Waliyullah, Eksistensi dan Kedudukannya

Waliyullah, Eksistensi dan Kedudukannya
Waliyullah / Wali Allah
Waliyullah merupakan gabungan dari lafadz “wali” dan “Allah”. Kata “wali” adalah bentuk mufrad (singular), sedangkan bentuk jamak-nya (plural) adalah “awliya”. 

Wali Allah artinya kekasih Allah. Jadi bentuk jamak-nya awliya Allah (para kekasih Allah). 

Dikatakan kekasih Allah karena ia sangat dekat dengan Allah, sehingga Allah menjadi pemelihara dan penolong bagi kekasih-Nya. 

Kata “wali” itu lawan kata dari “’Aduww” (musuh) seperti dikatakan : “setiap orang yang mewalikan kepada seseorang adalah dia walinya”. 

Al-Wali termasuk nama nama Allah yang berarti penolong. Oleh karena itu wali berarti kekasih, pelindung, penolong, dan kawan; yang dimaksud di sini adalah kekasih atau kesayangan Allah SWT. 

Kata “wali” dapat digunakan dalam arti orang yang melakukan sesuatu (fa’il) dan dapat pula digunakan sebagai yang dikenakan  sesuatu (maf’ul).

Dr. Simuh memahami bahwa waliyullah adalah orang-orang yang dapat mencapai penghayatan ma’rifat dan setiap saat dapat berdialog langsung dan menjadi kekasih Tuhan. 

Sedangkan al-Maraghi mengungkapkan bahwa para waliyullah itu adalah orang-orang yang mengadakan hubungan cinta (mahabbah) kepada Allah dengan melaksanakan ibadah kepada-Nya semata-mata secara ikhlas dan bertawakkal kepada-Nya dengan tidak mengambil sesembahan yang lain yang mereka cintai selain Allah

Oleh karenanya bisa disebutkan bahwa seorang mu’min mempunyai wali, yaitu Allah. Dan dapat dikatakan bahwa Allah adalah Al-Wali orang-orang mukmin. 

Abu Qasim Abdul Karim al-Qusyairi mengartikan wali dengan pengertian aktif dan pasif. 

Pengertian aktif  yaitu orang yang melakukan kepatuhan kepada Tuhan secara terus menerus. 

Sedangkan pengertian pasif adalah orang yang penjagaannya  diurus oleh Allah dan urusannya senantiasa dilindungi oleh-Nya. 

Teori per-wali-an dalam kalangan sufi baru muncul pada akhir abad IX M/III H. ketika Sahl al-Tusturi, al-Kharraj, dan Hakim al Tirmidzi menulis tentang itu. 

Wali dalam kalangan sufi dinamai dengan orang kudus, orang yang ada di bawah  perlindungan khusus. Dalam literatur orientalis biasa disebut Saint. Dalam hal ini Waliyullah diartikan sebagai orang yang dekat dengan Allah. 

Dekat dengan Allah maksudnya orang itu dengan kesungguhan percaya dan mengimani Allah dan Rasul-Nya serta beriman kepada semua yang diajarkannya. 

Ia dengan sungguh-sungguh menjalankan segala perintah dan menjauhkan diri dari semua larangan Allah dan Rasul-Nya dengan taat dan patuh. 

Di dalam surat al-Baqarah ayat 257 ditegaskan bahwa Wali dari orang yang beriman ialah Allah. 

Sedangkan di dalam surat Yunus ayat 62-63 dinyatakan bahwa orang yang beriman dan bertakwa itu menjadi wali Allah (waliyullah). 

Dengan demikian Allah menjadi wali dari para kekasih-Nya, di sini maksudnya Allah sebagai pelindung dan pembela. 

Dan para kekasih-Nya menjadi Waliyullah; dalam hal ini berarti orang-orang yang telah mendapat jaminan lindungan dari Tuhan. 

Para waliyullah merupakan hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya, hal ini karena mereka adalah orang-orang yang suka berbuat baik, berlaku adil, bersabar,  bertawakkal, serta bertaubat dan mencintai kesucian.

Oleh karenanya waliyullah adalah kekasih Allah yang menolong agama-Nya; untuk itu Allah melindungi para kekasihNya. 

Mengenai siapa sebenarnya waliyullah itu, dalam Al-Qur’an disebutkan.
" Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan atas mereka dan tiada pula mereka berduka cita. Yaitu orang-oarang yang beriman dan bertakwa. Untuk mereka kabar gembira waktu hidup di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan kalimat-kalimat Allah. Demikian itulah kemenangan yang besar.” (QS. 10:62-64)
Oleh karena itu menurut terminologi Al-Qur’an bahwa para waliyullah itu adalah mereka yang tidak dihinggapi oleh perasaan khawatir ataupun sedih, mereka beriman dan bertakwa serta bagi merekalah sebenarnya berita gembira di dalam kehidupan dunia akhirat. 

Di dalam surat Yunus ayat 62 ada lafadz “awliya Allah”, lafadz tersebut diartikan sebagai lawan kata dari musuh-musuh Allah SWT, seperti orang kafir dan musyrik.

Waliyullah sebagaimana ditujukan pada ayat sesudahnya (QS. Yunus:63) berarti orang-orang mukmin dan muttaqin, yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa; barang siapa yang beriman dan bertakwa itulah waliyullah, ia tidak takut terhadap apa-apa yang akan terjadi, hilang perasaan sedih atas kenyataan yang ia alami, serta tercapailah ketentraman dan ketenangan  di dalam kehidupannya. 

Demikian pula ia dapatkan kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat, sehingga Allah ridha kepadanya. 

Al-Jundi menukil pendapat Imam al-Thabari, bahwa Waliyullah itu adalah para penolong Allah yang sejati dengan keimanan dan ketakwaannya. 

Sedangkan para ahli Ilmu Kalam memandang bahwa Waliyullah itu adalah orang yang melaksanakan akidah yang benar (shahih) didasarkan atas dalil yang jelas dengan amal perbuatan yang selaras menurut syari’ah.

Dengan memperhatikan pernyataan-pernyataan di atas, dapat disebutkan, waliyullah adalah hamba Allah yang benar-benar beriman dan bertakwa sehingga sangat akrab hubungan timbal baliknya dengan Allah SWT.  

Selain mendekatkan diri kepada-Nya sehingga ia pun terlimpah anugrah-anugrah-Nya, secara lahir dan batin. Keadaan ini merupakan sebagai bukti cinta dan ma’rifatnya kepada Allah SWT.

Adapun mengenai eksistensi waliyullah, kedudukannya bermacam-macam. 

Dalam dunia sufi dikenal hirarki kekuasaan kerohanian. 

Macam-macam hirarki itu ditempati oleh para waliyullah sesuai dengan tingkat kesempurnaan ke-wali-an yang dicapainya.

Ada beberapa macam kedudukan waliyullah, dari yang lebih tinggi kesempurnaan ke-wali-annya sampai kepada para wazir dan asisten-asistennya, yaitu:

1. Al-Aqthab atau Wali Quthub, yaitu seorang penghulu yang tertinggi, hanya ada seorang  pada setiap masa. Jika ia meninggal dunia, digantikan oleh Wali Quthub lain. 

Pada masanya dialah yang memimpin dan menguasai semua wali di seluruh dunia. 

2. Al-Aimmah, secara bahasa artinya imam-imam (pemimpin). 

Dalam setiap masa terdapat dua orang, seorang disebut Abdul Rabbi, dan yang lainnya di namakan Abdul Malik

Ada juga yang menyebutnya dengan penamaan ImamAlamul Malak dan Imam ‘Alamul Malakut.

Pembantu Wali Quthub ini, seorang diantara mereka terbatas hanya pada menyaksikan alam malaikat, dan yang satunya lagi terbatas wewenangnya menyaksikan alam malakut (abstrak).

Mereka dapat menggantikan kedudukan Wali Quthub jika ia meninggal dunia. Jabatan mereka laksana wazir atau pembantu Wali Quthub

Apabila salah satu dari imam ini atau keduanya meninggal dunia, atau secara kebetulan menggantikan kedudukan sebagai Wali Quthub, maka secara otomatis diganti oleh para wali di bawahnya yang disebut al-Autad

3. Al-Autad, berarti tiang atau pasak. Jumlah wali ini pada setiap masa empat orang. Gelar mereka Abdul Hayyi, Abdul Alim, Abdul Qadir, dan Abdul Murid. Masing-masing menguasai wilayah Barat, timur, utara, dan selatan.

Apabila Wali Autad meninggal dunia maka digantikan oleh para wali yang ada di bawahnya, yaitu al-Abdal.

4. Al-Abdal, dinamakan “Abdal” (pengganti) karena jika mereka meninggalkan suatu tempat, maka menunjuk sesorang di situ sebagai pengganti tanpa diketahui orang lain. 

Jumlah Wali ini tujuh orang, mereka ditugasi menguasai iklim yang tujuh, dan setiap mereka menguasai wilayah tertentu.

Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Allah untuk menjaga suatu wilayah di bumi, sedangkan wilayah bumi ini dibagi dalam tujuh kewilayahan 

5. Al-Nuqaba, secara bahasa berarti kepala suatu kaum/wilayah/ negeri. 

Jumlahnya dua belas orang dalam satu masa, jumlah ini sesuai dengan bintang beredar di langit. 

Setiap Naqib mengetahui bintang yang khusus untuknya. Allah mengaruniai mereka ilmu pengetahuan tentang hukum syari’at, sehingga mereka mengetahui dan sadar akan tipu daya nafsu dan peranan iblis. 

Demikian pula mereka diberi kelebihan oleh Allah dapat mengerti rahasia yang tersembunyi dalam hati seseorang dan bisa mengetahui watak kehidupan seseorang lewat jejak kakinya. 

6. Al-Nujaba’, berarti yang mulia.

Al- Najib bisa berarti yang cerdas atau budiman.

Jumlah mereka dalam satu masa delapan orang. 

Wali ini selalu disukai oleh orang, dimana-mana mendapat sambutan baik. 

Seorang wali pada tingkat kerohanian ini tidak merasa bahwa dirinya adalah seorang waliyullah, yang dapat mengetahuinya hanya walliyullah yang lebih tinggi derajat dan martabatnya dari mereka. 

7. Al-Hawariyyun, artinya pembela atau penolong. 

Waliyullah ini hanya seorang saja dalam setiap masa. Jika ia meninggal dunia, maka digantikan oleh orang lain. 

Adapun yang dinamakan hawari ialah orang yang membela agama dengan senjata dan hujjah (dalil) yang kuat. 

Allah mengaruniainya dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, keberanian dan ketekunan beribadat.

Di zaman Nabi SAW, yang menduduki martabat hawari ini adalah Zubair bin Awam, beliaulah yang terpilih.

8. Al-Rajabiyyun, waliyullah yang menempati ini berjumlah empat puluh orang dalam setiap masa. 

Dinamakan dengan al-Rajabiyyun, karena kekeramatan mereka muncul atau tampak hanya dalam bulan Rajab saja. 

Tidak banyak orang yang mengenal mereka, namun antara mereka saling mengenal. 

Wali Rajabiyyun, pada hari pertama bulan Rajab merasa badannya berat bagaikan dihimpit langit, tubuhnya kaku, bahkan pelupuk matanya tidak berkedip sampai sore. 

Keesokan harinya perasaan demikian agak berkurang, dan pada hari ke tiga tersingkaplah rahasia kebesaran Allah kepada mereka. 

Sesudah dua atau tiga hari barulah mereka bercakap - cakap. Apabila bulan Rajab berakhir, seolah-olah mereka bagaikan terlepas dari ikatan yang kuat, lalu bangkit. 

Jika mereka pedagang, pengrajin, atau petani, maka kembalilah masing-masing ke pekerjaannya sehari-hari. 

9. Al-Khatam, atau penutup, hanya seorang jumlahnya dengan memiliki kekuasaan yang cukup luas. 

Ia mengurus dan menguasai wilayah kekuasaan umat Nabi Muhammad SAW, tidak ada seorang pun menyamainya. 

Beliau adalah waliyullah terakhir atau wali penutup

Pada hari kiamat nanti, beliau mempunyai data tempat berhimpun satu bersama umat Nabi Muhammad SAW, dan yang satu lagi berhimpun dengan para Rasul.

Ibnu Taimiyah menolak kebenaran tentang nama-nama/macam-macam waliyullah tersebut, kecuali nama wali Abdal, demikian pula menganggapnya tidak benar tentang jumlah para waliyullah itu.

Penguasa rohani dalam per-wali-an di atas berfungsi sebagai pemandu rohani kehidupan manusia. 

Kaum Syi’ah sering menghubungkan Qutub/gauts dengan kedudukan imam-imam yang tersembunyi. 

Sedangkan dalam kalangan Sunni ada yang menghubungkannya dengan Imam Mahdi.

Pada dasarnya waliyullah ini terbagi dua, yaitu waliyullah alammah dan waliyullah al-khassah

Waliyullah al-ammah yaitu derajat kewali-an yang dimiliki oleh orang-orang mukmin dan muttaqin pada umumnya, yakni kekasih Allah yang memenuhi syarat iman dan takwa. 

Sedangkan waliyullah al-khassah yaitu orang-orang tertentu yang sudah memenuhi syarat iman dan takwa dan juga telah mencapai insan kamil yang benar-benar terjaga dari maksiat sehingga Allah mengkhususkan mereka.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Sumber Akhlak, Moral dan Etika dan Manfaat Mempelajarinya

Sumber Akhlak, Moral dan Etika dan Manfaat Mempelajarinya Akhlak yang mulia merupakan unsur yang sangat utama di dalam risalah Islamiyah.  Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kata akhlak, moral dan etika yang ketiganya merupakan tingkah laku manusia, hampir sama, namun jika dilihat dari sumbernya, ketiga kata tersebut akan berbeda.  Akhlak bersumber dari agama wahyu. Moral bersumber dari adat istiadat masyarakat. Sementara etika bersumber dari filsafat moral dan akal pikiran.  Dalam kajian ini mengarah pada konseptual akhlak Islami dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadits Nabawi dikomparasikan dengan materi-materi yang sudah berkembang.  Sikap dan prilaku akhlak Islami yang sempurna itu harus berpegang pada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Orang yang paling mengerti tentang pengamalan Al-Qur’an adalah Nabi sendiri. Rasulullah SAW adalah prototipe manusia yang berakhlak sempurna. Allah SWT menyebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Qalam ayat ke 4,  "...

Memahami Konsep Muroqobah dan Tingkatannya

Muroqobah Muroqobah. Muroqobah dalam makna harfiah berarti awas mengawasi atau saling mengawasi (dalam Ilmu Shorof dalam kategori bina musyarokah).  Secara bahasa muroqobah mengandung makna  senantiasa mengamat - amati tujuan atau menantikan sesuatu dengan penuh perhatian (mawas diri).  Sedangkan menurut terminologi berarti melestarikan pengamatan kepada Allah SWT dengan hatinya dalam arti terus menerus kesadaran seorang hamba atas pengawasan Allah SWT terhadap semua keadaannya.  Sehingga manusia mengamati pekerjaan dan hukum - hukum-Nya dengan penuh perasaan kepada Allah SWT. Dalam pandangan Imam al-Qusyairy, muroqobah ialah: “ keadaan/kesadaran seseorang meyakini sepenuh hati bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi kita. Tuhan mengetahui seluruh gerak-gerik kita dan bahkan segala yang terlintas dalam hati diketahui Allah .” Artinya, muroqobah ialah keadaan hamba tahu dan sadar dengan sepenuh hati bahwa Tuhan selalu melihatnya. Muroqobah merupakan ilmu untuk meliha...

Memahami Konsep Muqorobah Dalam Ilmu Tasawuf

Muqorobah Muqorobah . Secara bahasa muqorobah berarti saling berdekatan (bina musyarakah) dari kata-kata qooraba-yuqooribu-muqoorobah.  Dalam pengertian ini, maksudnya adalah usaha-usaha seorang hamba untuk selalu berdekatan dengan Allah SWT, yakni saling berdekatan antara hamba dan Tuhannya.  Upaya-upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah ini harus diiringi dengan nilai-nilai keikhlasan dan kesungguhan untuk mencapai ridha-Nya. Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa AS dengan firman-Nya :  " Wahai Musa, jika Anda menginginkan Aku lebih dekat kepadamu dari pembicaraan dengan lidahmu, dan dari bisikan hati menuju hatimu, ruh dengan badanmu, sinar penglihatan dengan matamu, dan pendengaran dengan telingamu maka perbanyaklah membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW.” Orang-orang yang sholih selalu berusaha untuk ber-taqarrub dengan Allah SWT.  Untuk itu cara yang terbaik dalam mencapai martabat kedekatan kepada Allah ialah dengan tafakkur (meditasi).  Amalan ini su...

Membahas Teori Pemikiran Wahdatul Wujud

Membahas Teori Pemikiran Wahdatul Wujud Secara historis, teori wahdatul wujud pada mulanya adalah teori yang disusun Ibnu Arabi . Ia lebih bernuansa sufistik ketimbang filsafat.  Banyak penafsiran telah diberikan tentang teori ini, dari yang sangat ekstrem sampai moderat.  Mungkin yang paling ekstrem adalah Ibnu Sab’in yang menyatakan bahwa hanya Tuhan yang eksis sementara selain Tuhan tak ada yang eksis.  Ada lagi yang ekstrem yang menyatakan bahwa seluruh yang berwujud selain Tuhan hanyalah tajalliyat (manifestasi) dari asma’ dan sifat-sifat tuhan.  Namun Mulla Sadra melihat bahwa Yang Ada Sebagai Yang Ada meskipun Satu, namun ia memiliki intensitas yang membentang dari yang nama Yang Ada.  Sifat Yang Ada-nya Tuhan Mutlak, sementara yang ada lain hanya bersifat Yang Ada Dalam Kemungkinan.  Ia persis seperti matahari dan sinarnya. Matahari tentu berbeda dengan sinarnya. Namun dalam masa yang sama, sinar matahari tiada lain adalah matahari itu sendiri. Y...

Hikmah Perjalanan Tahap Pertama Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as.

Hikmah Perjalanan Tahap Pertama  Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as. Perjalanan tahap pertama ini, yaitu tahap pencarian seorang murid untuk menemukan guru pembimbing ( mursyid ) dalam rangka meningkatkan kualitas ilmu yang sudah dimiliki.  Perjalanan dua karakter tersebut (karakter Musa dan karakter Khidhir ) hendaklah dijadikan sebagai i‘tibar dan muqoddimah dari sebuah perjalanan spiritual yang akan dilakukan.  Perjalanan tersebut sebagai dasar yang harus diketahui, dijadikan kajian dan landasan oleh seorang salik untuk menjadi bekal bagi usaha dan tahapan pencarian yang berikutnya.  Ilmu yang sudah dimiliki adalah ilmu teori, sedangkan ilmu yang dicari adalah penerapan ilmu itu dalam menghadapi kejadian yang aktual secara aplikatif, baik untuk urusan vertikal maupun horizontal.   Tahap pertama ini, seorang murid harus mampu melaksanakan beberapa hal:  1) Niat yang kuat dan bekal secukupnya.  Seorang salik harus meninggalkan dunia yang ada di...

Memahami Konsep Fana dan Baqa Dalam Ilmu Tasawuf

Fana dan Baqa Fana dan Baqa . Dalam kajian tasawuf antara fana dan baqa tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan baqa merupakan sisi lain yang terikat dari fana. Bahkan dalam Sayyid Mahmud Abul Faidh al-Manufi al Husaini menggabungkan tema kajian fana dan baqa (pada satu judul) dalam karyanya Jamharotul Awliya.  Fana diambil dari kata faniya (fana)-yafna-fana ’, secara bahasa berarti menjadi lenyap, hilang, dan tak kekal. Dalam sumber lain berasal dari kata fana-yafni- fana ’ yang mengandung makna hilang hancur. Sedangkan baqa berasal dari kata baqiya-yabqa- baqa ’ yang berarti dawam atau terus menerus, tidak lenyap dan tidak hancur. Fana dalam istilah Ilmu Tasawuf  adalah suatu tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi menjelang ke tingkat ittihad , yakni hilangnya kesadaran tentang dirinya dari seluruh makhluk dan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta yang ada hanya Allah SWT.  Dengan perkataan lain suatu keadaan mental hubungan manusia dan alam...

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia Berbicara tentang sejarah akhlak berarti membicarakan semenjak adanya manusia, yaitu sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS. Sejarah  ilmu akhlak yaitu sejarah yang mempelajari batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan tercela, tentang perkataan dan perbuatan manusia lahir dan batin sejak zaman Nabi Adam AS hingga sekarang.  Sejarah ilmu akhlak ialah sejarah yang menggali tentang tingkah laku baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuannya dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka dari masa ke masa. Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa perkembangan pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku seseorang melalui berbagai macam metode yang disusun secara sistematis dari zaman ke zaman.  Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa yang benar-benar terjadi dari perkembangan ilmu pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku  seseorang me...

Rahmat Sebelum Ilmu ( Sebab Pertama)

Rahmat Sebelum Ilmu ( Sebab Pertama) Ilmu Laduni akan diberikan Allah SWT. hanya kepada seorang hamba yang dikehendaki dan dicintai-Nya. Yaitu seorang hamba pilihan, yang sejak zaman azali telah terpilih untuk menjadi orang pilihan-Nya, itu sebagaimana gambaran yang dipersaksikan oleh sebuah ayat dari firman-Nya:  "Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan (yang terdahulu) yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka".  QS. al-Anbiya : 101.   Oleh karena orang tersebut sejak zaman azali sudah ditetapkan menjadi orang baik, maka sejak dilahirkan di dunia sampai dengan matinya mereka akan dijauhkan dari api neraka.  Mereka dijauhkan dari sebab-sebab yang dapat menyebabkan masuk neraka, baik ilmu , amal maupun karakter .  Oleh karena aspek ilmu pengetahuan adalah bagian terpenting "yang akan menjadikan manusia menjadi baik atau jelek " maka aspek ilmu inilah yang paling mendapatkan penjagaan dan pemeliharaan dari Allah Ta‘ala....

Memahami Konsep Al-Hulul Al-Hallaj

Memahami Konsep Al-Hulul Al-Hallaj Al-Hulul . Hulul berasal dari kata halla -yahillu-hulul, mengandung makna menempati, tinggal di, atau bertempat di. Sedangkan dalam makna istilah hulul adalah paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh - tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat (bersemayam) di dalamnya dengan sifat-sifat ketuhanannya setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan. Paham tentang Allah dapat mengambil tempat pada diri manusia, bertolak dari dasar pemikiran al-Hallaj yang mengatakan bahwa pada diri manusia terdapat dua sifat dasar, yaitu Lahut (ketuhanan) dan Nasut (kemanusiaan).  Al-Hallaj bernama asli Abu al-Mughis al-Husain ibnu Mansur ibnu Muhammad al Baidhawi.  Beliau lahir pada tahun 244 H, atau 858 M, di al-Tur di dekat sebuah desa bernama al-Baida (Persia).  Dia diberi gelar al-Hallaj karena pekerjaannya memang sebagai penenun.  Tuhan pun, menurut al-Hallaj , mempunyai sifat kemanusiaan di samping sifat k...

Hakikat Ilmu Laduni

Hakikat Ilmu Laduni Yang dimaksud Ilmu Laduni adalah "‘ Ilmu Laddunniyyah Robbaniyyah . Ilmu pemberian atau warisan langsung dari pewarisnya yang terlebih dahulu telah mendapatkan warisan dari para pendahulunya, yaitu para Nabi, ash-Shiddiq, asy Syuhada‘ ash-Sholihin Ilmu tersebut diwariskan hanya semata-mata atas kehendak atau urusan ketuhanan. Ilmu Laduni itu terbit dari sumbernya, yaitu hati sanubari orang-orang beriman yang telah lama mengadakan pencarian dengan bersungguh-sungguh.  Berupa Ilham spontan yang memancar dari dalam hati kemudian terpancarkan lagi keluar dalam bentuk perilaku, baik ucapan maupun perbuatan melalui akal dan fikiran. Ilham spontan itu hanya akan terbesit dari hati seorang hamba yang sedang rindu dan menunggu titah Allah, berupa pemahaman konkrit dan logis juga alasan-alasan kuat yang reasonable serta dapat diterima akal sehat.  Bahkan Ilmu Laduni itu terkadang berupa penemuan-penemuan ilmiah yang dinamis dan aplikatif. Allah mengabarkan keberad...