Waliyullah, Eksistensi dan Kedudukannya

Waliyullah, Eksistensi dan Kedudukannya
Waliyullah / Wali Allah
Waliyullah merupakan gabungan dari lafadz “wali” dan “Allah”. Kata “wali” adalah bentuk mufrad (singular), sedangkan bentuk jamak-nya (plural) adalah “awliya”. 

Wali Allah artinya kekasih Allah. Jadi bentuk jamak-nya awliya Allah (para kekasih Allah). 

Dikatakan kekasih Allah karena ia sangat dekat dengan Allah, sehingga Allah menjadi pemelihara dan penolong bagi kekasih-Nya. 

Kata “wali” itu lawan kata dari “’Aduww” (musuh) seperti dikatakan : “setiap orang yang mewalikan kepada seseorang adalah dia walinya”. 

Al-Wali termasuk nama nama Allah yang berarti penolong. Oleh karena itu wali berarti kekasih, pelindung, penolong, dan kawan; yang dimaksud di sini adalah kekasih atau kesayangan Allah SWT. 

Kata “wali” dapat digunakan dalam arti orang yang melakukan sesuatu (fa’il) dan dapat pula digunakan sebagai yang dikenakan  sesuatu (maf’ul).

Dr. Simuh memahami bahwa waliyullah adalah orang-orang yang dapat mencapai penghayatan ma’rifat dan setiap saat dapat berdialog langsung dan menjadi kekasih Tuhan. 

Sedangkan al-Maraghi mengungkapkan bahwa para waliyullah itu adalah orang-orang yang mengadakan hubungan cinta (mahabbah) kepada Allah dengan melaksanakan ibadah kepada-Nya semata-mata secara ikhlas dan bertawakkal kepada-Nya dengan tidak mengambil sesembahan yang lain yang mereka cintai selain Allah

Oleh karenanya bisa disebutkan bahwa seorang mu’min mempunyai wali, yaitu Allah. Dan dapat dikatakan bahwa Allah adalah Al-Wali orang-orang mukmin. 

Abu Qasim Abdul Karim al-Qusyairi mengartikan wali dengan pengertian aktif dan pasif. 

Pengertian aktif  yaitu orang yang melakukan kepatuhan kepada Tuhan secara terus menerus. 

Sedangkan pengertian pasif adalah orang yang penjagaannya  diurus oleh Allah dan urusannya senantiasa dilindungi oleh-Nya. 

Teori per-wali-an dalam kalangan sufi baru muncul pada akhir abad IX M/III H. ketika Sahl al-Tusturi, al-Kharraj, dan Hakim al Tirmidzi menulis tentang itu. 

Wali dalam kalangan sufi dinamai dengan orang kudus, orang yang ada di bawah  perlindungan khusus. Dalam literatur orientalis biasa disebut Saint. Dalam hal ini Waliyullah diartikan sebagai orang yang dekat dengan Allah. 

Dekat dengan Allah maksudnya orang itu dengan kesungguhan percaya dan mengimani Allah dan Rasul-Nya serta beriman kepada semua yang diajarkannya. 

Ia dengan sungguh-sungguh menjalankan segala perintah dan menjauhkan diri dari semua larangan Allah dan Rasul-Nya dengan taat dan patuh. 

Di dalam surat al-Baqarah ayat 257 ditegaskan bahwa Wali dari orang yang beriman ialah Allah. 

Sedangkan di dalam surat Yunus ayat 62-63 dinyatakan bahwa orang yang beriman dan bertakwa itu menjadi wali Allah (waliyullah). 

Dengan demikian Allah menjadi wali dari para kekasih-Nya, di sini maksudnya Allah sebagai pelindung dan pembela. 

Dan para kekasih-Nya menjadi Waliyullah; dalam hal ini berarti orang-orang yang telah mendapat jaminan lindungan dari Tuhan. 

Para waliyullah merupakan hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya, hal ini karena mereka adalah orang-orang yang suka berbuat baik, berlaku adil, bersabar,  bertawakkal, serta bertaubat dan mencintai kesucian.

Oleh karenanya waliyullah adalah kekasih Allah yang menolong agama-Nya; untuk itu Allah melindungi para kekasihNya. 

Mengenai siapa sebenarnya waliyullah itu, dalam Al-Qur’an disebutkan.
" Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan atas mereka dan tiada pula mereka berduka cita. Yaitu orang-oarang yang beriman dan bertakwa. Untuk mereka kabar gembira waktu hidup di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan kalimat-kalimat Allah. Demikian itulah kemenangan yang besar.” (QS. 10:62-64)
Oleh karena itu menurut terminologi Al-Qur’an bahwa para waliyullah itu adalah mereka yang tidak dihinggapi oleh perasaan khawatir ataupun sedih, mereka beriman dan bertakwa serta bagi merekalah sebenarnya berita gembira di dalam kehidupan dunia akhirat. 

Di dalam surat Yunus ayat 62 ada lafadz “awliya Allah”, lafadz tersebut diartikan sebagai lawan kata dari musuh-musuh Allah SWT, seperti orang kafir dan musyrik.

Waliyullah sebagaimana ditujukan pada ayat sesudahnya (QS. Yunus:63) berarti orang-orang mukmin dan muttaqin, yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa; barang siapa yang beriman dan bertakwa itulah waliyullah, ia tidak takut terhadap apa-apa yang akan terjadi, hilang perasaan sedih atas kenyataan yang ia alami, serta tercapailah ketentraman dan ketenangan  di dalam kehidupannya. 

Demikian pula ia dapatkan kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat, sehingga Allah ridha kepadanya. 

Al-Jundi menukil pendapat Imam al-Thabari, bahwa Waliyullah itu adalah para penolong Allah yang sejati dengan keimanan dan ketakwaannya. 

Sedangkan para ahli Ilmu Kalam memandang bahwa Waliyullah itu adalah orang yang melaksanakan akidah yang benar (shahih) didasarkan atas dalil yang jelas dengan amal perbuatan yang selaras menurut syari’ah.

Dengan memperhatikan pernyataan-pernyataan di atas, dapat disebutkan, waliyullah adalah hamba Allah yang benar-benar beriman dan bertakwa sehingga sangat akrab hubungan timbal baliknya dengan Allah SWT.  

Selain mendekatkan diri kepada-Nya sehingga ia pun terlimpah anugrah-anugrah-Nya, secara lahir dan batin. Keadaan ini merupakan sebagai bukti cinta dan ma’rifatnya kepada Allah SWT.

Adapun mengenai eksistensi waliyullah, kedudukannya bermacam-macam. 

Dalam dunia sufi dikenal hirarki kekuasaan kerohanian. 

Macam-macam hirarki itu ditempati oleh para waliyullah sesuai dengan tingkat kesempurnaan ke-wali-an yang dicapainya.

Ada beberapa macam kedudukan waliyullah, dari yang lebih tinggi kesempurnaan ke-wali-annya sampai kepada para wazir dan asisten-asistennya, yaitu:

1. Al-Aqthab atau Wali Quthub, yaitu seorang penghulu yang tertinggi, hanya ada seorang  pada setiap masa. Jika ia meninggal dunia, digantikan oleh Wali Quthub lain. 

Pada masanya dialah yang memimpin dan menguasai semua wali di seluruh dunia. 

2. Al-Aimmah, secara bahasa artinya imam-imam (pemimpin). 

Dalam setiap masa terdapat dua orang, seorang disebut Abdul Rabbi, dan yang lainnya di namakan Abdul Malik

Ada juga yang menyebutnya dengan penamaan ImamAlamul Malak dan Imam ‘Alamul Malakut.

Pembantu Wali Quthub ini, seorang diantara mereka terbatas hanya pada menyaksikan alam malaikat, dan yang satunya lagi terbatas wewenangnya menyaksikan alam malakut (abstrak).

Mereka dapat menggantikan kedudukan Wali Quthub jika ia meninggal dunia. Jabatan mereka laksana wazir atau pembantu Wali Quthub

Apabila salah satu dari imam ini atau keduanya meninggal dunia, atau secara kebetulan menggantikan kedudukan sebagai Wali Quthub, maka secara otomatis diganti oleh para wali di bawahnya yang disebut al-Autad

3. Al-Autad, berarti tiang atau pasak. Jumlah wali ini pada setiap masa empat orang. Gelar mereka Abdul Hayyi, Abdul Alim, Abdul Qadir, dan Abdul Murid. Masing-masing menguasai wilayah Barat, timur, utara, dan selatan.

Apabila Wali Autad meninggal dunia maka digantikan oleh para wali yang ada di bawahnya, yaitu al-Abdal.

4. Al-Abdal, dinamakan “Abdal” (pengganti) karena jika mereka meninggalkan suatu tempat, maka menunjuk sesorang di situ sebagai pengganti tanpa diketahui orang lain. 

Jumlah Wali ini tujuh orang, mereka ditugasi menguasai iklim yang tujuh, dan setiap mereka menguasai wilayah tertentu.

Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Allah untuk menjaga suatu wilayah di bumi, sedangkan wilayah bumi ini dibagi dalam tujuh kewilayahan 

5. Al-Nuqaba, secara bahasa berarti kepala suatu kaum/wilayah/ negeri. 

Jumlahnya dua belas orang dalam satu masa, jumlah ini sesuai dengan bintang beredar di langit. 

Setiap Naqib mengetahui bintang yang khusus untuknya. Allah mengaruniai mereka ilmu pengetahuan tentang hukum syari’at, sehingga mereka mengetahui dan sadar akan tipu daya nafsu dan peranan iblis. 

Demikian pula mereka diberi kelebihan oleh Allah dapat mengerti rahasia yang tersembunyi dalam hati seseorang dan bisa mengetahui watak kehidupan seseorang lewat jejak kakinya. 

6. Al-Nujaba’, berarti yang mulia.

Al- Najib bisa berarti yang cerdas atau budiman.

Jumlah mereka dalam satu masa delapan orang. 

Wali ini selalu disukai oleh orang, dimana-mana mendapat sambutan baik. 

Seorang wali pada tingkat kerohanian ini tidak merasa bahwa dirinya adalah seorang waliyullah, yang dapat mengetahuinya hanya walliyullah yang lebih tinggi derajat dan martabatnya dari mereka. 

7. Al-Hawariyyun, artinya pembela atau penolong. 

Waliyullah ini hanya seorang saja dalam setiap masa. Jika ia meninggal dunia, maka digantikan oleh orang lain. 

Adapun yang dinamakan hawari ialah orang yang membela agama dengan senjata dan hujjah (dalil) yang kuat. 

Allah mengaruniainya dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, keberanian dan ketekunan beribadat.

Di zaman Nabi SAW, yang menduduki martabat hawari ini adalah Zubair bin Awam, beliaulah yang terpilih.

8. Al-Rajabiyyun, waliyullah yang menempati ini berjumlah empat puluh orang dalam setiap masa. 

Dinamakan dengan al-Rajabiyyun, karena kekeramatan mereka muncul atau tampak hanya dalam bulan Rajab saja. 

Tidak banyak orang yang mengenal mereka, namun antara mereka saling mengenal. 

Wali Rajabiyyun, pada hari pertama bulan Rajab merasa badannya berat bagaikan dihimpit langit, tubuhnya kaku, bahkan pelupuk matanya tidak berkedip sampai sore. 

Keesokan harinya perasaan demikian agak berkurang, dan pada hari ke tiga tersingkaplah rahasia kebesaran Allah kepada mereka. 

Sesudah dua atau tiga hari barulah mereka bercakap - cakap. Apabila bulan Rajab berakhir, seolah-olah mereka bagaikan terlepas dari ikatan yang kuat, lalu bangkit. 

Jika mereka pedagang, pengrajin, atau petani, maka kembalilah masing-masing ke pekerjaannya sehari-hari. 

9. Al-Khatam, atau penutup, hanya seorang jumlahnya dengan memiliki kekuasaan yang cukup luas. 

Ia mengurus dan menguasai wilayah kekuasaan umat Nabi Muhammad SAW, tidak ada seorang pun menyamainya. 

Beliau adalah waliyullah terakhir atau wali penutup

Pada hari kiamat nanti, beliau mempunyai data tempat berhimpun satu bersama umat Nabi Muhammad SAW, dan yang satu lagi berhimpun dengan para Rasul.

Ibnu Taimiyah menolak kebenaran tentang nama-nama/macam-macam waliyullah tersebut, kecuali nama wali Abdal, demikian pula menganggapnya tidak benar tentang jumlah para waliyullah itu.

Penguasa rohani dalam per-wali-an di atas berfungsi sebagai pemandu rohani kehidupan manusia. 

Kaum Syi’ah sering menghubungkan Qutub/gauts dengan kedudukan imam-imam yang tersembunyi. 

Sedangkan dalam kalangan Sunni ada yang menghubungkannya dengan Imam Mahdi.

Pada dasarnya waliyullah ini terbagi dua, yaitu waliyullah alammah dan waliyullah al-khassah

Waliyullah al-ammah yaitu derajat kewali-an yang dimiliki oleh orang-orang mukmin dan muttaqin pada umumnya, yakni kekasih Allah yang memenuhi syarat iman dan takwa. 

Sedangkan waliyullah al-khassah yaitu orang-orang tertentu yang sudah memenuhi syarat iman dan takwa dan juga telah mencapai insan kamil yang benar-benar terjaga dari maksiat sehingga Allah mengkhususkan mereka.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Tentang Maqamat dan Ahwal

Maqamat dan Ahwal  Maqamat . Maqamat adalah jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Maqamat merupakan bentuk jamak mu’annats dari kata maqam yang  secara bahasa berarti kedudukan, pangkat, dan derajat.  Dalam pandangan Ath-Thusi sebagaimana dikutip oleh Rosihan Anwar dan M. Alfatih bahwa maqamat adalah kedudukan hamba (salik) dalam perjalanannya menuju Allah SWT melalui ibadah, kesungguhan melawan rintangan (al-mujahadat), dan latihan-latihan rohani (ar-Riyadhah). Di antara tingkatan maqamat adalah: taubat, zuhud, wara’, faqir, sabar, tawakkal, dan ridho. Secara umum pemahamannya sebagai berikut: 1) Taubat , yaitu memohon ampun disertai janji tidak akan mengulangi lagi.  2) Zuhud , yaitu meninggalkan kehidupan dunia (dalam hal kemaksiatan) dan mengutamakan kebahagiaan di akhirat.  3) Wara’ , yaitu meninggalkan segala yang syubhat (tidak jelas halal haramnya).  4) Faqir , yaitu tidak meminta lebih dari apa yang sudah diteri...

Memahami Pengertian Wahdatul Wujud

Memahami Pengertian Wahdatul Wujud Secara etimologi, wahdatul wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu Wahdat dan al-Wujud.  Wahdat artinya adalah penyatuan, satu, atau sendiri, sedangkan al-wujud artinya ada (eksistens).  Di kalangan ulama klasik ada yang mengartikan wahdah sebagai sesuatu yang zatnya tidak dapat dibagi-bagi. Selain itu al-wahdah digunakan oleh para sufi sebagai suatu kesatuan antara materi dan roh, substansi (hakikat) dan forma (bentuk), antara yang tampak atau lahir dengan yang batin, antara alam dengan Allah, karena alam dan seisinya berasal dari Allah.  Wujudnya makhluk adalah ‘ain wujudnya Khalik . Pada hakikatnya tidak ada perbedaan diantara keduanya.  Kalau dikatakan berlainan dan berbeda wujud makhluk dengan wujud Khalik, itu hanyalah lantaran pendeknya paham dan singkatnya akal dalam mengetahui dan mencapai haqiqat.  Wahdatul Wujud mempunyai pengertian bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki ata...

Pencerahan Spiritual Dari Perjalanan Tahap Pertama

Pencerahan Spiritual Dari Perjalanan Tahap Pertama Dengan mujahadah dan dzikir yang dilaksanakan oleh seorang salik sebagai pelaksanaan thoriqoh secara istiqomah. Akal (rasio) akan selalu mendapatkan pencerahan dari hati dengan " nur hidayah ", nur hidayah tersebut adalah buah dzikir yang dijalani.  Hasilnya, aktifitas akal yang terkadang suka kebablasan dapat terkendali dengan kekuatan aqidah ( spiritual ) yang benar.  Dengan dzikir itu, seperti meditasi, orang beriman hendaknya mampu mengosongkan irodah dan qudroh basyariyah yang hadits (baru) untuk dihadapkan kepada irodah dan qudroh Allah Ta‘ala yang azaliah.  Maksudnya, obsesi, rencana, dan kemampuan diri untuk mengatur kehidupan kedepan, baik urusan dunia maupun urusan akhirat, saat itu, dengan kekuatan dzikir yang dilaksanakan tersebut, dilepas sementara dari bilik akalnya, kebutuhan hidup tersebut dihadapkan dan diserahkan kepada perancanaan Allah "bagi setiap hamba-Nya " sejak zaman azali serta kepada...

Ilmu Akhlak pada Agama Islam

Ilmu Akhlak pada Agama Islam Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah - perintah Allah dan larangan - larangan-Nya.  Akhlak harus ada serta nampak pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.  Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.  Semua ini terkandung dalam ajaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.  Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Tokoh-tokoh ini tidak lain adalah Nabi - nabi yang tercatat dan diabadikan dalam kitab suciAl-Qur’an.  1. Nabi Ibrahim AS Nabi Ibrahim AS mempunyai sebutan sebagai Ayahnya semua nabi dan rasul, yang membawa dan menyebarkan ajaran tauhid kepada umat manusia. Ia adalah orang yang berani menanggung resiko dalam m...

Membahas Teori Pemikiran Wahdatul Wujud

Membahas Teori Pemikiran Wahdatul Wujud Secara historis, teori wahdatul wujud pada mulanya adalah teori yang disusun Ibnu Arabi . Ia lebih bernuansa sufistik ketimbang filsafat.  Banyak penafsiran telah diberikan tentang teori ini, dari yang sangat ekstrem sampai moderat.  Mungkin yang paling ekstrem adalah Ibnu Sab’in yang menyatakan bahwa hanya Tuhan yang eksis sementara selain Tuhan tak ada yang eksis.  Ada lagi yang ekstrem yang menyatakan bahwa seluruh yang berwujud selain Tuhan hanyalah tajalliyat (manifestasi) dari asma’ dan sifat-sifat tuhan.  Namun Mulla Sadra melihat bahwa Yang Ada Sebagai Yang Ada meskipun Satu, namun ia memiliki intensitas yang membentang dari yang nama Yang Ada.  Sifat Yang Ada-nya Tuhan Mutlak, sementara yang ada lain hanya bersifat Yang Ada Dalam Kemungkinan.  Ia persis seperti matahari dan sinarnya. Matahari tentu berbeda dengan sinarnya. Namun dalam masa yang sama, sinar matahari tiada lain adalah matahari itu sendiri. Y...

Hikmah Perjalanan Tahap Pertama Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as.

Hikmah Perjalanan Tahap Pertama  Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as. Perjalanan tahap pertama ini, yaitu tahap pencarian seorang murid untuk menemukan guru pembimbing ( mursyid ) dalam rangka meningkatkan kualitas ilmu yang sudah dimiliki.  Perjalanan dua karakter tersebut (karakter Musa dan karakter Khidhir ) hendaklah dijadikan sebagai i‘tibar dan muqoddimah dari sebuah perjalanan spiritual yang akan dilakukan.  Perjalanan tersebut sebagai dasar yang harus diketahui, dijadikan kajian dan landasan oleh seorang salik untuk menjadi bekal bagi usaha dan tahapan pencarian yang berikutnya.  Ilmu yang sudah dimiliki adalah ilmu teori, sedangkan ilmu yang dicari adalah penerapan ilmu itu dalam menghadapi kejadian yang aktual secara aplikatif, baik untuk urusan vertikal maupun horizontal.   Tahap pertama ini, seorang murid harus mampu melaksanakan beberapa hal:  1) Niat yang kuat dan bekal secukupnya.  Seorang salik harus meninggalkan dunia yang ada di...

Perjalanan Nabi Musa as. Mencari Nabi Khidir as. (Contoh Ilmu Laduni Yang Kedua)

Perjalanan Nabi MUSA as.  mencari Nabi KHIDHIR as. ( Contoh Ilmu Laduni Yang Kedua ) Perjalanan Nabi Musa as . dengan Nabi Khidhir as ., telah diabadikan Allah Ta‘ala di dalam Al-Qur‘an al-Karim.  Sungguh yang demikian itu bukan hanya sekedar menjadi ilustrasi al-Qur‘an dengan tanpa ada makna dan tujuan yang berarti, sebagaimana buku komik dan novel, tidak!.  Al-Qur‘an tidaklah demikian, namun jauh lebih dari itu, yaitu supaya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi umat Nabi Muhammad saw.  Peristiwa sejarah yang sudah lama ghaib itu, apabila tidak dimunculkan di dalam " kitab suci yang terjaga " ini maka barangkali tidak ada seorang pun mengetahuinya lagi. Terlebih kita umat Muhammad saw. yang hidup entah berapa ratus tahun setelah peristiwa tersebut terjadi.   Hal itu tidak lain, supaya peristiwa sejarah itu dapat dijadikan bahan kajian yang mendalam, bahwa ternyata di dalam kehidupan ini ada dua jenis ilmu pengetahuan dan dua jenis alam yang harus d...

Ma’rifat ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf )

Ma’rifat ( Ajaran - Ajaran Dalam Tasawuf ) Ma’rifat. Kata ma’rifat berasal dari kata ‘arafa yang artinya mengenal dan paham. Ma’rifat menggambarkan hubungan rapat dalam bentuk gnosis, pengetahuan dengan hati sanubari.  Pengetahuan ini diperoleh dengan kesungguhan dan usaha kerja keras, sehingga mencapai puncak dari tujuan seorang Salik.  Hal ini dicapai dengan sinar Allah, hidayahNya, Qudrat dan Iradat-Nya. Sebagaimana telah dipahami, ma’rifat adalah mengetahui Tuhan dari dekat. Oleh karenanya hati sanubari dapat melihat Tuhan. Tujuan utama yang menjadi inti ajaran tasawuf adalah mencapai penghayatan ma’rifat pada dzat Allah.  Ma’rifat ini dalam tasawuf adalah penghayatan atau pengalaman kejiwaan. Oleh karena itu alat untuk menghayati Dzat Allah bukan pikiran atau panca indra, akan tetapi hati atau kalbu.  Dengan demikian, orang-orang sufi mengaitkan kedua mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, maka mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang di...

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia

Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Akhlak Pada Beberapa Bangsa di Dunia Berbicara tentang sejarah akhlak berarti membicarakan semenjak adanya manusia, yaitu sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS. Sejarah  ilmu akhlak yaitu sejarah yang mempelajari batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan tercela, tentang perkataan dan perbuatan manusia lahir dan batin sejak zaman Nabi Adam AS hingga sekarang.  Sejarah ilmu akhlak ialah sejarah yang menggali tentang tingkah laku baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuannya dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka dari masa ke masa. Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa perkembangan pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku seseorang melalui berbagai macam metode yang disusun secara sistematis dari zaman ke zaman.  Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak ialah suatu peristiwa yang benar-benar terjadi dari perkembangan ilmu pengetahuan tentang budi pekerti atau tingkah laku  seseorang me...

Hikmah Perjalanan Tahap Kedua Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as.

Hikmah Perjalanan Tahap Kedua Nabi Musa as. dan Nabi Khidhir as. Perjalanan tahap kedua adalah usaha seorang murid untuk membangun komitmen (mubaya‘ah) kepada guru mursyidnya .  Seorang murid harus mampu melaksanakan apa-apa yang sudah disepakati dengan guru mursyidnya , itu sebagai hal yang wajib dikerjakan berkaitan dengan janji ( bai‘at ) yang sudah dilaksanakan.  Pelaksanaan bai‘at seperti itu juga dilaksanakan Rasulullah saw. terhadap para sahabat sebagai janji setia untuk bersedia mengikuti beliau:  "Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar'. (QS. al-Fath : 10). Janji seorang murid di hadapan guru mursyidnya hanyalah pelaksanaan syari‘at secara lahir sedangkan secara hak...