Ma’rifat ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf )

Ma’rifat ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf )

Ma’rifat. Kata ma’rifat berasal dari kata ‘arafa yang artinya mengenal dan paham. Ma’rifat menggambarkan hubungan rapat dalam bentuk gnosis, pengetahuan dengan hati sanubari. 

Pengetahuan ini diperoleh dengan kesungguhan dan usaha kerja keras, sehingga mencapai puncak dari tujuan seorang Salik. 

Hal ini dicapai dengan sinar Allah, hidayahNya, Qudrat dan Iradat-Nya.

Sebagaimana telah dipahami, ma’rifat adalah mengetahui Tuhan dari dekat. Oleh karenanya hati sanubari dapat melihat Tuhan.

Tujuan utama yang menjadi inti ajaran tasawuf adalah mencapai penghayatan ma’rifat pada dzat Allah. 

Ma’rifat ini dalam tasawuf adalah penghayatan atau pengalaman kejiwaan. Oleh karena itu alat untuk menghayati Dzat Allah bukan pikiran atau panca indra, akan tetapi hati atau kalbu. 

Dengan demikian, orang-orang sufi mengaitkan kedua mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, maka mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah SWT. 

Ma’rifat adalah cermin, kalau seorang ’arif melihat ke cermin itu maka yang dilihatnya hanya Allah SWT. Yang dilihat seorang ’arif baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanya Allah SWT.

Sekiranya ma’rifat mengambil bentuk materi, maka semua orang yang melihat padanya akan mati karena tak tahan melihat kecantikan serta keindahannya. 

Al-Junaidi memandang bahwa ahli ma’rifat itu membatasi diri tingkah lakunya menjadi empat perkara:

(1) Mengenal Allah secara mendalam, hingga seakan-akan dapat berhubungan langsung denganNya.

Seseorang bisa melihat Allah melalui pandangan hatinya (yang suci), dan dapat melihat Allah melalui pengamatan terhadap makhluk ciptaan-Nya.

(2) Dalam beramal selalu berpedoman kepada petunjuk - petunjuk Rasulullah SAW.

Demikian juga harus berakhlak sesuai dengan ajaran Al-Qur’an serta mampu memelihara syari’at Allah SWT.

(3) Berserah diri kepada Allah dalam mengendalikan hawa nafsunya, 

Dalam hal ini menyangkut keikhlasan menerima takdir-Nya dan tidak takut kepada selain Allah.

dan (4) Merasa bahwa dirinya milik Allah, dan kelak pasti akan kembali kepada-Nya. 

Menurut Dzinnun al-Misri, bahwa “Ma’rifat itu adalah anugerah dari Allah SWT dan merupakan karunia yang agung.” 

Ilmu - ilmu yang diturunkan Allah SWT Kepada orang yang ahli ma’rifat itu bisa jadi berupa ilham dan dalam keadaan mujmal. Hal tersebut sebagaimana diungkapkankan oleh Ibnu Athoillah

“Hakikat-hakikat (ilmu) yang datang keadaan penampakannya masih mujmal (global), dan setelah ada penerimaan barulah terbukti kejelasannya. 

Allah berfirman : 

" Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaan itu. Kemudian sesungguhnya atas Kami-lah tanggungan penjelasannya”. ( QS. 75 : 18-19 )

Ilmu yang diilhamkan ke dalam hati ahli ma’rifat itu baru dapat dimengerti setelah dipikir dan ada perenungan.

Kelebihan manusia adalah kesiapannya untuk ma’rifat kepada Allah SWT, yang di dunia merupakan keindahan, kesempurnaan, dan kebanggaannya; dan di akhirat merupakan harta kekayaan dan simpanannya. Adapun alat untuk  mencapai ma’rifat adalah kalbu (hati sanubari).

Apabila hasil pemikiran dari ahli ma’rifat itu dilihat secara sepintas, maka akan nampak (seolah-olah) bertentangan dengan syari’at. Namun jika dipikir dan dikaji secara lebih mendalam, maka ternyata hal itu tidak bertentangan (tidak menyalahi) dengan hukum agama (syara’). 

Menurut Ibnu Arabi, seseorang bisa disebut Waliyullah apabila ia sudah mencapai tingkatan ma’rifat. 

Kaum sufi yakin bahwa ma’rifat itu bukan hasil pemikiran manusia, tetapi tergantung kepada kehendak dan rahmat Tuhan, ma’rifat merupakan pemberian Tuhan kepada orang yang dipandang sanggup menerimanya.

Menurut Al-Ghazali Mahabbah timbul dari ma’rifat. Mahabbah di sini bukan seperti yang diungkapkan Rabi’ah al-Adawiyah, tetapi cinta yang timbul dari kasih sayang dan rahmat Tuhan. 

Ia memandang ma’rifat dan mahabbah ini merupakan setinggi-tinggi tingkat yang dicapai seorang sufi. 

Rabi’ah al-Adawiyah  (w. 185 H/796 M) telah melihat Tuhan dengan mata hatinya kepada zuhud karena cinta (Mahabbah).

Seseorang yang dapat menangkap cahaya ma’rifat dengan mata hatinya akan dipenuhi kalbunya dengan rasa cinta yang mendalam kepada  Tuhan. 

Bahkan tidak heran kalau seorang salik merasa tidak puas dengan tingkatan ma’rifat saja, namun ingin lebih dari itu, yaitu persatuan dengan Tuhan (ittihad).

Pengalaman ittihad ini ditampilkan oleh Abu Yazid al-Bustami  (w. 874 M), ia menunjukkan bahwa utuk mencapai ittihad, diperlukan usaha yang keras dan membutuhkan waku yang lama. 

Sebelum ittihad, terlebih dahulu mengalami fana’ dan baqa’. Fana itu hancurnya sifat-sifat jelek, sedangkan baqa adalah tetap tinggalnya sifat - sifat taqwa; yang tinggal hanya kebaikan.

Pada dasarnya untuk mencapai tingkat ke-wali-an, bisa dicapai dengan jalan suluk sebagaimana yang telah disebutkan, dan ada juga dengan tidak melalui suluk. Hal ini tersirat sebagaimana yang terkandung dalam firman Allah:

 “ Allah menarik kepada agama itu orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”  ( QS. 42 : 13 )

Keadaan (tingkah laku) yang pertama adalah jalannya kaum mahbubun murodun, yaitu orang yang dicintai dan dikehendaki Tuhan. 

Mereka ini adalah orang-orang yang mendapat derajat dan kemuliaan dengan anugerah Allah tanpa dicari sebelumnya. Dalam kategori ini termasuk para Nabiyullah dan para Rasulullah. 

Setelah Allah menghilangkan hijab dari hati mereka, barulah berijtihad dan beramal dengan lezatnya Nurul yaqin. 

Keadaan yang kedua adalah jalannya orang-orang yang disebut muhibbun muridun, yaitu orang-orang yang cinta kepada Allah dan menyiapkan dirinya menuju jalan Allah.

Pertama-tama mereka giat beribadah, riyadlah, dan mujahadah, barulah mereka mendapat hidayah, yaitu kasyaf (tersingkapnya hijab pada hati mereka).


Ibnu ‘Arabi puncak suluknya disebut dengan wahdatul wujud, yaitu bersatunya manusia dengan Tuhan. Manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud. 

Sedangkan al-Hallaj menamainya dengan hulul. Oleh karenanya ma’rifat yaitu mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat Tuhan.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Memahami Konsep Fana dan Baqa Dalam Ilmu Tasawuf

Fana dan Baqa Fana dan Baqa . Dalam kajian tasawuf antara fana dan baqa tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan baqa merupakan sisi lain yang terikat dari fana. Bahkan dalam Sayyid Mahmud Abul Faidh al-Manufi al Husaini menggabungkan tema kajian fana dan baqa (pada satu judul) dalam karyanya Jamharotul Awliya.  Fana diambil dari kata faniya (fana)-yafna-fana ’, secara bahasa berarti menjadi lenyap, hilang, dan tak kekal. Dalam sumber lain berasal dari kata fana-yafni- fana ’ yang mengandung makna hilang hancur. Sedangkan baqa berasal dari kata baqiya-yabqa- baqa ’ yang berarti dawam atau terus menerus, tidak lenyap dan tidak hancur. Fana dalam istilah Ilmu Tasawuf  adalah suatu tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi menjelang ke tingkat ittihad , yakni hilangnya kesadaran tentang dirinya dari seluruh makhluk dan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta yang ada hanya Allah SWT.  Dengan perkataan lain suatu keadaan mental hubungan manusia dan alam...

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli Untuk menyingkap tabir yang membatasi diri dengan Tuhan, ada sistem yang dapat digunakan untuk riyadhah al-nafsiyah.  Karakteristik ini tersusun dalam  tiga tingkat yang dinamakan takhalli , tahalli , dan tajalli .  Takhalli ialah membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela, kotor hati, maksiat lahir dan maksiat batin.  Pembersihan ini dalam rangka, melepaskan diri dari perangai yang tidak baik, yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama.  Sifat-sifat tercela ini merupakan pengganggu dan penghalang utama manusia dalam berhubungan dengan Allah. Tahalli merupakan pengisian diri dengan sifat-sifat terpuji, menyinari hati dengan taat lahir dan batin.  Hati yang demikian ini dapat menerima pancaran Nurullah dengan mudah.  Oleh karenanya segala perbuatan dan tindakannya selalu berdasarkan dengan niat yang ikhlas (suci dari riya). Dan amal ibadahnya itu tidak lain kecuali mencari ridha Allah SWT.  Untuk itulah man...