Pembentukan Nilai-nilai Akhlak

Pembentukan Nilai-nilai Akhlak

Sebagaimana dipahami, bahwa dalam Ilmu Akhlak dibahas ukuran suatu kebahagiaan, keutamaan, kebijaksanaan, keindahan dan sebagainya.

Dalam kaitan ini nilai-nilai akhlak sangat mempengaruhi hal-hal itu. Demikian pula dalam pembentukannya dapat dipengaruhi dari unsur internal seseorang atau pun unsur eksternalnya.

Kita ketahui, setiap agama memiliki nilai-nilai akhlak dan karakteristik yang membedakannya dengan agama lain.

Tidak dapat diragukan lagi di dalam Islam juga terdapat nilai-nilai akhlak tertentu yang menjadi kewajiban bagi para pemeluknya untuk bersikap toleran terhadap agama lain dalam hubungan kemanusiaan dan kemasyarakatan.

Islam adalah agama yang berlandaskan kemuliaan, kemurahan hati dan pilantropi (saling menyayangi antar sesama manusia).

Pikiran yang sempit, ketamakan, dan kekikiran merupakan sifat-sifat buruk yang dapat menggoncangkan sendi-sendi agama.

Oleh karena itu dikehendaki para pengikutnya bermurah hati dan berbaik hati. Sangat dianjurkan untuk memperlakukan orang lain dengan ramah, bertindak penuh ketakwaan, menolong dan melakukan segala kebaikan.

Islam telah menyatakan bahwa kutukan dan caci maki, saling melempar kata-kata kasar dan cabul merupakan perbuatan yang sangat diharamkan.

Banyak sekali bentrokan-bentrokan sering terjadi karena kehormatan seseorang diserang. Demikian pula terjadinya huru hara karena masing-masing saling melempar tuduhan dan saling mencari kesalahan.

Tanggung jawab sepenuhnya atas dosa yang rendah ini adalah orang yang pertama yang mengobarkan api, kemudian orang-orang yang mengikuti dan mendukungnya.

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa penyebab utama saling mengutuk dan mencaci adalah orang pertama yang memulainya, kecuali orang kedua melewati batas (HR. Muslim).

Cara untuk menghindarkan diri dari racun yang berbahaya ini adalah dengan toleransi dan kesabaran yang dapat mengatasi kemarahan dan kekasaran, dan sikap mau memaafkan orang lain (wal ‘afina ‘aninnas).

Tidak diragukan lagi, manakala kepribadian seseorang, keluarga dan teman-temannya diserang, dan membuatnya menderita, sementara ia mempunyai alat serta sumber untuk membalasnya, maka ia ingin menjadi pemenang dengan segera dan tidak berhenti sebelum puas melampiaskan dendamnya.

Berkaitan dengan karakteristik nilai-nilai akhlak yang harus dimiliki seorang muslim, ada beberapa hal yang termasuk dalam kategori sifat-sifat ini yaitu:

1) Seorang yang selalu beriman dan bertakwa bila ditimpa kemiskinan, maka dalam hubungannya dengan Allah SWT ia selalu diliputi berbagai suasana dan keadaan yang mulia seperti kerelaan, qonaah, kesabaran, wara’, dan bergantung hanya kepada Allah.

Ia pun akan beroleh karunia-Nya yang disebut luthf atau althaf Ilahiyyah seperti keridhaan, kedekatan kepada-Nya, pertolongan dan support berupa ketabahan dan kesabaran.

Luthf adalah Kelembutan dan kasih sayang dan Althaf Ilahiyah adalah Kasih sayang Ilahi yang menjaga seseorang dari terperosok dalam dosa-dosa atau tertimpa berbagai bencana, dan atau meredam dampak bencana yang telah menimpa.

Dalam hubungannya dengan sesama manusia, ia selalu berhasil menyembunyikan penderitaannya dan tampak ceria dihadapan mereka. Dan mereka senantiasa bersikap baik sangka (husnu al-dzonn) kepada Allah, demikian pula mereka memandang bahwasanya Allah SWT mengarahkannya ke jalan orang - orang yang baik hamba-hamba pilihan-Nya.

2) Selama manusia dalam keadaan beriman, bertakwa, dan ber-ihsan, Allah SWT memberikan anugrah kekayaan (kecukupan) dan keluasan rizki baginya.

Sifat-sifat yang meliputinya senantiasa mengabdi kepadaNya dan menggunakan hartanya untuk kemaslahatan.

Allah berfirman dalam Surat At Talaq Ayat 2 dan 3

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar (dalam menyelesaikan masalah). Dan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.

Di dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa takwa merupakan pokok dari segala urusan di sisi Allah dan dengan takwa itu diperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dan orang yang menyerahkan urusannya serta memasrahkan kebebasannya kepada Allah SWT, maka Dia akan mencukupinya dalam hal yang menyulitkannya di dunia dan akhirat.

Maksudnya hamba (kekasih Allah) itu mengambil sebab-sebab yang dijadikan Allah termasuk sunnah-sunnah-Nya dalam kehidupan ini dan menunaikannya dengan cara yang sebaik-baiknya, kemudian menyerahkan urusannya kepada Allah dengan sebab-sebab yang tidak diketahuinya dan tidak dapat ia capai pengetahuannya.

Untuk lebih jelasnya bahwa orang yang senantiasa menjaga ketakwaannya itu pasti Allah memberi kemudahan dalam masalah urusannya, hal ini disebutkan di dalam firman Allah dan surat  Al-Fath Ayat 4

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”.

3) Bila mendapatkan kesehatan dan keselamatan, orang yang mempunyai nilai akhlak mulia senantiasa bersyukur kepada Allah SWT, bersungguh-sungguh dalam mencari keridhaan-Nya dan menggunakan kesehatan dan kekuatannya itu dalam ketaatan kepadaNya. Ia pun akan memperoleh balasan dari Allah SWT berupa keridhaan dan kemuliaan.

Demikian pula orang lain menilainya dengan menunjukkan rasa hormat dan memuji atas segala amal shalihnya serta kesungguhannya dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

4) Bila seseorang itu menderita sakit, ia tetap ridha, sabar, pasrah atas kehendak Allah, dan hanya mengharap pertolongan dari-Nya.

Dengan demikian Allah melimpahkan kepadanya ridha, dan inayah serta kekuatan agar merasa tenang dan tentram.

Orang beriman dan bertakwa meyakini bahwa Allah SWT menggiring penyakit itu kepadanya semata-mata untuk menjadi kaffarah dan penambah pahala yang akan meninggikan derajatnya atas kehendak-Nya.

Kaffarah  adalah suatu pembayaran atau perbuatan untuk menghapus kesalahan atau dosa. Penyakit yang diterima dengan sabar oleh seorang mu’min dapat menghapus dosa - dosanya dan mensucikannya kembali.

Bagi orang yang beriman dan bertakwa, Allah menjanjikan bagi orang tersebut hilangnya ketakutan dan kekhawatiran seperti dinyatakan dalam Al - Qur'an surat Al Baqarah ayat 38,

Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku maka akan lenyap segala ketakutan (khauf) dan kesusahan (huzn).”

Demikian pula disebutkan dalam surat Yunus ayat 62,

ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan atas mereka dan tiada pula kesusahan.”

Untuk lebih jelasnya Allah berfirman  dalam surat Al Fath ayat 4

Allah SWT. yang menurunkan ketentraman di dalam hati orang- orang mu’min supaya mereka bertambah imannya beserta iman mereka (yang sudah ada). Dan kepunyaan Allah tentara yang ada di langit dan di muka bumi; dan bahwasanya Allah itu Maha Mengetahui dan Bijaksana.”

Oleh karenanya hati (perasaan) orang mu’min itu stabil dan keadaannya tenang walaupun orang lain mencelanya (QS. Al Maidah ayat 54).

Hal ini karena mereka  itu senantiasa ingat kepada Allah “ketahuilah, dengan ingat kepada Allah maka hati manusia menjadi tenang-tentram”.

5) Berusaha untuk senantiasa beramal salih.

Amal salih ini mempunyai pengertian yang luas, baik yang berhubungan dengan Tuhan atau yang bertalian dengan sesama manusia, diri sendiri dan alam semesta.

Juga berkaitan dengan keikhlasan (bersih dari riya). Bentuk amal salih itu bermacam-macam, bisa berupa pemberian harta benda, tenaga, pikiran, dan tingkah laku, atau berupa ucapan nasihat yang baik demi kemaslahatan dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari.

Dalam hal ini antara iman dan amal salih itu tidak bisa dipisahkan. Hamba Allah yang senantiasa beriman dan beramal salih akan terhindar dari menderita kerugian, memperoleh ampunan dosa dan pahala yang cukup, mendapat kehidupan yang baik, dan tiada merasa ketakutan dan duka cita.

6) Bersikap tawakkal kepada Allah dalam berusaha dan ikhtiar.

Pengaruh tawakkal terbukti dalam gerak-gerik seseorang, berusaha keras dengan segala kemampuan dan pengetahuannya, supaya tujuannya tercapai.

Gerak-gerik seseorang selalu mengikuti apa yang terlintas dalam hati, usaha seseorang dengan ikhtiar dan kemauannya, adakalanya untuk mendapatkan manfaat mempertahankan manfaat yang telah dimiliki, atau menolak bahaya yang mungkin datang menimpanya.

Dalam Al-qur’an disebutkan, dalam menentukan sikap dari kebijaksanaan nabi Muhammad melaksanakan musyawarah dengan para sahabat. Setelah mempunyai kemauan yang bulat barulah bertawakkal kepada Allah dalam melaksanakannya.

Tawakkal kepada Allah merupakan kunci kemenangan. Oleh karena itu cukuplah Allah sebagai penolong.

7) Tulus ikhlas dalam beriman dan bertakwa.

Al-Qur’an menegaskan bahwa amal yang diterima oleh Allah adalah amal yang dikerjakan dengan niat ikhlas hendak  mencari ridha-Nya.

Selanjutnya keikhlasan bersabar dan memohon kepada Allah tidak hanya ketika dilanda kesulitan saja, melainkan juga dalam masa senang dan lapang.

Keikhlasan dalam bekerja biasanya dapat dibuktikan dengan pelaksanaan yang sungguh-sungguh, sehingga pujian dan terima kasih manusia tidak menjadi tujuan atau mempengaruhi tujuan.

Oleh karenanya para waliyullah dalam beramal, sebagai bukti keimanan dan ketakwaannya mereka mengharapkan keridhaan Allah, bukan balas jasa dan ucapan terima kasih dari manusia. Demikian pula dalam beribadah kepada Allah Rabbul ‘alamin senantiasa dikerjakan dengan tulus ikhlas.

Tulus ikhlas dalam beriman dan bertakwa itu disamping mematuhi dinullah yang disampaikan dengan perantaraan para rasullulah, juga mematuhi sunnatullah.

Setiap orang yang beriman belum tentu bertakwa, namun setiap orang yang bertakwa pasti dia beriman. Dalam hal ini nilai tinggi rendah kemuliaan dan kehormatan seorang manusia pada sisi Allah diukur dengan ketakwaannya.

Orang yang bertakwa mempunyai mata hati yang tajam, bukan saja dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah juga mempunyai kekuatan lahir dan batin untuk mengatasi berbagai kesulitan. Di sisi lain, keimanan dan ketakwaan seseorang bisa membuka pintu berkah dari langit dan bumi.

Disamping tujuh hal di atas, ada pula karakteristik lain yang termasuk dalam kaitannya dengan pembentukan nilai-nilai akhlak mulia, yaitu:

Pertama, memelihara sifat tawadhu’ dan qana’ah. Manifestasi karakternya itu akan tampak dalam kehidupan bermasyarakat di sekitarnya (sosialisasi).

Oleh karena itu pelaksanaan nilai-nilai terlihat pada kehidupan yang penuh kasih sayang, bermurah hati, dan cenderung untuk mengajak kebenaran (ma’ruf) dan melarang kemunkaran. Berkenaan dengan masalah ini, Ali bin Husain berkata:

Orang yang  mengeluarkan hartanya karena diminta, tidak termasuk bermurah hati. Yang disebut bermurah hati adalah orang yang menunaikan hak-hak Allah atas kemauan niat sendiri dan ta’at kepada-Nya, tanpa tekanan ataupun harapan untuk ucapan terima kasih”.

Pembentukan nilai-nilai akhlak mulia dapat ditampilkan dengan sifat pemurah, suka memberi, dan sanggup menanggung segala resiko untuk kemaslahatan. Demikian pula hal itu bermakna manis muka, memberi yang terbaik, serta menahan segala gangguan.

Oleh karenanya sebagai orang yang bertakwa selayaknya tidak mempunyai sifat kedurhakaan, keingkaran, kemunafikan, sikap suka menentang, kedzaliman, dan akhlak-akhlak lain yang semacamnya.

Kedua, syukur dan ridha atas kehendak Allah. Kedua hal ini merupakan perbuatan yang sangat terpuji karena berhubungan dengan kerelaan hati seseorang dan sikap lapang dada sehingga menimbulkan ketenangan batin bagi yang memilikinya.

Hakikat pembentukan nilai akhlak syukur ada tiga hal, yaitu:

Mengakui segala nikmat yang datang dari Allah, meskipun diterima melalui tangan manusia. Karena hal ini pada hakikatnya manusia digerakkan untuk meneruskan nikmat itu oleh Allah.

Membesarkan syukur atas nikmat yang telah Allah anugerahkan (senantiasa bersyukur kepada-Nya).

Mempergunakan segala nikmat untuk berbuat kebajikan dan kemaslahatan (digunakan untuk beribadah).

Kesimpulannya, orang yang bertakwa tidaklah sepatutnya mengandalkan sesuatu selain mencari keridhoan Ilahi, keselamatan diri dan masyarakat serta kebaikan kehidupan di dunia dan akhirat.

Demikian pula berusaha untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian yang bersemayam jauh di lubuk hati, seraya menjauhkan diri dari dosa-dosa dan segala yang mendatangkan nista.

Dalam hal ini, mereka tidak terlalu mengindahkan siapa pun di antara manusia yang telah disibukkan dengan kepentingannya sendiri dan untuk segala yang mendatangkan kebaikan baginya di dunia.

Oleh karenanya dalam nilainilai akhlak Islami yang ideal senantiasa istiqomah berpegang teguh dengan tali Allah SWT.

Jika nilai-nilai akhlak di atas tekanannya pada kepribadian muslim, maka dalam pembentukan nilai-nilai akhlak dapat dilakukan lembaga-lembaga pendidikan, formal, non-formal, dan informal, bahkan dalam kegiatan lainnya yang dilakukan masyarakat.

Melalui kerja sama yang baik antara tiga lembaga pendidikan tersebut, maka aspek kognitif  (pengetahuan), afektif (penghayatan), dan psikomotorik (pengamalan) ajaran yang diajarkan akan terbentuk.

Dalam hubungan ini, faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pembinaan akhlak minimal ada dua hal, yaitu:

faktor dari dalam (internal) yakni potensi fisik, intelektual, dan hati (rohaniah); dan faktor dari luar (eksternal) yakni lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat sekitarnya.

Komentar

< Newer | Older >

View

Random Artikel

JINGGA NEWS || www.jingganews.com

Populer Minggu Ini

Memahami Konsep Fana dan Baqa Dalam Ilmu Tasawuf

Fana dan Baqa Fana dan Baqa . Dalam kajian tasawuf antara fana dan baqa tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan baqa merupakan sisi lain yang terikat dari fana. Bahkan dalam Sayyid Mahmud Abul Faidh al-Manufi al Husaini menggabungkan tema kajian fana dan baqa (pada satu judul) dalam karyanya Jamharotul Awliya.  Fana diambil dari kata faniya (fana)-yafna-fana ’, secara bahasa berarti menjadi lenyap, hilang, dan tak kekal. Dalam sumber lain berasal dari kata fana-yafni- fana ’ yang mengandung makna hilang hancur. Sedangkan baqa berasal dari kata baqiya-yabqa- baqa ’ yang berarti dawam atau terus menerus, tidak lenyap dan tidak hancur. Fana dalam istilah Ilmu Tasawuf  adalah suatu tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi menjelang ke tingkat ittihad , yakni hilangnya kesadaran tentang dirinya dari seluruh makhluk dan hanya ditujukan kepada Allah semata, serta yang ada hanya Allah SWT.  Dengan perkataan lain suatu keadaan mental hubungan manusia dan alam...

Inilah 7 Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang

Faktor yang Mempengaruhi Akhlak Seseorang Menurut Murtadha Muthahhari, ada jenis akhlak yang didasarkan pada ego.Ini merupakan jenis akhlak yang dipengaruhi hawa nafsu.  Pandangan akhlak seperti ini diantaranya dikemukakan oleh Nitsche. Akhlak komunis pun demikian adanya. Yang ideal adalah akhlak yang timbul dari nilai-nilai Ilahiyah dengan kesadaran pribadi mengarah pada ilham taqwa.  Apabila ditinjau dari segi akhlak kejiwaan, seseorang bertindak dan berbuat atas dasar pokok-pokok berikut ini:  1. Insting (gharizah/naluri).  Insting merupakan seperangkat tabi’at yang dibawa manusia sejak lahir.  Para psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku, misalkan naluri makan, senang dengan lawan jenis (seksual instinct), naluri keibubapakan (cinta orang tua kepada anaknya dan sebaliknya), kesadaran dalam ber-Tuhan, dan naluri mempertahankan diri (berjuangan/combative instinct).  2. Adat kebiasaan....

Sumber Akhlak, Moral dan Etika dan Manfaat Mempelajarinya

Sumber Akhlak, Moral dan Etika dan Manfaat Mempelajarinya Akhlak yang mulia merupakan unsur yang sangat utama di dalam risalah Islamiyah.  Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kata akhlak, moral dan etika yang ketiganya merupakan tingkah laku manusia, hampir sama, namun jika dilihat dari sumbernya, ketiga kata tersebut akan berbeda.  Akhlak bersumber dari agama wahyu. Moral bersumber dari adat istiadat masyarakat. Sementara etika bersumber dari filsafat moral dan akal pikiran.  Dalam kajian ini mengarah pada konseptual akhlak Islami dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadits Nabawi dikomparasikan dengan materi-materi yang sudah berkembang.  Sikap dan prilaku akhlak Islami yang sempurna itu harus berpegang pada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Orang yang paling mengerti tentang pengamalan Al-Qur’an adalah Nabi sendiri. Rasulullah SAW adalah prototipe manusia yang berakhlak sempurna. Allah SWT menyebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Qalam ayat ke 4,  "...

Membahas Teori Pemikiran Wahdatul Wujud

Membahas Teori Pemikiran Wahdatul Wujud Secara historis, teori wahdatul wujud pada mulanya adalah teori yang disusun Ibnu Arabi . Ia lebih bernuansa sufistik ketimbang filsafat.  Banyak penafsiran telah diberikan tentang teori ini, dari yang sangat ekstrem sampai moderat.  Mungkin yang paling ekstrem adalah Ibnu Sab’in yang menyatakan bahwa hanya Tuhan yang eksis sementara selain Tuhan tak ada yang eksis.  Ada lagi yang ekstrem yang menyatakan bahwa seluruh yang berwujud selain Tuhan hanyalah tajalliyat (manifestasi) dari asma’ dan sifat-sifat tuhan.  Namun Mulla Sadra melihat bahwa Yang Ada Sebagai Yang Ada meskipun Satu, namun ia memiliki intensitas yang membentang dari yang nama Yang Ada.  Sifat Yang Ada-nya Tuhan Mutlak, sementara yang ada lain hanya bersifat Yang Ada Dalam Kemungkinan.  Ia persis seperti matahari dan sinarnya. Matahari tentu berbeda dengan sinarnya. Namun dalam masa yang sama, sinar matahari tiada lain adalah matahari itu sendiri. Y...

Sebab Diturunkan Ilmu Laduni

Sebab Diturunkan Ilmu Laduni Sebagaimana yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa untuk mendapatkan Ilmu Laduni, seorang salik hanya berkewajiban membangun " sebab-sebab ".  Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pelaksanaan pengabdian yang hakiki kepada Tuhannya, dengan itu supaya orang tersebut mendapatkan " akibat " yang dijanjikan sebagai pahala dari ibadah yang dilakukan.  Pengabdian itu adalah ibadah yang Ikhlas dalam tataran Iman, bukan sekedar tataran Islam.  Sebagaimana yang diajarkan Allah kepada umat manusia melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah tentang tiga tataran pelaksanaan ibadah, secara Islam, secara Iman dan secara Ihsan.  Hadits Qudsi ini shahih dan diriwayatkan dari Abu Hurairah yang telah berkata:  Pada suatu hari, ketika Rasulullah bersama kaum muslimin, datang seorang lelaki dan bertanya kepada Baginda:  "Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dengan Iman?".  Lalu baginda beliau bersabda: "Hendaklah kamu percaya kepada Al...

Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Kalam, Filsafat, Fikih dan Psikologi Agama

Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Kalam, Filsafat, Fikih dan Psikologi Agama Memadukan antara tasawuf, Ilmu Kalam, filsafat, fiqih, dan Ilmu Kalam sebagai satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan merupakan dengan tujuan pemahaman terhadap masalah keagamaan dapat dipahami dan dimengerti secara utuh.  Sehingga hal itu bisa mengimplementasikan makna-makna yang terkandung dalam ajaran tasawuf dan memberikan  penjelasan secara tepat terhadap istilah-istilah yang dapat menimbulkan kesalahpahaman seperti zuhud, hubbuddunya (cinta dunia) dan lain-lainnya serta memberikan interpretasi baru yang sesuai dengan prinsip-prinsip nilai Ilahiyah yang lurus. a. Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Kalam  Nama lain dari Ilmu Kalam adalah Ilmu Ushuluddin, Ilmu Tauhid, dan Ilmu Aqidah; di dalamnya dibicarakan tentang persoalan - persoalan kalam Tuhan, dengan diiringi dasar-dasar argumentasi aqliyah dan naqliyah.  Penjelasan materi-materi yang tercakup dalam Ilmu Kalam nampaknya tidak menyentuh dzau...

Tentang Maqamat dan Ahwal

Maqamat dan Ahwal  Maqamat . Maqamat adalah jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Maqamat merupakan bentuk jamak mu’annats dari kata maqam yang  secara bahasa berarti kedudukan, pangkat, dan derajat.  Dalam pandangan Ath-Thusi sebagaimana dikutip oleh Rosihan Anwar dan M. Alfatih bahwa maqamat adalah kedudukan hamba (salik) dalam perjalanannya menuju Allah SWT melalui ibadah, kesungguhan melawan rintangan (al-mujahadat), dan latihan-latihan rohani (ar-Riyadhah). Di antara tingkatan maqamat adalah: taubat, zuhud, wara’, faqir, sabar, tawakkal, dan ridho. Secara umum pemahamannya sebagai berikut: 1) Taubat , yaitu memohon ampun disertai janji tidak akan mengulangi lagi.  2) Zuhud , yaitu meninggalkan kehidupan dunia (dalam hal kemaksiatan) dan mengutamakan kebahagiaan di akhirat.  3) Wara’ , yaitu meninggalkan segala yang syubhat (tidak jelas halal haramnya).  4) Faqir , yaitu tidak meminta lebih dari apa yang sudah diteri...

Ilmu Laduni Sebagai Buah Takwa

Ilmu Laduni Sebagai Buah Takwa Allah berfirman:  "Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarimu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS. al-Baqoroh (2); 282)  Kehati-hatian ( al-ihtiyat ) seorang hamba dalam berbuat, menentukan sikap dan memilih jalan hidup yang harus ditempuh, di hadapan Dzat yang ditakuti "yang diyakini setiap saat dapat melihat dan mengetahui dirinya dimanapun berada" serta pengharapannya untuk mendapatkan petunjuk dan hidayah dari-Nya, hal tersebut akan menjadi sumber inspirasi dan ilham yang tiada henti, namun itu manakala ketakutan tersebut hanya disandarkan kepada yang memberi kehidupan, hanya kepada Allah Sang Pemberi Nur kehidupan alam.  Hal tersebut bisa terjadi, karena interaksi dua dzikir telah terkondisikan, sebagai sunnah dan pelaksanaan janji yang tidak teringkari.  "Maka ingatlah kamu kepadaKu, niscaya Aku ingat pula kepadamu ". (QS. 2; 152) Interaksi dua nur walau dipancarkan dari dua sisi yang berbeda,...

Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf

Sejarah Pertumbuhan dan PerkembanganTasawuf  Istilah tasawuf dimasa Nabi SAW tidak ada, demikian pula dimasa para sahabat Nabi SAW dan tabi’in belum ada istilah itu. Istilah tasawuf itu muncul setelah banyaknya buku-buku pengetahuan yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Dan sebenarnya istilah ini berasal dari kata Sufia (Sophia), dalam istilah bahasa Arab berarti kelompok ahli ibadat untuk menyatukan batinnya hanya kepada Allah semata, sebab tujuan semata untuk mengadakan hubungan dengan yang Maha Benar. (Haqiqatul Haqaiq).  Dalam masalah ini belum ada seorang pun pengkaji masalah tasawuf yang sampai dalam batasan ilmiah untuk mengetahui tokoh sufi pertama dalam Islam dan siapa yang meletakkan batu pertama bagi pemikiran tasawuf ini. Tasawuf merupakan sebuah konsep yang tumbuh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, baik dalam segi wacana, perilaku, maupun akidah.  Tasawuf terjadi pada setiap umat dan agama-agama, khususnya Brahmana Hinduisme, filsafat Ilum...

Memahami Pengertian Wahdatul Wujud

Memahami Pengertian Wahdatul Wujud Secara etimologi, wahdatul wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu Wahdat dan al-Wujud.  Wahdat artinya adalah penyatuan, satu, atau sendiri, sedangkan al-wujud artinya ada (eksistens).  Di kalangan ulama klasik ada yang mengartikan wahdah sebagai sesuatu yang zatnya tidak dapat dibagi-bagi. Selain itu al-wahdah digunakan oleh para sufi sebagai suatu kesatuan antara materi dan roh, substansi (hakikat) dan forma (bentuk), antara yang tampak atau lahir dengan yang batin, antara alam dengan Allah, karena alam dan seisinya berasal dari Allah.  Wujudnya makhluk adalah ‘ain wujudnya Khalik . Pada hakikatnya tidak ada perbedaan diantara keduanya.  Kalau dikatakan berlainan dan berbeda wujud makhluk dengan wujud Khalik, itu hanyalah lantaran pendeknya paham dan singkatnya akal dalam mengetahui dan mencapai haqiqat.  Wahdatul Wujud mempunyai pengertian bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki ata...