Inilah 7 Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang

Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang

Menurut Murtadha Muthahhari, ada jenis akhlak yang didasarkan pada ego.Ini merupakan jenis akhlak yang dipengaruhi hawa nafsu. 

Pandangan akhlak seperti ini diantaranya dikemukakan oleh Nitsche. Akhlak komunis pun demikian adanya.

Yang ideal adalah akhlak yang timbul dari nilai-nilai Ilahiyah dengan kesadaran pribadi mengarah pada ilham taqwa. 

Apabila ditinjau dari segi akhlak kejiwaan, seseorang bertindak dan berbuat atas dasar pokok-pokok berikut ini: 

1. Insting (gharizah/naluri). 

Insting merupakan seperangkat tabi’at yang dibawa manusia sejak lahir. 

Para psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku, misalkan naluri makan, senang dengan lawan jenis (seksual instinct), naluri keibubapakan (cinta orang tua kepada anaknya dan sebaliknya), kesadaran dalam ber-Tuhan, dan naluri mempertahankan diri (berjuangan/combative instinct). 

2. Adat kebiasaan. 

Hal ini merupakan perbuatan seseorang yang biasa dilakukan secara berulang-ulang, seperti berpakaian, makan, tidur, olah raga, dan sebagainya.

“Perbuatan manusia, apabila dikerjakan secara berulang-ulang sehingga menjadi mudah melakukannya, itu dinamakan adat kebiasaan” 

3. Wirotsah (keturunan). 

Peranan keturunan, sekalipun tidak mutlak, dikenal pada setiap suku, bangsa, dan daerah. 

Macam-macam warisan ialah warisan khusus kemanusiaan, warisan suku atau bangsa, dan warisan khusus dari orang tua.

Yang dimaksud warisan dalam hal ini adalah berpindahnya sifat-sifat tertentu dari pokok (orang tua) kepada cabang (anak keturunan).

4. Milieu (faktor lingkungan).

Lingkungan manusia ialah apa yang melingkungnya dari negeri, lautan, sungai, udara, dan bangsa. 

Lingkungan ada dua macam, yaitu: lingkungan alam dan lingkungan pergaulan.

Milieu artinya suatu yang melingkupi tubuh yang hidup, meliputi tanah dan udara; sedangkan lingkungan manusia ialah apa yang mengelilinginya, seperti negeri, lautan, udara, dan masyarakat. 

Dengan demikian, milieu adalah segala apa yang melingkupi manusia dalam arti yang seluas-luasnya.

5. Kehendak. 

Suatu perbuatan ada yang berdasarkan kehendak dan ada juga yang tidak dengan kehendak. 

Menulis, membaca, berbicara adalah perbuatan yang berkecenderungan dengan kehendak. 

Sedangkan detik hati, bernafas, dan gerak mata merupakan perbuatan yang berdasarkan bukan atas dasar kehendak. 

Keinginan yang kuat disebut roghbah, dan kehendak ini disebut juga dengan azam yang kemudian diikuti dengan perbuatan/tindakan.

Para ahli pengetahuan menyebutkan, bahwa keinginan yang menang ialah keinginan yang alamnya lebih kuat.

Perbuatan hasil dari kehendak mengandung perasaan, keinginan, pertimbangan, dan azam yang disebut juga dengan kehendak. 

6. Pendidikan. 

Dalam dunia pendidikan sangat mempengaruhi jiwa peserta didik yang mengarahkannya pada perkembangan kepribadian. 

Oleh karenanya tenaga pendidik profesional harus diadakan, demikian juga materi pengajaran yang sesuai, bahkan metodologi pengajaran dan pendidikan sangat perlu diperhatikan dalam proses pengajaran dan pendidikan. 

Dalam kaitan ini, suasana lingkungan pendidikan pun sangat potensial dalam membentuk kepribadian peserta didik. 

7. Takdir. 

Takdir merupakan ketentuan Allah yang pasti adanya untuk segala yang ada dalam alam semesta (makhluk).

Misalkan seseorang ada yang ditakdirkan punya sifat pelupa, cerdas, watak keras, halus, dan sebagainya. Sehingga hal-hal ini mempengaruhi terhadap akhlak dan kepribadian seseorang.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Memahami Konsep Fana dan Baqa Dalam Ilmu Tasawuf

Fana dan Baqa Fana dan Baqa . Dalam kajian tasawuf antara fana dan baqa tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan baqa merupakan sisi lain yang terikat dari fana. Bahkan dalam Sayyid Mahmud Abul Faidh al-Manufi al Husaini menggabungkan tema kajian fana dan baqa (pada satu judul) dalam karyanya Jamharotul Awliya.  Fana diambil dari kata faniya (fana)-yafna-fana ’, secara bahasa berarti menjadi lenyap, hilang, dan tak kekal. Dalam sumber lain berasal dari kata fana-yafni- fana ’ yang mengandung makna hilang hancur. Sedangkan baqa berasal dari kata baqiya-yabqa- baqa ’ yang berarti dawam atau terus menerus, tidak lenyap dan tidak hancur. Fana dalam istilah Ilmu Tasawuf  adalah suatu tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi menjelang ke tingkat ittihad , yakni hilangnya kesadaran tentang dirinya dari seluruh makhluk dan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta yang ada hanya Allah SWT.  Dengan perkataan lain suatu keadaan mental hubungan manusia dan alam...

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli Untuk menyingkap tabir yang membatasi diri dengan Tuhan, ada sistem yang dapat digunakan untuk riyadhah al-nafsiyah.  Karakteristik ini tersusun dalam  tiga tingkat yang dinamakan takhalli , tahalli , dan tajalli .  Takhalli ialah membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela, kotor hati, maksiat lahir dan maksiat batin.  Pembersihan ini dalam rangka, melepaskan diri dari perangai yang tidak baik, yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama.  Sifat-sifat tercela ini merupakan pengganggu dan penghalang utama manusia dalam berhubungan dengan Allah. Tahalli merupakan pengisian diri dengan sifat-sifat terpuji, menyinari hati dengan taat lahir dan batin.  Hati yang demikian ini dapat menerima pancaran Nurullah dengan mudah.  Oleh karenanya segala perbuatan dan tindakannya selalu berdasarkan dengan niat yang ikhlas (suci dari riya). Dan amal ibadahnya itu tidak lain kecuali mencari ridha Allah SWT.  Untuk itulah man...