Waliyullah, Eksistensi dan Kedudukannya

Waliyullah, Eksistensi dan Kedudukannya
Waliyullah / Wali Allah
Waliyullah merupakan gabungan dari lafadz “wali” dan “Allah”. Kata “wali” adalah bentuk mufrad (singular), sedangkan bentuk jamak-nya (plural) adalah “awliya”. 

Wali Allah artinya kekasih Allah. Jadi bentuk jamak-nya awliya Allah (para kekasih Allah). 

Dikatakan kekasih Allah karena ia sangat dekat dengan Allah, sehingga Allah menjadi pemelihara dan penolong bagi kekasih-Nya. 

Kata “wali” itu lawan kata dari “’Aduww” (musuh) seperti dikatakan : “setiap orang yang mewalikan kepada seseorang adalah dia walinya”. 

Al-Wali termasuk nama nama Allah yang berarti penolong. Oleh karena itu wali berarti kekasih, pelindung, penolong, dan kawan; yang dimaksud di sini adalah kekasih atau kesayangan Allah SWT. 

Kata “wali” dapat digunakan dalam arti orang yang melakukan sesuatu (fa’il) dan dapat pula digunakan sebagai yang dikenakan  sesuatu (maf’ul).

Dr. Simuh memahami bahwa waliyullah adalah orang-orang yang dapat mencapai penghayatan ma’rifat dan setiap saat dapat berdialog langsung dan menjadi kekasih Tuhan. 

Sedangkan al-Maraghi mengungkapkan bahwa para waliyullah itu adalah orang-orang yang mengadakan hubungan cinta (mahabbah) kepada Allah dengan melaksanakan ibadah kepada-Nya semata-mata secara ikhlas dan bertawakkal kepada-Nya dengan tidak mengambil sesembahan yang lain yang mereka cintai selain Allah

Oleh karenanya bisa disebutkan bahwa seorang mu’min mempunyai wali, yaitu Allah. Dan dapat dikatakan bahwa Allah adalah Al-Wali orang-orang mukmin. 

Abu Qasim Abdul Karim al-Qusyairi mengartikan wali dengan pengertian aktif dan pasif. 

Pengertian aktif  yaitu orang yang melakukan kepatuhan kepada Tuhan secara terus menerus. 

Sedangkan pengertian pasif adalah orang yang penjagaannya  diurus oleh Allah dan urusannya senantiasa dilindungi oleh-Nya. 

Teori per-wali-an dalam kalangan sufi baru muncul pada akhir abad IX M/III H. ketika Sahl al-Tusturi, al-Kharraj, dan Hakim al Tirmidzi menulis tentang itu. 

Wali dalam kalangan sufi dinamai dengan orang kudus, orang yang ada di bawah  perlindungan khusus. Dalam literatur orientalis biasa disebut Saint. Dalam hal ini Waliyullah diartikan sebagai orang yang dekat dengan Allah. 

Dekat dengan Allah maksudnya orang itu dengan kesungguhan percaya dan mengimani Allah dan Rasul-Nya serta beriman kepada semua yang diajarkannya. 

Ia dengan sungguh-sungguh menjalankan segala perintah dan menjauhkan diri dari semua larangan Allah dan Rasul-Nya dengan taat dan patuh. 

Di dalam surat al-Baqarah ayat 257 ditegaskan bahwa Wali dari orang yang beriman ialah Allah. 

Sedangkan di dalam surat Yunus ayat 62-63 dinyatakan bahwa orang yang beriman dan bertakwa itu menjadi wali Allah (waliyullah). 

Dengan demikian Allah menjadi wali dari para kekasih-Nya, di sini maksudnya Allah sebagai pelindung dan pembela. 

Dan para kekasih-Nya menjadi Waliyullah; dalam hal ini berarti orang-orang yang telah mendapat jaminan lindungan dari Tuhan. 

Para waliyullah merupakan hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya, hal ini karena mereka adalah orang-orang yang suka berbuat baik, berlaku adil, bersabar,  bertawakkal, serta bertaubat dan mencintai kesucian.

Oleh karenanya waliyullah adalah kekasih Allah yang menolong agama-Nya; untuk itu Allah melindungi para kekasihNya. 

Mengenai siapa sebenarnya waliyullah itu, dalam Al-Qur’an disebutkan.
" Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan atas mereka dan tiada pula mereka berduka cita. Yaitu orang-oarang yang beriman dan bertakwa. Untuk mereka kabar gembira waktu hidup di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan kalimat-kalimat Allah. Demikian itulah kemenangan yang besar.” (QS. 10:62-64)
Oleh karena itu menurut terminologi Al-Qur’an bahwa para waliyullah itu adalah mereka yang tidak dihinggapi oleh perasaan khawatir ataupun sedih, mereka beriman dan bertakwa serta bagi merekalah sebenarnya berita gembira di dalam kehidupan dunia akhirat. 

Di dalam surat Yunus ayat 62 ada lafadz “awliya Allah”, lafadz tersebut diartikan sebagai lawan kata dari musuh-musuh Allah SWT, seperti orang kafir dan musyrik.

Waliyullah sebagaimana ditujukan pada ayat sesudahnya (QS. Yunus:63) berarti orang-orang mukmin dan muttaqin, yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa; barang siapa yang beriman dan bertakwa itulah waliyullah, ia tidak takut terhadap apa-apa yang akan terjadi, hilang perasaan sedih atas kenyataan yang ia alami, serta tercapailah ketentraman dan ketenangan  di dalam kehidupannya. 

Demikian pula ia dapatkan kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat, sehingga Allah ridha kepadanya. 

Al-Jundi menukil pendapat Imam al-Thabari, bahwa Waliyullah itu adalah para penolong Allah yang sejati dengan keimanan dan ketakwaannya. 

Sedangkan para ahli Ilmu Kalam memandang bahwa Waliyullah itu adalah orang yang melaksanakan akidah yang benar (shahih) didasarkan atas dalil yang jelas dengan amal perbuatan yang selaras menurut syari’ah.

Dengan memperhatikan pernyataan-pernyataan di atas, dapat disebutkan, waliyullah adalah hamba Allah yang benar-benar beriman dan bertakwa sehingga sangat akrab hubungan timbal baliknya dengan Allah SWT.  

Selain mendekatkan diri kepada-Nya sehingga ia pun terlimpah anugrah-anugrah-Nya, secara lahir dan batin. Keadaan ini merupakan sebagai bukti cinta dan ma’rifatnya kepada Allah SWT.

Adapun mengenai eksistensi waliyullah, kedudukannya bermacam-macam. 

Dalam dunia sufi dikenal hirarki kekuasaan kerohanian. 

Macam-macam hirarki itu ditempati oleh para waliyullah sesuai dengan tingkat kesempurnaan ke-wali-an yang dicapainya.

Ada beberapa macam kedudukan waliyullah, dari yang lebih tinggi kesempurnaan ke-wali-annya sampai kepada para wazir dan asisten-asistennya, yaitu:

1. Al-Aqthab atau Wali Quthub, yaitu seorang penghulu yang tertinggi, hanya ada seorang  pada setiap masa. Jika ia meninggal dunia, digantikan oleh Wali Quthub lain. 

Pada masanya dialah yang memimpin dan menguasai semua wali di seluruh dunia. 

2. Al-Aimmah, secara bahasa artinya imam-imam (pemimpin). 

Dalam setiap masa terdapat dua orang, seorang disebut Abdul Rabbi, dan yang lainnya di namakan Abdul Malik

Ada juga yang menyebutnya dengan penamaan ImamAlamul Malak dan Imam ‘Alamul Malakut.

Pembantu Wali Quthub ini, seorang diantara mereka terbatas hanya pada menyaksikan alam malaikat, dan yang satunya lagi terbatas wewenangnya menyaksikan alam malakut (abstrak).

Mereka dapat menggantikan kedudukan Wali Quthub jika ia meninggal dunia. Jabatan mereka laksana wazir atau pembantu Wali Quthub

Apabila salah satu dari imam ini atau keduanya meninggal dunia, atau secara kebetulan menggantikan kedudukan sebagai Wali Quthub, maka secara otomatis diganti oleh para wali di bawahnya yang disebut al-Autad

3. Al-Autad, berarti tiang atau pasak. Jumlah wali ini pada setiap masa empat orang. Gelar mereka Abdul Hayyi, Abdul Alim, Abdul Qadir, dan Abdul Murid. Masing-masing menguasai wilayah Barat, timur, utara, dan selatan.

Apabila Wali Autad meninggal dunia maka digantikan oleh para wali yang ada di bawahnya, yaitu al-Abdal.

4. Al-Abdal, dinamakan “Abdal” (pengganti) karena jika mereka meninggalkan suatu tempat, maka menunjuk sesorang di situ sebagai pengganti tanpa diketahui orang lain. 

Jumlah Wali ini tujuh orang, mereka ditugasi menguasai iklim yang tujuh, dan setiap mereka menguasai wilayah tertentu.

Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Allah untuk menjaga suatu wilayah di bumi, sedangkan wilayah bumi ini dibagi dalam tujuh kewilayahan 

5. Al-Nuqaba, secara bahasa berarti kepala suatu kaum/wilayah/ negeri. 

Jumlahnya dua belas orang dalam satu masa, jumlah ini sesuai dengan bintang beredar di langit. 

Setiap Naqib mengetahui bintang yang khusus untuknya. Allah mengaruniai mereka ilmu pengetahuan tentang hukum syari’at, sehingga mereka mengetahui dan sadar akan tipu daya nafsu dan peranan iblis. 

Demikian pula mereka diberi kelebihan oleh Allah dapat mengerti rahasia yang tersembunyi dalam hati seseorang dan bisa mengetahui watak kehidupan seseorang lewat jejak kakinya. 

6. Al-Nujaba’, berarti yang mulia.

Al- Najib bisa berarti yang cerdas atau budiman.

Jumlah mereka dalam satu masa delapan orang. 

Wali ini selalu disukai oleh orang, dimana-mana mendapat sambutan baik. 

Seorang wali pada tingkat kerohanian ini tidak merasa bahwa dirinya adalah seorang waliyullah, yang dapat mengetahuinya hanya walliyullah yang lebih tinggi derajat dan martabatnya dari mereka. 

7. Al-Hawariyyun, artinya pembela atau penolong. 

Waliyullah ini hanya seorang saja dalam setiap masa. Jika ia meninggal dunia, maka digantikan oleh orang lain. 

Adapun yang dinamakan hawari ialah orang yang membela agama dengan senjata dan hujjah (dalil) yang kuat. 

Allah mengaruniainya dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, keberanian dan ketekunan beribadat.

Di zaman Nabi SAW, yang menduduki martabat hawari ini adalah Zubair bin Awam, beliaulah yang terpilih.

8. Al-Rajabiyyun, waliyullah yang menempati ini berjumlah empat puluh orang dalam setiap masa. 

Dinamakan dengan al-Rajabiyyun, karena kekeramatan mereka muncul atau tampak hanya dalam bulan Rajab saja. 

Tidak banyak orang yang mengenal mereka, namun antara mereka saling mengenal. 

Wali Rajabiyyun, pada hari pertama bulan Rajab merasa badannya berat bagaikan dihimpit langit, tubuhnya kaku, bahkan pelupuk matanya tidak berkedip sampai sore. 

Keesokan harinya perasaan demikian agak berkurang, dan pada hari ke tiga tersingkaplah rahasia kebesaran Allah kepada mereka. 

Sesudah dua atau tiga hari barulah mereka bercakap - cakap. Apabila bulan Rajab berakhir, seolah-olah mereka bagaikan terlepas dari ikatan yang kuat, lalu bangkit. 

Jika mereka pedagang, pengrajin, atau petani, maka kembalilah masing-masing ke pekerjaannya sehari-hari. 

9. Al-Khatam, atau penutup, hanya seorang jumlahnya dengan memiliki kekuasaan yang cukup luas. 

Ia mengurus dan menguasai wilayah kekuasaan umat Nabi Muhammad SAW, tidak ada seorang pun menyamainya. 

Beliau adalah waliyullah terakhir atau wali penutup

Pada hari kiamat nanti, beliau mempunyai data tempat berhimpun satu bersama umat Nabi Muhammad SAW, dan yang satu lagi berhimpun dengan para Rasul.

Ibnu Taimiyah menolak kebenaran tentang nama-nama/macam-macam waliyullah tersebut, kecuali nama wali Abdal, demikian pula menganggapnya tidak benar tentang jumlah para waliyullah itu.

Penguasa rohani dalam per-wali-an di atas berfungsi sebagai pemandu rohani kehidupan manusia. 

Kaum Syi’ah sering menghubungkan Qutub/gauts dengan kedudukan imam-imam yang tersembunyi. 

Sedangkan dalam kalangan Sunni ada yang menghubungkannya dengan Imam Mahdi.

Pada dasarnya waliyullah ini terbagi dua, yaitu waliyullah alammah dan waliyullah al-khassah

Waliyullah al-ammah yaitu derajat kewali-an yang dimiliki oleh orang-orang mukmin dan muttaqin pada umumnya, yakni kekasih Allah yang memenuhi syarat iman dan takwa. 

Sedangkan waliyullah al-khassah yaitu orang-orang tertentu yang sudah memenuhi syarat iman dan takwa dan juga telah mencapai insan kamil yang benar-benar terjaga dari maksiat sehingga Allah mengkhususkan mereka.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Tentang Insan Kamil

Insan Kamil Insan Kamil . Insan Kamil berasal dari gabungan dua kata bahasa Arab, insan dan kamil . Insan berarti manusia, kamil berarti sempurna. Jadi secara bahasa insan kamil mengandung makna manusia sempurna ( Perfect Man ), yakni manusia yang dekat (qarib dengan Allah) dan terbina potensi ruhaniahnya sehingga dapat berfungsi secara optimal.  Inilah manusia seutuhnya yang mempunyai ketinggian derajat di hadapan Tuhannya, sehingga mencapai tingkat kesempurnaan tauhid dan akhlak mulia.  Manusia sempurna ( insan kamil ) menurut Abdul Karim al-Jilli (wafat 1428 M.) sebagaimana dikutip oleh A. Mustofa, adalah manusia cerminan Tuhan atau manusia kopi Tuhan.  Dengan kata lain manusia yang sudah mengenal eksistensi dirinya sendiri dan memiliki sifat-sifat yang mulia. Secara umum dalam ajaran tasawuf yang dimaksud insan kamil adalah manusia yang telah memiliki dalam dirinya Nur Muhammad yang disebut dengan Al-Haqiqatul Muhammadiyyah .  Dalam pandangan Ibnu ’Arabi ...

Hikmah Perjalanan Tahap Pertama Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as.

Hikmah Perjalanan Tahap Pertama  Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as. Perjalanan tahap pertama ini, yaitu tahap pencarian seorang murid untuk menemukan guru pembimbing ( mursyid ) dalam rangka meningkatkan kualitas ilmu yang sudah dimiliki.  Perjalanan dua karakter tersebut (karakter Musa dan karakter Khidhir ) hendaklah dijadikan sebagai i‘tibar dan muqoddimah dari sebuah perjalanan spiritual yang akan dilakukan.  Perjalanan tersebut sebagai dasar yang harus diketahui, dijadikan kajian dan landasan oleh seorang salik untuk menjadi bekal bagi usaha dan tahapan pencarian yang berikutnya.  Ilmu yang sudah dimiliki adalah ilmu teori, sedangkan ilmu yang dicari adalah penerapan ilmu itu dalam menghadapi kejadian yang aktual secara aplikatif, baik untuk urusan vertikal maupun horizontal.   Tahap pertama ini, seorang murid harus mampu melaksanakan beberapa hal:  1) Niat yang kuat dan bekal secukupnya.  Seorang salik harus meninggalkan dunia yang ada di...

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli Untuk menyingkap tabir yang membatasi diri dengan Tuhan, ada sistem yang dapat digunakan untuk riyadhah al-nafsiyah.  Karakteristik ini tersusun dalam  tiga tingkat yang dinamakan takhalli , tahalli , dan tajalli .  Takhalli ialah membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela, kotor hati, maksiat lahir dan maksiat batin.  Pembersihan ini dalam rangka, melepaskan diri dari perangai yang tidak baik, yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama.  Sifat-sifat tercela ini merupakan pengganggu dan penghalang utama manusia dalam berhubungan dengan Allah. Tahalli merupakan pengisian diri dengan sifat-sifat terpuji, menyinari hati dengan taat lahir dan batin.  Hati yang demikian ini dapat menerima pancaran Nurullah dengan mudah.  Oleh karenanya segala perbuatan dan tindakannya selalu berdasarkan dengan niat yang ikhlas (suci dari riya). Dan amal ibadahnya itu tidak lain kecuali mencari ridha Allah SWT.  Untuk itulah man...

Ilmu Laduni Sebagai Buah Takwa

Ilmu Laduni Sebagai Buah Takwa Allah berfirman:  "Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarimu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS. al-Baqoroh (2); 282)  Kehati-hatian ( al-ihtiyat ) seorang hamba dalam berbuat, menentukan sikap dan memilih jalan hidup yang harus ditempuh, di hadapan Dzat yang ditakuti "yang diyakini setiap saat dapat melihat dan mengetahui dirinya dimanapun berada" serta pengharapannya untuk mendapatkan petunjuk dan hidayah dari-Nya, hal tersebut akan menjadi sumber inspirasi dan ilham yang tiada henti, namun itu manakala ketakutan tersebut hanya disandarkan kepada yang memberi kehidupan, hanya kepada Allah Sang Pemberi Nur kehidupan alam.  Hal tersebut bisa terjadi, karena interaksi dua dzikir telah terkondisikan, sebagai sunnah dan pelaksanaan janji yang tidak teringkari.  "Maka ingatlah kamu kepadaKu, niscaya Aku ingat pula kepadamu ". (QS. 2; 152) Interaksi dua nur walau dipancarkan dari dua sisi yang berbeda,...

Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf

Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf  Istilah tasawuf dimasa Nabi SAW tidak ada, demikian pula dimasa para sahabat Nabi SAW dan tabi’in belum ada istilah itu. Istilah tasawuf itu muncul setelah banyaknya buku-buku pengetahuan yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Dan sebenarnya istilah ini berasal dari kata Sufia (Sophia), dalam istilah bahasa Arab berarti kelompok ahli ibadat untuk menyatukan batinnya hanya kepada Allah semata, sebab tujuan semata untuk mengadakan hubungan dengan yang Maha Benar. (Haqiqatul Haqaiq).  Dalam masalah ini belum ada seorang pun pengkaji masalah tasawuf yang sampai dalam batasan ilmiah untuk mengetahui tokoh sufi pertama dalam Islam dan siapa yang meletakkan batu pertama bagi pemikiran tasawuf ini. Tasawuf merupakan sebuah konsep yang tumbuh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, baik dalam segi wacana, perilaku, maupun akidah.  Tasawuf terjadi pada setiap umat dan agama-agama, khususnya Brahmana Hinduisme, filsafat Ilum...

Kaitan antara Tasawuf dan Tarekat

Kaitan antara Tasawuf dan Tarekat Tarekat adalah jalan atau petunjuk dalam melaksanakan suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dicontohkan oleh Nabi dan sahabatnya. Guru tarekat disebut mursyid atau syaikh, wakilnya disebut khalifah, dan pengikutnya disebut murid, Tempatnya dikenal dengan ribath/zawiyah/taqiyah.  Tarekat juga berarti organisasi yang mempunyai syaikh, upacara ritual dan dzikir tertentu. Pada dasarnya tarekat merupakan bagian dari tasawuf, karena tujuan dzikir adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan pada akhirnya merupakan penyucian jiwa (tazkiyatunnafs).  Penyucian jiwa adalah inti dari kandungan tasawuf. Kajian tasawuf tidak dapat dipisahkan dengan praktek ‘ubudiyah dan mu’amalah dalam tarekat.  Walaupun kegiatan tarekat sebagai sebuah institusi lahir sebagai pendekatan terhadap Allah SWT yang telah diberikan oleh Rasul-Nya (Nabi Muhammad SAW), antara lain dengan ber-tahannus di Gua Hiro, qiyamullail, dzikir, dan sebagainya.  Untuk kemudian dite...

Memahami Konsep Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah

Mahabbah Mahabbah. Mahabbah Secara etimologi, mahabbah adalah bentuk masdar dari kata hubb yang mempunyai arti:  a) membiasakan dan tetap,  b) menyukai sesuatu karena punya rasa cinta.  Dalam bahasa Indonesia kata cinta , berarti:  a) suka sekali, sayang sekali,  b) kasih sekali,  c) ingin sekali, berharap sekali, rindu, makin ditindas makin terasa betapa rindunya, dan  d) susah hati (khawatir) tiada terperikan lagi.  Cinta juga dapat berarti selalu teringat dan terpikat di hati, kemudian menimbulkan rasa rindu, khawatir, sangat suka, sayang, dan birahi.  Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa mahabbah ( cinta ) merupakan keinginan yang sangat kuat terhadap sesuatu melebihi kepada yang lain atau ada perhatian khusus, sehingga menimbulkan usaha untuk memiliki dan bersatu dengannya, sekalipun dengan pengorbanan.  Dengan demikian dapat dikatakan, Mahabbah adalah perasaan cinta yang mendalam secara ruhaniah kepada Allah....

Filosof Adalah Wong Gendeng

Filosof Adalah Wong Gendeng Pada masanya, orang-orang yang kamu anggap cerdas sekarang itu terkadang oleh masyarakat dizamannya dianggap manusia-manusia gak becus.  Banyak Filosof yang tulisan dan fikirannya kamu kenal sekarang itu, ternyata dahulunya, dimasa hidupnya dianggap sampah oleh masyarakatnya.  Hidupnya dianggap gak becus karena hari-harinya dihabiskan dengan klontang-klantung tidak jelas, hanya bawa-bawa pena dan buku, juga melupakan kerja.  Hidupnya menggelandang, gak pernah taat dan berbaur dengan masyarakatnya juga gak taat pada aturan agama dan negaranaya.  Disuruh Nyembah  Pohon Pisang, Filosof Bilang Pohon Pisang cuma makananku. Disuruh sujud pada rajanya filosof bilang raja sama seperti saya.  Disuruh gabung ama masyarakatnya guna mengikuti festival kelahiran dewa pisang , Filsof bilang, kamu lebay...! Kata-kata nyeletuk dari Filosof kepada kebisaan rakyat, agama dan pemerintahannya pada masa itu dianggap menyalahi pakem.bahkan ia dijuluki...