rasul dan seorang Nabi yang telah mendapatkan banyak kelebihan-kelebihan dari Allah Ta‘ala, baik berupa ilmu dan amal serta derajat dan kemuliaan dengan rendah hati melaksanakan petunjuk Tuhannya. 

Dengan susah payah Beliau menindaklanjuti petunjuk itu, mengadakan perjalanan panjang yang tidak jelas arah tujuannya. 

Hanya dengan mengikuti isyarat yang telah didapatkan, Nabi Musa datang kepada Nabi Khidhir untuk menuntut ilmu kepadanya.  

Menurut suatu riwayat, suatu saat Nabi Musa as. "ketika baru saja menerima Kitab dan berkata-kata dengan Allah" beliau bertanya kepada Tuhannya: 

"Siapakah kira-kira yang lebih utama dan lebih berilmu tinggi selain aku" ?. 

Maka dijawab: "Ada, yaitu hamba Allah yang berdiam di pinggir laut, bernama Khidhir as". 

Di dalam hadits riwayat imam Bukhori dan Muslim, dari Abi bin Ka‘ab ra. telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: 
"Ketika suatu saat Nabi Musa berdiri berkhothbah di hadapan kaumnya, Bani Isra‘il, salah seorang bertanya: "Siapa orang yang paling tinggi ilmunya", Nabi Musa as. menjawab: "Saya". 

Kemudian Allah menegur Musa dan berfirman kepadanya, supaya Musa tidak mengulangi pernyataannya itu; 
"Aku mempunyai seorang hamba yang tinggal di pertemuan antara dua samudera, adalah seorang yang lebih tinggi ilmunya daripada kamu". 

Nabi Musa as berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa menemuinya". 

Tuhannya berfirman: 
"Bawalah ikan sebagai bekal perjalanan, apabila di suatu tempat ikan itu hidup lagi, maka di situlah tempatnya'. 
Kalimat Hadits dari Imam Bukhori. "Tafsir Qurthubi" 
Di dalam riwayat yang lain disebutkan, disaat Nabi Musa as. munajat kepada Tuhannya, beliau berkata: 
"Ya Tuhanku, sekiranya ada diantara hambaMu yang ilmunya lebih tinggi dari ilmuku maka tunjukilah aku". 
Tuhannya berkata: "Yang lebih tinggi ilmunya dari kamu adalah Khidhir", 
Nabi Musa as. bertanya lagi: "Kemana saya harus mencarinya?", 
Tuhannya menjawab: "Di pantai dekat batu besar", 

Musa as. bertanya lagi : "Ya Tuhanku, aku harus berbuat apa sehingga aku dapat menemuinya ?", 

Maka dijawab: "Bawalah ikan untuk perbekalan di dalam keranjang, apabila di suatu tempat ikan itu hidup lagi, berarti Khidir itu berada disana". 

Kemudian Musa as. berkata kepada muridnya: "Apabila ikan itu hidup lagi, kamu segera beritahukan kepadaku".   
Berangkatlah mereka berdua dengan berjalan kaki. 

Ketika sampai di suatu tempat, di sebelah batu besar, Nabi Musa istirahat dan tertidur, ikan tersebut bergerak hidup dan meloncat ke laut. Tapi sang murid lupa melaksanakan pesan gurunya. 

Kemudian mereka meneruskan perjalanan, setelah sampai waktunya makan sore, Nabi Musa mencari perbekalannya, muridnya baru ingat pesan tersebut dan menceritakan kejadian ikan yang hidup lagi dan meloncat masuk ke laut dengan cara yang menakjubkan. 

Itulah tempat yang mereka tuju, maka kembalilah mereka berdua, dengan mengikuti tapak tilas perjalanan, mencari dimana ikan tersebut masuk ke laut.   

Setelah sampai di tempat yang dituju, keduanya bertemu dengan seorang laki-laki. 

Musa menyampaikan salam dan laki-laki itu menjawab.  

Musa kemudian mengenalkan diri dan menceritakan tujuan perjalanannya. 

Kemudian Nabi Khidhir as. menjawab :
"Hai Musa, Aku dengan ilmu dari ilmu Allah yang ِAllah mengajarkannya kepadaku tapi tidak diajarkan kepadamu sedangkan engkau dengan ilmu dari ilmu Allah yang Allah mengajarinya kepadamu akan tetapi tidak diajarkan kepadaku" . 
Kemudian mereka, Musa dan Khidhir berangkat mengadakan perjalanan bersama. 

Ketika naik perahu, mereka melihat seekor burung mencari makanan di laut, burung itu memasukkan paruhnya di air kemudian terbang lagi. 

Khidhir as. berkata: 
Hai Musa, ilmumu dan ilmuku jika dikumpulkan dengan seluruh ilmu makhluk yang ada di alam semesta ini, dibandingkan dengan ilmu Allah tidaklah lebih besar daripada air yang ada di paruh burung itu dibandingkan dengan air yang ada di seluruh samudera ini. 

Air yang ada di paruh burung itu ibarat ilmu yang telah dikuasai seluruh makhluk di alam ini sedangkan air di seluruh samudera adalah ibarat ilmu Allah dan Allah Maha Mengetahui terhadap segala hakikat perkara". 
"Tafsir Qurthubi"

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia Berbicara tentang sejarah akhlak berarti membicarakan semenjak adanya manusia, yaitu sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS. Sejarah  ilmu akhlak yaitu sejarah yang mempelajari batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan tercela, tentang perkataan dan perbuatan manusia lahir dan batin sejak zaman Nabi Adam AS hingga sekarang.  Sejarah ilmu akhlak ialah sejarah yang menggali tentang tingkah laku baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuannya dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka dari masa ke masa. Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa perkembangan pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku seseorang melalui berbagai macam metode yang disusun secara sistematis dari zaman ke zaman.  Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa yang benar-benar terjadi dari perkembangan ilmu pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku  seseorang me...

Membahas Teori Pemikiran Wahdatul Wujud

Membahas Teori Pemikiran Wahdatul Wujud Secara historis, teori wahdatul wujud pada mulanya adalah teori yang disusun Ibnu Arabi . Ia lebih bernuansa sufistik ketimbang filsafat.  Banyak penafsiran telah diberikan tentang teori ini, dari yang sangat ekstrem sampai moderat.  Mungkin yang paling ekstrem adalah Ibnu Sab’in yang menyatakan bahwa hanya Tuhan yang eksis sementara selain Tuhan tak ada yang eksis.  Ada lagi yang ekstrem yang menyatakan bahwa seluruh yang berwujud selain Tuhan hanyalah tajalliyat (manifestasi) dari asma’ dan sifat-sifat tuhan.  Namun Mulla Sadra melihat bahwa Yang Ada Sebagai Yang Ada meskipun Satu, namun ia memiliki intensitas yang membentang dari yang nama Yang Ada.  Sifat Yang Ada-nya Tuhan Mutlak, sementara yang ada lain hanya bersifat Yang Ada Dalam Kemungkinan.  Ia persis seperti matahari dan sinarnya. Matahari tentu berbeda dengan sinarnya. Namun dalam masa yang sama, sinar matahari tiada lain adalah matahari itu sendiri. Y...

Memahami Konsep Muroqobah dan Tingkatannya

Muroqobah Muroqobah. Muroqobah dalam makna harfiah berarti awas mengawasi atau saling mengawasi (dalam Ilmu Shorof dalam kategori bina musyarokah).  Secara bahasa muroqobah mengandung makna  senantiasa mengamat - amati tujuan atau menantikan sesuatu dengan penuh perhatian (mawas diri).  Sedangkan menurut terminologi berarti melestarikan pengamatan kepada Allah SWT dengan hatinya dalam arti terus menerus kesadaran seorang hamba atas pengawasan Allah SWT terhadap semua keadaannya.  Sehingga manusia mengamati pekerjaan dan hukum - hukum-Nya dengan penuh perasaan kepada Allah SWT. Dalam pandangan Imam al-Qusyairy, muroqobah ialah: “ keadaan/kesadaran seseorang meyakini sepenuh hati bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi kita. Tuhan mengetahui seluruh gerak-gerik kita dan bahkan segala yang terlintas dalam hati diketahui Allah .” Artinya, muroqobah ialah keadaan hamba tahu dan sadar dengan sepenuh hati bahwa Tuhan selalu melihatnya. Muroqobah merupakan ilmu untuk meliha...

Memahami Konsep Fana dan Baqa Dalam Ilmu Tasawuf

Fana dan Baqa Fana dan Baqa . Dalam kajian tasawuf antara fana dan baqa tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan baqa merupakan sisi lain yang terikat dari fana. Bahkan dalam Sayyid Mahmud Abul Faidh al-Manufi al Husaini menggabungkan tema kajian fana dan baqa (pada satu judul) dalam karyanya Jamharotul Awliya.  Fana diambil dari kata faniya (fana)-yafna-fana ’, secara bahasa berarti menjadi lenyap, hilang, dan tak kekal. Dalam sumber lain berasal dari kata fana-yafni- fana ’ yang mengandung makna hilang hancur. Sedangkan baqa berasal dari kata baqiya-yabqa- baqa ’ yang berarti dawam atau terus menerus, tidak lenyap dan tidak hancur. Fana dalam istilah Ilmu Tasawuf  adalah suatu tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi menjelang ke tingkat ittihad , yakni hilangnya kesadaran tentang dirinya dari seluruh makhluk dan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta yang ada hanya Allah SWT.  Dengan perkataan lain suatu keadaan mental hubungan manusia dan alam...

Inilah 7 Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang

Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang Menurut Murtadha Muthahhari, ada jenis akhlak yang didasarkan pada ego.Ini merupakan jenis akhlak yang dipengaruhi hawa nafsu.  Pandangan akhlak seperti ini diantaranya dikemukakan oleh Nitsche. Akhlak komunis pun demikian adanya. Yang ideal adalah akhlak yang timbul dari nilai-nilai Ilahiyah dengan kesadaran pribadi mengarah pada ilham taqwa.  Apabila ditinjau dari segi akhlak kejiwaan, seseorang bertindak dan berbuat atas dasar pokok-pokok berikut ini:  1. Insting (gharizah/naluri).  Insting merupakan seperangkat tabi’at yang dibawa manusia sejak lahir.  Para psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku, misalkan naluri makan, senang dengan lawan jenis (seksual instinct), naluri keibubapakan (cinta orang tua kepada anaknya dan sebaliknya), kesadaran dalam ber-Tuhan, dan naluri mempertahankan diri (berjuangan/combative instinct).  2. Adat kebiasaan....

Ilmu Akhlak pada Agama Islam

Ilmu Akhlak pada Agama Islam Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah - perintah Allah dan larangan - larangan-Nya.  Akhlak harus ada serta nampak pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.  Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.  Semua ini terkandung dalam ajaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.  Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Tokoh-tokoh ini tidak lain adalah Nabi - nabi yang tercatat dan diabadikan dalam kitab suciAl-Qur’an.  1. Nabi Ibrahim AS Nabi Ibrahim AS mempunyai sebutan sebagai Ayahnya semua nabi dan rasul, yang membawa dan menyebarkan ajaran tauhid kepada umat manusia. Ia adalah orang yang berani menanggung resiko dalam m...

Sumber Akhlak, Moral dan Etika dan Manfaat Mempelajarinya

Sumber Akhlak, Moral dan Etika dan Manfaat Mempelajarinya Akhlak yang mulia merupakan unsur yang sangat utama di dalam risalah Islamiyah.  Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kata akhlak, moral dan etika yang ketiganya merupakan tingkah laku manusia, hampir sama, namun jika dilihat dari sumbernya, ketiga kata tersebut akan berbeda.  Akhlak bersumber dari agama wahyu. Moral bersumber dari adat istiadat masyarakat. Sementara etika bersumber dari filsafat moral dan akal pikiran.  Dalam kajian ini mengarah pada konseptual akhlak Islami dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadits Nabawi dikomparasikan dengan materi-materi yang sudah berkembang.  Sikap dan prilaku akhlak Islami yang sempurna itu harus berpegang pada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Orang yang paling mengerti tentang pengamalan Al-Qur’an adalah Nabi sendiri. Rasulullah SAW adalah prototipe manusia yang berakhlak sempurna. Allah SWT menyebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Qalam ayat ke 4,  "...

Urgensi dan Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak pada Zaman Modern

Urgensi dan Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak pada Zaman Modern Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah- perintah Allah dan larangan-larangan-Nya.  Akhlak harus ada serta terlihat pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.  Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.  Semua ini terkandung dalam ajaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.  Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia.  Agama Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dialah pencipta, pemelihara, pemberi rahmat, pelindung terhadap a...

Nur Muhammadiyyah ( Contoh Pertama Ilmu Laduni )

Nur Muhammadiyyah ( Contoh Pertama Ilmu Laduni ) Berkaitan urusan pribadi yang terjadi pada diri Rasul Muhammad saw., suatu saat Allah Ta‘ala berfirman kepadanya:  " Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipudayakan". (QS. an-Nahl : 127) Ibnu Zaid berkata: " Ayat ini adalah menghapus ayat-ayat perang". S edangkan Ulama‘ Jumhur berpendapat: "Itu adalah pelaksanaan ilmu hikmah".  Artinya sabarlah terhadap kesalahan mereka dengan memberi pengampunan. Artinya, jangan kejahatan dibalas dengan kejahatan" . (Tafsir Qurthubi)   Maksudnya, tidak bersedih dan tidak sempit dada terhadap kejahatan orang-orang yang belum mau beriman adalah bukan sesuatu yang dapat dimengerti secara teori rasional ilmiah saja, tapi juga yang dirasakan di dalam hati, itulah yang dimaksud sabar .  Orang sudah mengetahui dan...

Jimat Kebal Pejuang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949

Kisah Orang-Orang Kebal Pejuang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949 Tidak hanya pahlawan nasional dengan pangkat berjejeran, Anda harus tahu jika pejuang kemerdekaan Indonesia saat itu termasuk orang-orang kebal. Mereka punya peran yang tak kalah penting dengan pejuang republik, sama-sama mengangkat senjata untuk mengusir penjajah kolonial Belanda tahun 1945-1949. Menurut sejumlah pemberitaan, orang-orang tak tembus peluru ini juga pernah menempati kedudukan mentereng dalam organisasi kerakyatan. Sebagian dari mereka ada yang menjabat jadi ketua perkumpulan rakyat dan mendirikan laskar bersenjata. Bagi orang-orang kebal perang adalah hal yang biasa. Setiap hari mereka bekerja melibatkan resiko, pilihannya hanya dua, yakni hidup atau mati. Kebiasaan hidup penuh resiko itu membuat mereka maju di baris depan tatkala Belanda melakukan agresi militer di Indonesia. Seluruh ilmu kekebalan (anti peluru) mereka pakai menghadang pasukan Belanda. Jangankan timah panas yang keluar hanya dari sepucuk s...