Memahami Konsep Fana dan Baqa Dalam Ilmu Tasawuf

Fana dan Baqa
Fana dan Baqa. Dalam kajian tasawuf antara fana dan baqa tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan baqa merupakan sisi lain yang terikat dari fana.

Bahkan dalam Sayyid Mahmud Abul Faidh al-Manufi al Husaini menggabungkan tema kajian fana dan baqa (pada satu judul) dalam karyanya Jamharotul Awliya. 

Fana diambil dari kata faniya (fana)-yafna-fana’, secara bahasa berarti menjadi lenyap, hilang, dan tak kekal.

Dalam sumber lain berasal dari kata fana-yafni-fana yang mengandung makna hilang hancur.

Sedangkan baqa berasal dari kata baqiya-yabqa-baqa’ yang berarti dawam atau terus menerus, tidak lenyap dan tidak hancur.

Fana dalam istilah Ilmu Tasawuf  adalah suatu tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi menjelang ke tingkat ittihad, yakni hilangnya kesadaran tentang dirinya dari seluruh makhluk dan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta yang ada hanya Allah SWT. 

Dengan perkataan lain suatu keadaan mental hubungan manusia dan alam dengan dirinya sudah lenyap dan hilang dari nilai - nilai kemanusiaannya.

Yang ada hanyalah pertemuan dirinya dengan Sang Maha Kuasa Pencipta Alam Semesta. 

Allah berfirman:
" Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa’. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya"
Untuk mencapai liqa’ robbih (pertemuan dengan Allah) menurut ayat di atas seseorang harus banyak beramal shalih dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun. 

Oleh karena itu seorang sufi akan dapat mencapai ma’rifatullah bila telah dekat dengan Allah sedekat-dekatnya. 

Dan ia akan semakin tinggi tingkatannya dalam ber-ma’rifat jika ia terlebih dahulu menghancurkan dirinya, yaitu menghancurkan segala sifat kehewanan yang penuh hawa nafsu dan pengaruh tabi’at syaithan. 

Untuk kemudian menetapkan sifat-sifat terpuji yang selalu mendapat cahaya Robbaniyah dan selalu mengarah pada kebaikan yang bertujuan untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

Penghancuran diri (fana) itulah yang dicari oleh kaum sufi, yaitu hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia.

Tokoh yang berkompeten sebagai figurnya adalah Abu Yazid al Busthomi.

Yazid al Busthomi yang nama lengkapnya Thaifur ibn ‘Isa ibn Sarusyan, Beliau berasal dari Bustham. Meninggal pada tahun 261 H (riwayat lain 264 H).

Beberapa Kitab yang mengisahkan tentang al Busthomi diantaranya: Thabaqat al Shufiyyah karya dari al-Sulami, Al-Luma’ karya dari Imam al-Thusi, Al-Risalah al-Qusyairiyyah karya Imam al-Qusyairi.

Al Busthomi begitu diliputi keadaan Fana’, tercermin dari banyak ungkapannya yang diriwayatkan berasal darinya, dia berkata:
”Mahluk mempunyai berbagai keadaan. Tapi Seorang ‘arif tidak mempunyai keadaan. Sebab ia mengabaikan aturan-aturannya sendiri. Identitasnya sirna pada identitas yang lainnya, dan bekas-bekasnya gaib pada bekas-bekas lainnya.” 
Hal ini mustahil terjadi kecuali dengan ketertarikan penuh seorang ’arif kepada Allah, sehingga dia tidak menyaksikan selain-Nya. 

Seorang ’arif, menurut Abu Yazid al Busthomi
“Dalam tidurnya tidak melihat selain Allah, dan dalam jaganya pun tidak melihat selain Allah. Dia tidak seiring dengan yang selain Allah, dan tidak menelaah selain Allah".
Ibn ‘Atha’illah al-Sukandari berkata:
”Ketahuilah! Sebagian orang berkata bahwa Abu Yazid al-Busthomi ingin tidak berkeinginan, karena Allah mengingininya.
Semua orang sepakat bahwa dia tidak mempunyai keinginan.  
Bersama-Nya, dia tidak menginginkan apa pun dan tidak mengingininya.  
Dalam kehendaknya, dia tidak ingin, seiring dengan kehendak Allah”. 
Selanjutnya beliau berkata: 
Dan sesungguhnya bangunan yang wujud ini akan rusak sampai ke sendinya, dan lenyaplah semua kesenangan-kesenangan yang berharga”.
Tentang Penyatuan, Abu Yazid al Busthomi mengungkapkan:
“Aku pun keluar dari Yang Maha Benar menuju Yang Maha Benar dan akupun berseru: duh, Engkau yang aku! Telah kuraih kini peringkat ke-fana’an.” 
Dan katanya yang lain, 
“Sejak tiga puluh tahun yang silam, Yang Maha Benar adalah cermin diriku. sebab kini aku tidak berasal dari diriku yang dahulu.”
Demikian keadaan Abu Yazid al-Busthomi yang telah mencapai fana dalam ke-baqa-an Tuhannya, bahkan peristiwa semacam ini juga pernah dialami oleh tokoh - tokoh sufi yang lainnya seperti Hasan an-Nury, Syekh Abdul Qadir Jailani, Syekh Ahmad Rifa’i, Syekh Jalaluddin ar-Rumi, Syekh Abul Hasa Syadili, Imam al-Ghazali, Syekh Ahmad Badawi, dan sebagainya.  

Ungkapan al Busthomi tentang ke-fana-an dan penyatuan dengan Kekasihnya yang terlalu berlebihan dan agak ganjil seperti berikut ini:
”Aku ini Allah, tidak ada Tuhan kecuali aku, maka sembahlah aku.” 
Katanya pula : 
”Betapa sucinya Aku, betapa besarnya Aku.” 
Dan katanya: 
“Aku keluar dari Abu Yazidku, seperti halnya ular keluar dari kulitnya, dan pandangan ku pun terbuka, dan ternyata sang pecinta, Yang dicinta, dan cinta adalah satu. Sebab manusia dalam alam penyatuan adalah satu.”
Ungkapan-ungkapan yang begini diucapkan dalam kondisi psikis yang tidak normal, yang diakibatkan suatu derita. 

Sebab ucapan itu, menurut para sufi, adalah gerakan-gerakan rahasia orang yang dominan intuisinya. 

Andaikan intuisi itu sedang kuat-kuatnya, maka merekapun mengungkapkan intuisinya dengan ucapan yang dipandang ganjil (syathohat) oleh pendengarnya. Begitu juga dengan al Busthomi. 

Syathohat adalah kata-kata yang penuh khayal yang tidak dapat dipegangi dan dikenakan hukum karena dalam keadaan fana tiada sadar pada dirinya, sebab tenggelam dalam lautan tafakkur. 

Adapun macam-macam tingkatan fana adalah sebagai berikut:

1. fana fi af’alillah, yakni tidak ada perbuatan melainkan perbuatan Allah, ( QS. 81:29 )

2. Fana fisshifat, yakni tiada yang hidup sendiri melainkan Allah, 

Fana pada tingkat kedua ini, seorang sufi sudah mulai dalam situasi putusnya diri dari alam indrawi dan mulai lenyapnya segala sifat kebendaan. 

Dalam arti situasi menafikan diri dan mengitsbatkan sifat Allah, mem-fana-kan sifat-sifat diri ke dalam ke-baqa-an Allah yang mempunyai sifat sempurna (QS. 59:23).

3. Fana fil Asma, yakni tiada yang patut dipuji melainkan Allah, 

Pada tingkat ini segala sifat kemanusiannya telah lenyap sama sekali dari alam wujud yang gelap ini dan masuk ke alam ghaib (QS. 24:35).

4. Fana fidzdzat, yakni tiada wujud secara mutlak melainkan Allah. 

Pada tingkatan ke-empat telah memperoleh perasaan batin pada suatu keadaan yang tak berisi pada ruang yang tak terbatas dan tidak bertepi. 

Seseorang telah mencapai Syuhudul Haqqi bil Haqq, dia telah lenyap dari dirinya sendiri, dalam keadaan mana hanya dalam ke-baqa-an Allah semata. Yakni segalanya telah hancur lebur, yang ada hanya wujud mutlak Allah SWT. (QS. 55:26-27).

Dalam hal ini fana yang dicari oleh seorang sufi adalah penghancuran diri (al-fana ’an al-nafs), yaitu hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh yang kasar manusia. 

Berarti dirinya tetap ada dan demikian pula makhluk lain juga ada, tetapi ia tidak sadar lagi pada mereka dan pada dirinya. 

Dengan demikian yang menjadi tujuan para sufi adalah al-fana ’an al-nafs yang menyebabkan mereka mengalami baqa pada diri Tuhan. 

Sedangkan baqa adalah kekalnya sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. 

Karena lenyapnya sifat-sifat Basyariyah maka yang kekal adalah sifat-sifat Ilahiyah. 

Fana dan baqa datang beriringan. Ini merupakan pengalaman mistik tentang substansi atau kehidupan bersama dengan Tuhan setelah terjadi fana dalam diri sufi. 

Abu Yazid al-Busthomi dengan fana meninggalkan dirinya dan pergi ke hadirat Tuhan. Sedangkan dengan baqa ia tetap bersama Tuhan. 

Pengalaman baqa dan fana-nya teraktualisasikan dalam beberapa ucapan yang dilontarkannya seperti: 
“Aku tahu Tuhan melalui diriku hingga aku fana kemudian aku tahu pada-Nya melalui diri-Nya, maka aku pun hidup”, 
Ia membuat aku gila pada diriku sehingga aku mati, kemudian Ia membuat aku gila pada-Nya dan aku pun hidup maka aku berkata, gila pada diriku adalah fana dan gila pada diriku adalah baqa

Aku mimpi melihat Tuhan lalu aku bertanya, Tuhanku apa jalannya untuk sampai kepadamu? Ia menjawab, tinggalkan dirimu dan datanglah kepada-Ku”.

Oleh karenanya ke mana pun sufi menghadapkan mukanya, yang terlihat oleh mata hanyalah Allah semata; hatinya yang menghadap ke wilayah empiris menjadi tertutup. 

Untuk itu hanya Allah yang berada dalam kesadarannya. 

Dalam fana Abu Yazid berkata,
“Yang ada di jubah ini hanya Allah”
Dengan terjadinya fana tersebut terjadi pula baqa

Kesadaran tentang selain Allah sirna (fana) tetapi kesadaran tentang Allah terus menerus berlangsung (baqa).

Inilah yang dimaksud perpaduan antara fana dan baqa

Sehingga baqa dan fana beredar atas keikhlasan serta sirnanya pribadi dalam kekalnya Allah SWT. 

Juga kekalnya atas penyaksian kepada Allah dan pengosongan dari pandangan diri sendiri, sekali pun ada padanya.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia Berbicara tentang sejarah akhlak berarti membicarakan semenjak adanya manusia, yaitu sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS. Sejarah  ilmu akhlak yaitu sejarah yang mempelajari batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan tercela, tentang perkataan dan perbuatan manusia lahir dan batin sejak zaman Nabi Adam AS hingga sekarang.  Sejarah ilmu akhlak ialah sejarah yang menggali tentang tingkah laku baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuannya dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka dari masa ke masa. Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa perkembangan pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku seseorang melalui berbagai macam metode yang disusun secara sistematis dari zaman ke zaman.  Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa yang benar-benar terjadi dari perkembangan ilmu pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku  seseorang me...

Pencerahan Spiritual Dari Perjalanan Tahap Pertama

Pencerahan Spiritual Dari Perjalanan Tahap Pertama Dengan mujahadah dan dzikir yang dilaksanakan oleh seorang salik sebagai pelaksanaan thoriqoh secara istiqomah. Akal (rasio) akan selalu mendapatkan pencerahan dari hati dengan " nur hidayah ", nur hidayah tersebut adalah buah dzikir yang dijalani.  Hasilnya, aktifitas akal yang terkadang suka kebablasan dapat terkendali dengan kekuatan aqidah ( spiritual ) yang benar.  Dengan dzikir itu, seperti meditasi, orang beriman hendaknya mampu mengosongkan irodah dan qudroh basyariyah yang hadits (baru) untuk dihadapkan kepada irodah dan qudroh Allah Ta‘ala yang azaliah.  Maksudnya, obsesi, rencana, dan kemampuan diri untuk mengatur kehidupan kedepan, baik urusan dunia maupun urusan akhirat, saat itu, dengan kekuatan dzikir yang dilaksanakan tersebut, dilepas sementara dari bilik akalnya, kebutuhan hidup tersebut dihadapkan dan diserahkan kepada perancanaan Allah "bagi setiap hamba-Nya " sejak zaman azali serta kepada...

Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf

Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf  Istilah tasawuf dimasa Nabi SAW tidak ada, demikian pula dimasa para sahabat Nabi SAW dan tabi’in belum ada istilah itu. Istilah tasawuf itu muncul setelah banyaknya buku-buku pengetahuan yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Dan sebenarnya istilah ini berasal dari kata Sufia (Sophia), dalam istilah bahasa Arab berarti kelompok ahli ibadat untuk menyatukan batinnya hanya kepada Allah semata, sebab tujuan semata untuk mengadakan hubungan dengan yang Maha Benar. (Haqiqatul Haqaiq).  Dalam masalah ini belum ada seorang pun pengkaji masalah tasawuf yang sampai dalam batasan ilmiah untuk mengetahui tokoh sufi pertama dalam Islam dan siapa yang meletakkan batu pertama bagi pemikiran tasawuf ini. Tasawuf merupakan sebuah konsep yang tumbuh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, baik dalam segi wacana, perilaku, maupun akidah.  Tasawuf terjadi pada setiap umat dan agama-agama, khususnya Brahmana Hinduisme, filsafat Ilum...

Memahami Pengertian Wahdatul Wujud

Memahami Pengertian Wahdatul Wujud Secara etimologi, wahdatul wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu Wahdat dan al-Wujud.  Wahdat artinya adalah penyatuan, satu, atau sendiri, sedangkan al-wujud artinya ada (eksistens).  Di kalangan ulama klasik ada yang mengartikan wahdah sebagai sesuatu yang zatnya tidak dapat dibagi-bagi. Selain itu al-wahdah digunakan oleh para sufi sebagai suatu kesatuan antara materi dan roh, substansi (hakikat) dan forma (bentuk), antara yang tampak atau lahir dengan yang batin, antara alam dengan Allah, karena alam dan seisinya berasal dari Allah.  Wujudnya makhluk adalah ‘ain wujudnya Khalik . Pada hakikatnya tidak ada perbedaan diantara keduanya.  Kalau dikatakan berlainan dan berbeda wujud makhluk dengan wujud Khalik, itu hanyalah lantaran pendeknya paham dan singkatnya akal dalam mengetahui dan mencapai haqiqat.  Wahdatul Wujud mempunyai pengertian bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki ata...