Pencerahan Spiritual Dari Perjalanan Tahap Pertama

Pencerahan Spiritual Dari Perjalanan Tahap Pertama
Pencerahan Spiritual Dari Perjalanan Tahap Pertama
Dengan mujahadah dan dzikir yang dilaksanakan oleh seorang salik sebagai pelaksanaan thoriqoh secara istiqomah. Akal (rasio) akan selalu mendapatkan pencerahan dari hati dengan "nur hidayah", nur hidayah tersebut adalah buah dzikir yang dijalani. 

Hasilnya, aktifitas akal yang terkadang suka kebablasan dapat terkendali dengan kekuatan aqidah (spiritual) yang benar. 

Dengan dzikir itu, seperti meditasi, orang beriman hendaknya mampu mengosongkan irodah dan qudroh basyariyah yang hadits (baru) untuk dihadapkan kepada irodah dan qudroh Allah Ta‘ala yang azaliah. 

Maksudnya, obsesi, rencana, dan kemampuan diri untuk mengatur kehidupan kedepan, baik urusan dunia maupun urusan akhirat, saat itu, dengan kekuatan dzikir yang dilaksanakan tersebut, dilepas sementara dari bilik akalnya, kebutuhan hidup tersebut dihadapkan dan diserahkan kepada perancanaan Allah "bagi setiap hamba-Nya" sejak zaman azali serta kepada kemampuan-Nya yang Maha Kuasa untuk memberikan solusi dan pertolongan kepada hamba-Nya.  

Ketika dengan pelaksanaan "meditasi islami" tersebut, rasio berhasil dikosongkan dari kemampuan secara basyariyah, terlebih apabila pengosongan itu adalah merupakan buah syukur yang diekspresikan di dalam bacaan dzikir, hasil yang diharapkan, yang masuk setelah pengosongan itu adalah rahasia bacaan dzikir yang dilakukan tersebut. 

Rahasia yang terkandung di dalam kalimat "La Ilaaha Illallah" (tidak ada Tuhan selain Allah) yang dilafadkan berkali-kali secara istiqomah itu. 

Rahasia bacaan yang masuk tersebut adalah "ilham" dan "inspirasi spontan" di dalam hati seorang hamba yang akan mampu memberikan solusi dan jalan keluar untuk menyelesaikan setiap kesulitan yang sedang dihadapi. 

Itulah rahasia Nubuwah "yang dahulu diberikan kepada para Nabi, kemudian menjadi Walayah" ketika diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang sholeh, sejatinya adalah wahyu yang disampaikan: 
"Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu". (QS. 42 : 51).  
Ketika rahasia Nubuwah itu telah meresap di dalam hati (spiritual). Seperti air yang mengalir dari cabang-cabang anak sungai, ketika keluar dari muara, air itu kemudian melebur di dalam samudera yang tidak terbatas, maka yang asalnya kotor seketika menjadi bersih, yang asalnya najis menjadi suci. 

Seperti itulah pencerahan akal dari rahasia dzikir, sehingga hati yang asalnya susah langsung menjadi gembira: 
"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram". (QS. ar-Ra‘d : 28). 
Dengan itu, manusia tidak sekedar menjadi pintar saja, tapi juga cerdas.

Mereka siap menjawab segala pertanyaan dan teka-teki yang ditampilkan kehidupan dengan benar dan "rahmatan lil alamin", karena akal mereka senantiasa mendapatkan pencerahan dari hati. Itulah hasil perpaduan antara dzikir dan fikir. 

Karena demikian pentingnya pelaksanaan dzikir ini, maka Allah Ta‘ala telah membuat persaksian dengan firman-Nya:  
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Ali Imran : 191). 
Kita meneruskan ayat : 
"Yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami dan telah Kami ajarkan kepadanya Ilmu dari sisi Kami". (QS. al-Kahfi : 65). 
Firman Allah SWT. 
"Fawajadaa 'abdam min 'Ibaadinan"
Mujahid ra berkata: "Hamba itu namanya Khidhir. Dinamakan Khidhir karena apabila dia sholat di suatu tempat, tempat sekelilingnya menjadi tampak hijau".

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi ra. Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw.  bersabda :
"Dinamakan Khidhir karena, sesungguhnya ketika dia duduk di daratan bumi yang putih, ketika ia bergerak maka bumi di atasnya tampak hijau".
Manurut Jumhur Ulama‘, 
"Khidhir as. adalah seorang Nabi. Dalilnya adalah ayat-ayat diatas tersebut (al-Kahfi 60-82), yaitu tidak mungkin seorang mengetahui urusan yang ghaib kecuali dengan Wahyu. Demikian pula, manusia tidak mungkin belajar dan mengikuti orang lain kecuali kepada orang yang ilmu pengetahuannya berada diatasnya, sedangkan diatas seorang Nabi haruslah seorang Nabi pula". (Tafsir Qurthubi, Ayat 65 surat Al-Kahfi.)
Di dalam tafsir kubronya, Imam Fahr ar-Rozi ra. menafsirkan ayat di atas: Firman Allah SWT. 
"Fawajadaa 'abdam min 'ibaadinan" (keduanya telah menemukan seorang hamba dari hamba-hamba Kami) 
beliau berkata : "Sebagian besar Ulama' ahli tafsir telah sepakat bahwa hamba tersebut adalah seorang Nabi dan bernama Khidhir as. yaitu seorang hamba Allah yang dipilih untuk mendapatkan “Nubuwah” (kenabian) dengan alasan sebagai berikut: 

1. Firman Allah: 
"Aatainaahu Rohmatan Min "Indinaa" (Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami). 
Yang dimaksud Rahmat di sini adalah Nubuwah (rahmat kenabian) dengan dalil Firman Allah :  
"Ahum Yaqsimuuna Rohmata Robbik” (Apakah  mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu). QS. 43/32. 
2. Firman Allah : 
"Wa „allam naahu min ladunnaa 'Ilman" (dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami). 
Menunjukkan bahwa Allah telah mengajari hamba itu dengan tanpa perantara seorang pengajar dan menunjukinya tanpa perantara seorang petunjuk. 

Beliau berkata: "Barang siapa mendapatkan ilmu dari Allah tanpa perantara seorang pengajar, yang demikian itu disebut Nubuwah. karena pengetahuan itu, terlebih kepada urusan yang ghaib, tidak mungkin bisa didapatkan kecuali adalah wahyu". 

Dengan dalil firman Allah : 
"Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu". (QS. as-Syuura : 51). 
3. Diriwayatkan ketika Musa as. bertemu Khidhir as. dan menyampaikan salam kepadanya,
Khidhir menjawab : “Salam juga untukmu wahai Nabi Bani Isra'il”. 
Musa as. bertanya: "Siapa yang menunjukkan ini kepadamu ?",  
Dia menjawab: "Yang mengutusmu datang kemari". 
Dengan itu menunjukkan bahwa Khidhir as. adalah seorang Nabi, karena tidak mungkin seseorang dapat mengetahui hal yang ghaib kecuali melalui wahyu. (Tafsir Fahrur-rozi) Inilah ayat kunci itu. 

Ayat tersebut menampilkan sosok yang menjadi simbol adanya "Ilmu Laduni", yaitu sosok yang terlebih dahulu mendapatkan rahmat Allah baru kemudian ilmu-Nya. 

Yang dimaksud "rahmat sebelum ilmu" adalah ilmu pengetahuan yang didasari rahmat Allah Ta‘ala yang memancar dari hati seorang hamba, bukan ilmu yang hanya didasari dengan akal saja, terlebih lagi nafsu dan hawanya. 

Oleh karena itu, Ilmu Laduni tersebut selalu terbit secara aktual dan aplikatif. 

Ilmu itu mampu menjawab setiap kejadian dengan pandangan yang menyejukkan banyak orang. Yang demikian itu akan menampakkan tanda-tanda, diantaranya: 

1) Ilmu pengetahuan itu adalah ilmu pengetahuan yang universal dan "rahmatan lil alamin", artinya: Ilmu pengetahuan yang kemanfaatannya secara umum mencakup kepentingan seluruh makhluk, baik manusia maupun jin. Bukan ilmu pengetahuan yang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau golongan. 

Dan secara khusus akhirnya kembali untuk kepentingan hamba-hamba Allah yang beriman dan bertakwa kapada-Nya. Atau untuk mengajak manusia ke jalan Allah Ta‘ala: 
"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami". (QS. al-A‘raaf : 156).  
Kalau pelaksanaan ilmu pengetahuan ternyata hanya membuahkan perpecahan diantara sesama manusia lebih-lebih sesama orang yang beriman. Atau hanya untuk kepentingan mencari sumber hidup dan sandang pangan, maka bukan ilmunya yang harus dipersoalkan, tapi yang mendasarinya, barangkali di dalam hati pemiliknya masih ada yang perlu mendapatkan pembenahan. 

Hal itu disebabkan, karena dalam hati manusia itu boleh jadi sebagai tempat hidayah Allah dan juga boleh jadi sebagai tempat sarang setan menebarkan fitnah di dalam kehidupan. 

2) Ilmu pengetahuan yang menjadikan hati seorang hamba mudah memaafkan kesalahan orang lain : 
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka.  
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.  
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya. (QS. Ali Imran : 159).
3) Ilmu pengetahuan yang mampu membangun semangat persaudaraan sehingga menciptakan komunitas manusia yang mampu mengabdi kepada Tuhannya : 
"Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. (QS. Ali Imran : 159). 
Oleh karena yang mendasari ilmu itu adalah rahmat Allah, maka dimana-mana ilmu itu akan menciptakan kedamaian dan persaudaraan, bukan ilmu yang menciptakan perselisihan dan perpecahan. 

Ilmu yang mengantarkan pemiliknya dicintai Allah Ta‘ala dan dicintai seluruh makhluk-Nya, bukan ilmu yang menjadikan pemiliknya dibenci Allah Ta‘ala. 

Kalau orang dibenci manusia karena suatu hal, tetapi dia juga dicintai manusia karena hal yang lain, lebih - lebih bila pihak yang mencintai lebih besar daripada pihak yang membenci "di dalam kehidupan di dunia" yang demikian itu wajar terjadi.  

Sebab, tidak mungkin orang dicintai orang lain kecuali terlebih dahulu terbit dari dibenci, demikian juga sebaliknya tidak mungkin orang dibenci orang lain kecuali terbit dari dicintai. 

Allah memberikan sinyalemen dengan firman-Nya : 
"Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam.  
Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup.  
Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)." (QS. Ali Imran : 27).  
Demikian itu adalah sunnatullah yang tidak akan mengalami perubahan lagi untuk selama - lamanya, sehingga "dengan Ilmu Laduni yang sudah dimiliki" seorang hamba menjadi kenal kepada segala sunnah yang ada tersebut. 

Maka, orang tersebut tidak menjadi benci sebab kebencian makhluk dan tidak menjadi cinta sebab kecintaan makhluk, dia semata-mata hanya mencintai seluruh makhluk karena dia telah mencintai Penciptanya. 

Sehingga sosok Khidhir itu digambarkan oleh hadits diatas sebagai berikut : 

"Dinamakan Khidhir karena, sesungguhnya ketika dia duduk di daratan bumi yang putih, ketika ia bergerak maka bumi atasnya tampak hijau". 

Walhasil, dengan Ilmu Laduni, seorang hamba akan mendapatkan penerimaan yang baik, baik oleh seluruh makhluk, "di muka bumi" karena kecintaannya telah membuahkan cinta pula, maupun oleh Allah Ta‘ala "di dunia dan di akhirat" karena pengabdiannya telah mendapatkan penerimaan yang baik di sisi-Nya. 

Dengan itu akhirnya orang tersebut akan mendapatkan pungkasan hidup yang baik (husnul khotimah) yang akhirnya akan mengantarkan dirinya mendapatkan ridho Allah Ta‘ala dan bahagia untuk selama-lamanya di Surga. Insya Allah. 

Meneruskan ayat : 
Musa berkata kepada Khidhir: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?".  
Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?".  
Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun". 
Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu".  (QS. 18 : 65-70).

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Ilmu Akhlak pada Agama Islam

Ilmu Akhlak pada Agama Islam Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah - perintah Allah dan larangan - larangan-Nya.  Akhlak harus ada serta nampak pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.  Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.  Semua ini terkandung dalam ajaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.  Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Tokoh-tokoh ini tidak lain adalah Nabi - nabi yang tercatat dan diabadikan dalam kitab suciAl-Qur’an.  1. Nabi Ibrahim AS Nabi Ibrahim AS mempunyai sebutan sebagai Ayahnya semua nabi dan rasul, yang membawa dan menyebarkan ajaran tauhid kepada umat manusia. Ia adalah orang yang berani menanggung resiko dalam m...

Sumber Akhlak, Moral dan Etika dan Manfaat Mempelajarinya

Sumber Akhlak, Moral dan Etika dan Manfaat Mempelajarinya Akhlak yang mulia merupakan unsur yang sangat utama di dalam risalah Islamiyah.  Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kata akhlak, moral dan etika yang ketiganya merupakan tingkah laku manusia, hampir sama, namun jika dilihat dari sumbernya, ketiga kata tersebut akan berbeda.  Akhlak bersumber dari agama wahyu. Moral bersumber dari adat istiadat masyarakat. Sementara etika bersumber dari filsafat moral dan akal pikiran.  Dalam kajian ini mengarah pada konseptual akhlak Islami dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadits Nabawi dikomparasikan dengan materi-materi yang sudah berkembang.  Sikap dan prilaku akhlak Islami yang sempurna itu harus berpegang pada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Orang yang paling mengerti tentang pengamalan Al-Qur’an adalah Nabi sendiri. Rasulullah SAW adalah prototipe manusia yang berakhlak sempurna. Allah SWT menyebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Qalam ayat ke 4,  "...

Urgensi dan Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak pada Zaman Modern

Urgensi dan Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak pada Zaman Modern Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah- perintah Allah dan larangan-larangan-Nya.  Akhlak harus ada serta terlihat pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.  Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.  Semua ini terkandung dalam ajaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.  Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia.  Agama Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dialah pencipta, pemelihara, pemberi rahmat, pelindung terhadap a...

Nur Muhammadiyyah ( Contoh Pertama Ilmu Laduni )

Nur Muhammadiyyah ( Contoh Pertama Ilmu Laduni ) Berkaitan urusan pribadi yang terjadi pada diri Rasul Muhammad saw., suatu saat Allah Ta‘ala berfirman kepadanya:  " Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipudayakan". (QS. an-Nahl : 127) Ibnu Zaid berkata: " Ayat ini adalah menghapus ayat-ayat perang". S edangkan Ulama‘ Jumhur berpendapat: "Itu adalah pelaksanaan ilmu hikmah".  Artinya sabarlah terhadap kesalahan mereka dengan memberi pengampunan. Artinya, jangan kejahatan dibalas dengan kejahatan" . (Tafsir Qurthubi)   Maksudnya, tidak bersedih dan tidak sempit dada terhadap kejahatan orang-orang yang belum mau beriman adalah bukan sesuatu yang dapat dimengerti secara teori rasional ilmiah saja, tapi juga yang dirasakan di dalam hati, itulah yang dimaksud sabar .  Orang sudah mengetahui dan...

Jimat Kebal Pejuang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949

Kisah Orang-Orang Kebal Pejuang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949 Tidak hanya pahlawan nasional dengan pangkat berjejeran, Anda harus tahu jika pejuang kemerdekaan Indonesia saat itu termasuk orang-orang kebal. Mereka punya peran yang tak kalah penting dengan pejuang republik, sama-sama mengangkat senjata untuk mengusir penjajah kolonial Belanda tahun 1945-1949. Menurut sejumlah pemberitaan, orang-orang tak tembus peluru ini juga pernah menempati kedudukan mentereng dalam organisasi kerakyatan. Sebagian dari mereka ada yang menjabat jadi ketua perkumpulan rakyat dan mendirikan laskar bersenjata. Bagi orang-orang kebal perang adalah hal yang biasa. Setiap hari mereka bekerja melibatkan resiko, pilihannya hanya dua, yakni hidup atau mati. Kebiasaan hidup penuh resiko itu membuat mereka maju di baris depan tatkala Belanda melakukan agresi militer di Indonesia. Seluruh ilmu kekebalan (anti peluru) mereka pakai menghadang pasukan Belanda. Jangankan timah panas yang keluar hanya dari sepucuk s...

Dasar-dasar Akhlak Islami

Dasar-dasar Akhlak Islami Eksistensi manusia sebagai makhluk, tentu harus berhadapan pula dengan realitas lain yaitu Sang Khalik (yang menciptakan manusia).  Dasar-dasar Akhlak Islami Memahami manusia dari apa yang dihasilkannya membawa konsekuensi untuk memahami struktur kehidupannya dalam suatu sistem kebudayaan, sebagai suatu usaha memahami seluruh kegiatan manusia dalam kesatuan yang organis. Mustafa Zahri menukil pendapat Imam Ghazali bahwa tujuan perbaikan akhlak itu ialah dalam rangka membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima Nur Cahaya Tuhan.  Urgensi akhlakul karimah merupakan hal yang sangat berguna dalam mengarahkan dan mewarnai berbagai aktivitas kehidupan manusia di segala bidang.  Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju disertai dengan akhlak yang mulia, niscaya ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang dimilikinya itu akan dimanfaatkan sebaik...

Tentang Insan Kamil

Insan Kamil Insan Kamil . Insan Kamil berasal dari gabungan dua kata bahasa Arab, insan dan kamil . Insan berarti manusia, kamil berarti sempurna. Jadi secara bahasa insan kamil mengandung makna manusia sempurna ( Perfect Man ), yakni manusia yang dekat (qarib dengan Allah) dan terbina potensi ruhaniahnya sehingga dapat berfungsi secara optimal.  Inilah manusia seutuhnya yang mempunyai ketinggian derajat di hadapan Tuhannya, sehingga mencapai tingkat kesempurnaan tauhid dan akhlak mulia.  Manusia sempurna ( insan kamil ) menurut Abdul Karim al-Jilli (wafat 1428 M.) sebagaimana dikutip oleh A. Mustofa, adalah manusia cerminan Tuhan atau manusia kopi Tuhan.  Dengan kata lain manusia yang sudah mengenal eksistensi dirinya sendiri dan memiliki sifat-sifat yang mulia. Secara umum dalam ajaran tasawuf yang dimaksud insan kamil adalah manusia yang telah memiliki dalam dirinya Nur Muhammad yang disebut dengan Al-Haqiqatul Muhammadiyyah .  Dalam pandangan Ibnu ’Arabi ...

Riyadhah Adalah Perjuangan Dalam Batin dan Diri Sendiri

Riyadhah Riyadhah adalah latihan-latihan fisik dan jiwa dalam rangka melawan getaran hawa nafsu dengan melakukan puasa, khalwat, bangun di tengah malam (qiyamullail), berdzikir, tidak banyak bicara, dan beribadah secara terus menerus untuk penyempurnaan diri secara konsisten. Semua kondisi puncak kebahagiaan, puncak penderitaan, puncak kegembiraan, dan puncak kesedihan merupakan wujud dari riyadhoh .  Manusia mempersiapkan diri dengan berbagai latihan-latihan jiwa untuk kesucian batin.  Kunci sukses dari Riyadhoh adalah kepasrahan diri, menerima dengan ikhlas dan lapang dada atas semua yang diberikan sang Khaliq. Dalam hubungan dengan Riyadloh , berkaitan dengan tiga hal berikut ini: Takhalli ( Takholli minal akhlaaqil madzmuumah, lepaskan dirimu dari perangai tercela).  Menghapus perbuatan tercela dan dalam mencapai Asmaul Husna, harus ada sifat menghayati, bertobat dengan cara istiqomah dan ikhlas. Tahalli ( Tahalli nafsaka bil akhlaaqil mahmuudah, isilah jiwamu de...

Ma’rifat ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf )

Ma’rifat ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf ) Ma’rifat. Kata ma’rifat berasal dari kata ‘arafa yang artinya mengenal dan paham. Ma’rifat menggambarkan hubungan rapat dalam bentuk gnosis, pengetahuan dengan hati sanubari.  Pengetahuan ini diperoleh dengan kesungguhan dan usaha kerja keras, sehingga mencapai puncak dari tujuan seorang Salik.  Hal ini dicapai dengan sinar Allah, hidayahNya, Qudrat dan Iradat-Nya. Sebagaimana telah dipahami, ma’rifat adalah mengetahui Tuhan dari dekat. Oleh karenanya hati sanubari dapat melihat Tuhan. Tujuan utama yang menjadi inti ajaran tasawuf adalah mencapai penghayatan ma’rifat pada dzat Allah.  Ma’rifat ini dalam tasawuf adalah penghayatan atau pengalaman kejiwaan. Oleh karena itu alat untuk menghayati Dzat Allah bukan pikiran atau panca indra, akan tetapi hati atau kalbu.  Dengan demikian, orang-orang sufi mengaitkan kedua mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, maka mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang di...